Senin, 8 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Uni Eropa Perluas Sanksi Minyak Rusia, Pelabuhan Georgia dan Indonesia Terancam

Uni Eropa mengusulkan sanksi dagang kepada pelabuhan di Georgia dan Indonesia karena diduga menangani perdagangan minyak Rusia.

Tayang:
Kantor Presiden Ukraina
PRESIDEN KOMISI EROPA - Foto ini diambil dari website Kantor Presiden Ukraina pada Selasa (25/2/2025), memperlihatkan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, hadir dalam acara peringatan 3 tahun invasi Rusia di Ukraina pada Senin (24/2/2025). - Uni Eropa mengusulkan sanksi dagang kepada pelabuhan di Georgia dan Indonesia karena diduga menangani perdagangan minyak Rusia. 
Ringkasan Berita:
  • Uni Eropa mengusulkan proposal untuk menjatuhkan sanksi terhadap pelabuhan di Georgia dan Indonesia karena diduga terkait dengan perdagangan minyak Rusia.
  • Proposal tersebut, jika disetujui, maka individu Uni Eropa dilarang berdagang dengan kedua pelabuhan tersebut.
  • Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1448 ketika Ukraina meningkatkan upaya untuk memproduksi senjata.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1448 pada Selasa (10/2/2026).

Uni Eropa mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia dengan menargetkan pelabuhan di negara ketiga yang menangani minyak Rusia

Untuk pertama kalinya, pelabuhan di luar Rusia masuk dalam daftar sanksi yang diusulkan.

Dokumen proposal menyebut pelabuhan Kulevi di Georgia dan Karimun di Indonesia akan dimasukkan ke dalam daftar, menurut dokumen yang dipresentasikan pada Senin (9/2/2026). 

Jika disetujui, perusahaan dan individu Uni Eropa dilarang melakukan transaksi dengan kedua pelabuhan tersebut.

Usulan tersebut merupakan bagian dari paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia, lapor Reuters. 

Pada 6 Februari, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan bahwa paket tersebut mencakup pembatasan sektoral dan peralihan dari batas harga G7 ke larangan penuh terhadap layanan maritim untuk minyak mentah Rusia.

"Paket sanksi baru ini mencakup sektor energi, jasa keuangan, dan perdagangan. Di bidang energi, kami memperkenalkan larangan penuh terhadap layanan maritim untuk minyak mentah Rusia," kata Ursula von der Leyen.

Paket kebijakan tersebut juga mencakup larangan baru terhadap impor logam di antaranya batangan nikel, bijih besi dan konsentratnya, tembaga mentah dan olahan, serta skrap aluminium. Larangan ini juga mencakup garam, amonia, kerikil, silikon, dan bulu.

Uni Eropa untuk pertama kalinya menerapkan alat penghindaran sanksi terhadap negara ketiga, yakni Kyrgyzstan, dengan melarang penjualan mesin pemotong logam serta peralatan komunikasi seperti modem dan router.

Baca juga: Sektor Energi Ukraina Diserang Rusia, Zelenskyy Jelaskan Kenapa Tak Membalas

Langkah ini diambil untuk menutup celah dukungan tidak langsung terhadap Rusia.

Selain itu, dua bank Kyrgyzstan diusulkan masuk daftar sanksi karena melayani transaksi kripto ke Rusia, sementara bank dari Laos dan Tajikistan berpotensi menyusul.

Secara keseluruhan, 30 individu dan 64 perusahaan dikenai sanksi, termasuk Bashneft dan sejumlah kilang minyak Rusia, meski Rosneft dan Lukoil tidak masuk dalam daftar tersebut, lapor Suspilne.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina. Aksi tersebut menjadi puncak dari ketegangan panjang yang selama bertahun-tahun membayangi hubungan kedua negara, dipicu oleh pertarungan kepentingan politik, isu keamanan, serta rivalitas geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Akar konflik ini berawal sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, yang membuat Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan orientasi kebijakan yang kian berlawanan. Ukraina perlahan mendekat ke Barat melalui kerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, baik di bidang politik, ekonomi, maupun pertahanan.

Langkah Kiev untuk memperkuat hubungan dengan Barat—termasuk ambisi bergabung dengan NATO dan mempercepat integrasi dengan Uni Eropa—dipandang Moskow sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional Rusia. Ketegangan semakin tajam pada 2014, menyusul Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Rusia.

Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow. Berbagai upaya diplomasi internasional telah ditempuh, namun belum mampu meredakan konflik secara permanen.

Situasi terus memburuk hingga akhirnya Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer skala penuh pada Februari 2022. Rusia menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas, menjaga kepentingan keamanan nasional, serta membendung ekspansi NATO. Namun, langkah ini menuai kecaman keras dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.

Sebagai respons, Barat menjatuhkan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Rusia dan meningkatkan dukungan militer serta bantuan keuangan bagi Ukraina. Hingga kini, perang masih berlangsung, diiringi berbagai upaya diplomasi dan negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan komunitas internasional.

Berikut rangkuman perkembangan terbaru perang Rusia–Ukraina yang dihimpun dari berbagai sumber.

  • Ukraina–Prancis Sepakati Produksi Senjata Bersama

Ukraina dan Prancis mencapai kesepakatan awal untuk memulai produksi persenjataan secara bersama.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan niat antara kedua negara, yang membuka peluang proyek besar di sektor industri pertahanan. 

Namun, hingga kini belum diungkap jenis senjata yang akan diproduksi maupun jadwal dimulainya produksi.

Menteri Pertahanan Ukraina menyatakan kerja sama ini menandai pergeseran strategi dari sekadar menerima bantuan persenjataan menuju produksi bersama yang berkelanjutan.

Dalam pertemuan di Kyiv, kedua pihak juga membahas potensi pengiriman tambahan senjata dari Prancis, termasuk rudal Aster, jet tempur Mirage 2000, serta sistem pertahanan udara SAMP-T.

  • Ukraina Siap Ekspor Senjata Buatan Dalam Negeri

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan rencana pembukaan ekspor senjata produksi Ukraina sebagai langkah memanfaatkan kemajuan teknologi militer selama masa perang. 

Pemerintah Ukraina berencana membuka 10 pusat ekspor senjata di berbagai negara Eropa pada 2026.

Menurut Zelenskyy, ekspor ini akan mencakup drone tempur atau kendaraan udara tanpa awak (UAV). 

Ia menegaskan bahwa keamanan Eropa ke depan akan sangat bergantung pada teknologi, khususnya drone, yang sebagian besar dikembangkan oleh insinyur dan spesialis Ukraina.

  • Serangan Rusia Hantam Fasilitas Naftogaz

Serangan Rusia kembali merusak fasilitas produksi milik perusahaan minyak dan gas negara Ukraina, Naftogaz, di wilayah Poltava dan Sumy. 

Serangan di Poltava terjadi untuk hari kedua berturut-turut, menambah daftar panjang kerusakan infrastruktur energi Ukraina.

Direktur Utama Naftogaz menyebut serangan tersebut merupakan yang ke-20 sejak awal tahun ini. 

Rentetan serangan ini semakin menekan sektor energi Ukraina yang vital bagi kebutuhan domestik dan stabilitas ekonomi negara tersebut.

  • Rusia Cari Alternatif Starlink Usai Akses Dibatasi

Militer Rusia dilaporkan tengah mencari pengganti layanan internet satelit Starlink setelah akses ke jaringan tersebut dibatasi. 

Pembatasan ini mengganggu sistem komunikasi penting yang selama ini digunakan pasukan Rusia secara ilegal di medan perang.

Ukraina menyebut penonaktifan terminal Starlink milik Rusia dilakukan setelah pembicaraan dengan pihak SpaceX. 

Pejabat Kyiv mengatakan langkah tersebut mulai berdampak nyata terhadap operasi Rusia, termasuk pengendalian drone tempur.

  • Helm Atlet Ukraina Dinilai Langgar Aturan Olimpiade

Atlet skeleton Ukraina, Vladyslav Heraskevych, mengungkapkan bahwa helm bergambar warga Ukraina yang tewas dalam perang tidak diizinkan digunakan dalam Olimpiade Musim Dingin 2026. 

Komite Olimpiade Internasional (IOC) menilai helm tersebut melanggar aturan terkait pernyataan politik.

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan IOC di perkampungan atlet. 

Meski dilarang bertanding dengan helm itu, aksi Heraskevych mendapat dukungan dari Presiden Zelenskyy yang memuji upayanya mengingatkan dunia akan dampak perang Ukraina.

  • Inggris Diminta Tinjau Ekspor Mesin ke Armenia

Pemerintah Inggris didesak meninjau ulang kontrak ekspor mesin berteknologi tinggi ke Armenia setelah terungkap adanya dugaan keterkaitan dengan rantai pasok industri militer Rusia

Tekanan ini muncul dari para ahli sanksi dan parlemen Inggris.

Sorotan tertuju pada perusahaan Cygnet Texkimp yang mendapat izin ekspor dari pemerintah. 

Para pengkritik mempertanyakan keputusan tersebut di tengah upaya Barat membatasi akses Rusia terhadap teknologi strategis.

  • Rusia Pesimistis soal Hubungan Ekonomi dengan AS

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan Moskow tetap terbuka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat, namun tidak menaruh harapan besar pada hubungan ekonomi kedua negara. Ia menilai AS masih berorientasi pada dominasi ekonomi global.

Lavrov juga menyinggung sikap Presiden Donald Trump yang dinilai bermusuhan terhadap kelompok BRICS. 

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu faktor yang menghambat prospek hubungan ekonomi Rusia dengan Washington.

  • Rusia Tuduh Ukraina Dalangi Penembakan Jenderal GRU

Dinas Keamanan Federal Rusia mengklaim para pelaku penembakan terhadap pejabat tinggi intelijen militer Rusia mengaku bertindak atas perintah Ukraina

Target serangan adalah Letnan Jenderal Vladimir Alexeyev, wakil kepala badan intelijen militer GRU.

Ukraina membantah tudingan tersebut dan menolak keterlibatan dalam insiden di Moskow. 

Alexeyev dilaporkan telah sadar kembali setelah menjalani operasi akibat luka tembak, lapor Pravda.

  • Rusia Tekan Pokrovsk, Ukraina Bertahan di Donetsk

Pasukan Rusia terus berupaya maju di sekitar kota Pokrovsk, Ukraina timur, sebagai bagian dari kampanye panjang untuk merebut wilayah strategis di Donetsk. 

Militer Ukraina menyebut tekanan Rusia masih berlangsung intensif.

Meski demikian, Kyiv menegaskan pasukannya masih menguasai bagian utara Pokrovsk dan mampu mempertahankan kota Myrnohrad di sekitarnya. 

Pertempuran di kawasan ini menjadi salah satu titik panas terbaru dalam perang yang belum menunjukkan tanda mereda.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved