Iran Vs Amerika Memanas
Di Tengah Perundingan, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS: Ancaman Perang Menguat?
Iran lanjutkan negosiasi nuklir tanpa percaya AS, sementara Washington tambah tekanan dan pertimbangkan opsi serangan jika diplomasi gagal.
Pemerintah juga menyerukan partisipasi publik dalam peringatan Revolusi Islam 1979, sebagai bentuk solidaritas nasional di tengah meningkatnya tekanan internasional.
AS Pertimbangkan Tambah Kapal Induk
Adapun ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menambah tekanan militer di kawasan Timur Tengah.
Dengan membuka pengiriman tambahan kekuatan militer di tengah berlangsungnya perundingan nuklir kedua negara.
Dalam pernyataannya kepada Axios, Trump mengatakan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pengiriman satu kelompok kapal induk tambahan untuk memperkuat kehadiran militer AS di sekitar Iran.
Kapal tersebut direncanakan akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah bersiaga di kawasan sejak Januari.
“Kami memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul,” kata Trump.
Seorang pejabat AS juga mengonfirmasi bahwa pembahasan terkait pengiriman kapal induk kedua memang sedang berlangsung sebagai bagian dari opsi strategis Washington.
Trump menegaskan bahwa opsi serangan militer tetap terbuka apabila negosiasi nuklir dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan.
Meski demikian, ia menyatakan optimistis bahwa Iran kali ini menunjukkan keseriusan lebih besar dalam proses diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah putaran pertama perundingan nuklir Iran-AS digelar di Oman pada 6 Februari lalu. Menurut Trump, putaran kedua negosiasi dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Ia menilai pendekatan Teheran saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama setelah meningkatnya ketegangan militer pada pertengahan 2025, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah konflik dengan Israel.
“Pembicaraan kali ini sangat berbeda,” ujar Trump.
Situasi terbaru menunjukkan hubungan Iran dan AS masih berada dalam fase sensitif.
Kedua negara sama-sama membuka ruang dialog, namun di saat yang sama memperkuat posisi militer masing-masing sebagai langkah antisipasi.
Bagi Iran, sikap tidak percaya terhadap AS menjadi bagian dari strategi politik sekaligus pesan kepada publik domestik bahwa pemerintah tidak akan mudah memberikan konsesi.