Kamis, 11 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Organisasi Inggris: China Berada di Balik Pemadaman Internet di Iran

kemampuan untuk memblokir internet di Iran adalah hasil kerjasama dengan partisipasi dan kerja sama dari otoritas Tiongkok.

Tayang:
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
IBU KOTA IRAN - Bendera Iran di ibu kota mereka, Teheran. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran diguncang gelombang demonstrasi atas krisis multisektor yang terjadi di negara tersebut, mendorong aparat pemerintah melakukan aksi represif yang berujung ancaman Amerika Serikat (AS) untuk turun tangan dengan menyerang pemerintah Iran. 

Article 19: China Berada di Balik Pemadaman Internet di Iran

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh organisasi hak asasi manusia Inggris mengungkapkan kalau kendali Iran atas internet dan kemampuannya untuk memutus akses internet di negara tersebut sebagian besar didasarkan pada teknologi yang diimpor dari China, termasuk alat-alat canggih untuk pengawasan dan pengenalan wajah.

Laporan yang disusun oleh organisasi "Article 19" tersebut menyatakan kalau teknologi-teknologi asal China ini mencakup alat pengenalan wajah, di samping sistem navigasi Tiongkok "Beidou".

Baca juga: Trump Kembali Ancam Iran: AS Kirim Kapal Induk Kedua untuk Menyerang Jika Tak Terjadi Kesepakatan 

Platform ini merupakan alternatif dari sistem penentuan posisi "GPS" ala Amerika.

Laporan lembaga itu menjelaskan kalau kebijakan sensor yang ketat dan peralatan impor "menjadi dasar bagi pertumbuhan sistem sensor yang canggih di Iran, yang memungkinkan pihak berwenang untuk memutus akses negara tersebut, dengan populasi sekitar 93 juta jiwa, dari internet global hampir sepenuhnya selama puncak protes Januari lalu."

Layanan internet di Iran belum kembali ke tingkat sebelumnya, tetapi sekarang tunduk pada sistem sensor yang bersifat sementara yang memungkinkan pengguna mengakses jaringan secara tidak teratur dan terbatas.

Laporan tersebut mencatat kalau kemampuan untuk memblokir internet di Iran adalah hasil dari proyek yang berlangsung selama beberapa dekade yang diimplementasikan dengan partisipasi dan kerja sama dari otoritas Tiongkok.

PROTES DI TEHERAN - Tangkapan layar YouTube Shorts Al Jazeera yang diambil pada Senin (23/6/2025) yang menampilkan Presiden Iran Ikut Gabung Aksi Protes serangan AS di Teheran pada hari Minggu (22/6/2025). Televisi pemerintah menayangkan rekaman saat Pezeshkian berjalan di antara para demonstran, yang mengangkat tangan tinggi dan meneriakkan, “Balas dendam! Balas dendam!” sebagai seruan kepada pemerintah untuk merespons tindakan militer AS secara tegas.
PROTES DI TEHERAN - Tangkapan layar YouTube Shorts Al Jazeera yang diambil pada Senin (23/6/2025) yang menampilkan Presiden Iran Ikut Gabung Aksi Protes serangan AS di Teheran pada hari Minggu (22/6/2025). Televisi pemerintah menayangkan rekaman saat Pezeshkian berjalan di antara para demonstran, yang mengangkat tangan tinggi dan meneriakkan, “Balas dendam! Balas dendam!” sebagai seruan kepada pemerintah untuk merespons tindakan militer AS secara tegas. (Tangkapan layar YouTube Shorts Al Jazeera)

Dimulai Pada 2010

Menurut laporan tersebut, "kontrak yang ditandatangani antara Iran dan China di bidang infrastruktur digital didasarkan pada visi bersama tentang apa yang dikenal sebagai kedaulatan siber," sebuah gagasan yang didasarkan pada pemberian kendali absolut kepada negara atas internet di dalam wilayahnya.

Surat kabar The Guardian mengutip pernyataan penulis laporan tersebut, Michael Custer, yang mengatakan:

"Titik balik paling signifikan dalam perkembangan kekuatan digital di Tiongkok dan Iran terjadi pada tahun 2010, ketika kedua negara mulai mengambil langkah-langkah yang lebih serius untuk menciptakan internet nasional."

Laporan tersebut menyatakan kalau perusahaan-perusahaan Tiongkok memasok Iran dengan kategori utama teknologi pengawasan, termasuk peralatan penyaringan internet dari perusahaan telekomunikasi seperti Huawei dan ZTE, serta teknologi pengawasan dari perusahaan seperti Hikvision dan Tiandi.

Tiandi memasok teknologi pengenalan wajah ke Iran, menyebut dirinya sebagai "perusahaan terbesar ketujuh di dunia di bidang pengawasan," dan memasok teknologi ini kepada cabang-cabang Garda Revolusi dan angkatan darat.

Para peneliti dari Project Enita dan Outline Foundation menambahkan kalau ada kategori ketiga peralatan yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan kecil Tiongkok, yang sebagian besar merupakan alat-alat yang tidak dikenal dengan "kemampuan yang mengkhawatirkan," sehingga menyulitkan para peneliti untuk menentukan bagaimana otoritas Iran menggunakannya untuk memantau pengguna.

Caster mengatakan: "Mereka memperoleh teknologi yang tersedia secara luas, kemudian memodifikasi dan mempersenjatai teknologi tersebut untuk tujuan pengawasan."

 

 
 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved