Konflik Rusia Vs Ukraina
Imbalan Ikut Perang Rusia, Korea Utara Beri Rumah untuk Keluarga Tentara yang Tewas
Kim Jong Un memberikan hadiah apartemen untuk keluarga tentara Korea Utara yang tewas dalam membantu perang Rusia melawan Ukraina.
Ringkasan Berita:
- Kim Jong Un memberikan hunian kepada keluarga tentara Korea Utara yang tewas dalam membantu perang Rusia.
- Hunian tersebut berada di ibu kota Korea Utara, Pyongyang, dengan berbagai fasilitas.
- Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.454 ketika delegasi Ukraina berangkat ke Jenewa untuk melanjutkan pembicaraan dengan Rusia, yang ditengahi Amerika Serikat.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.454 pada Senin (16/2/2026).
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un meresmikan pembukaan Jalan Saebyeol di Pyongyang, yang menjadi akses utama ke apartemen yang dibangun untuk keluarga tentaranya yang tewas dalam perang Rusia.
Korea Utara secara tidak langsung telah mengirim pasukan untuk membantu Rusia pada akhir Oktober 2024, menurut laporan Korean Central News Agency (KCNA).
Kim Jong Un telah menyerahkan akta kepemilikan apartemen dan menasihati keluarga-keluarga tentara yang tewas untuk mengatasi kesedihan mereka secepat mungkin dan menikmati kehidupan di ibu kota.
Menurut siaran pers KCNA, jalan tersebut memiliki bangunan tempat tinggal bertingkat tinggi dan rendah, yang dirancang untuk memastikan kehidupan yang bahagia bagi keluarga para prajurit yang gugur.
"Jalan Saebyeol sebagai sebuah kehormatan bagi satu generasi dan sebuah kebanggaan bagi Pyongyang. Semoga kebahagiaan dan sukacita selalu menyertai keluarga-keluarga yang tinggal di sana," kata Kim Jong Un pada upacara penyerahan pada Minggu (15/2/2026).
Peresmian jalan tersebut meliputi upacara pemotongan pita, sorak sorai yang meriah, penghormatan seremonial, balon yang dihiasi bintang merah berkilauan, dan sebuah konser besar.
Baru-baru ini, intelijen Korea Selatan melaporkan bahwa sekitar 6.000 tentara Korea Utara telah tewas atau terluka saat bertempur di pihak Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Dalam publikasi resmi KCNA, pemerintah Korea Utara mengakui mengirim pasukan ke Rusia pada akhir Oktober 2024.
Pengakuan itu disampaikan melalui pernyataan media pemerintah Korea Utara, termasuk KCNA, yang menyebut pengerahan pasukan dilakukan berdasarkan perjanjian kerja sama militer antara kedua negara.
Sebelumnya, selama beberapa bulan, Pyongyang membantah atau tidak menanggapi laporan dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Ukraina mengenai dugaan pengiriman pasukan tersebut.
Baca juga: Utang Luar Negeri Rusia Rp 1.044 Triliun, Level Tertinggi dalam 20 Tahun Terakhir
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina meletus pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan serangan militer besar ke sejumlah wilayah Ukraina.
Konflik ini bukanlah kejadian mendadak, melainkan akumulasi dari ketegangan panjang yang dipicu persaingan politik, persoalan keamanan, dan perebutan pengaruh di kawasan Eropa Timur.
Permasalahan bermula sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an.
Setelah merdeka, Ukraina dan Rusia mengambil arah kebijakan yang semakin berbeda.
Ukraina secara bertahap membangun hubungan lebih erat dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap posisi dan kepentingannya di kawasan.
Keinginan Ukraina untuk semakin dekat dengan NATO menjadi isu yang sangat sensitif bagi Moskow.
Ketegangan memuncak pada 2014 ketika demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan menjatuhkan pemerintahan yang dianggap pro-Rusia.
Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata terjadi di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.
Upaya diplomasi internasional sempat dilakukan untuk meredakan situasi, namun tidak menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan.
Hingga akhirnya pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer skala penuh.
Rusia menyatakan tindakannya bertujuan melindungi warga di Donbas serta mencegah perluasan NATO di perbatasannya.
Serangan tersebut memicu kecaman luas dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Sejumlah sanksi ekonomi dijatuhkan kepada Rusia, sementara Ukraina memperoleh dukungan militer dan bantuan keuangan dari negara-negara Barat.
Hingga kini, perang masih berlangsung dan berbagai upaya perundingan terus diupayakan untuk mencari jalan keluar dari perang tersebut.
Selengkapnya, berikut berita terbaru mengenai perang Rusia-Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber.
Kepala Kantor Presiden Ukraina Kyrylo Budanov mengumumkan delegasi Ukraina akan menuju Jenewa untuk putaran selanjutnya dari pembicaraan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat (AS), dan Rusia , yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Februari 2026.
Ia mengunggah foto bersama dengan dua anggota lain dari tim negosiasi, yang susunannya disetujui oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 13 Februari, termasuk Wakil Kepala Direktorat Intelijen Utama Vadym Skibitsky dan Wakil Kepala OP Serhiy Kyslytsia.
Pada 14–15 Desember 2025 di Berlin, delegasi Ukraina yang dipimpin Volodymyr Zelensky menggelar pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai rencana perdamaian 20 poin.
Ukraina menyebut pertemuan tersebut produktif dan menunjukkan kemajuan.
Pada 24 Desember, Duta Besar AS untuk NATO menyampaikan bahwa beberapa dokumen dibahas untuk mengukur kesiapan Rusia mengakhiri perang.
Empat hari kemudian, Zelensky bertemu Presiden AS Donald Trump di Mar-a-Lago dan menyepakati rencana perdamaian yang disebut telah 90 persen rampung, termasuk jaminan keamanan.
Rusia turut meninjau dokumen tersebut, namun belum memberikan persetujuan tegas.
Pembicaraan trilateral antara Ukraina, AS, dan Rusia kemudian berlangsung pada 23–24 Januari di Abu Dhabi, dilanjutkan negosiasi pada 4–5 Februari yang membahas mekanisme gencatan senjata dan pemantauan penghentian konflik.
Isu utama yang tetap krusial adalah wilayah Donetsk dan Luhansk. Putaran berikutnya dijadwalkan pada 17–18 Februari di Jenewa, dengan kemungkinan membahas gencatan senjata sektor energi.
Menjelang pertemuan tersebut, Zelensky juga berkonsultasi dengan perwakilan Presiden AS guna mematangkan posisi Ukraina dalam negosiasi, lapor Suspilne.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa Ukraina sedang menyiapkan paket sanksi baru terhadap warga negara Rusia yang mendukung perang dan menggunakan olahraga untuk tujuan militer.
"Kami sedang menyiapkan paket sanksi baru terhadap individu-individu Rusia yang bekerja untuk perang dan menggunakan olahraga untuk kepentingan perang. Dokumen-dokumennya sudah disiapkan," kata Zelenskyy.
Zelenskyy menekankan bahwa paket pembatasan yang diterapkan Ukraina ini harus menjadi "sinyal" bagi dunia.
"Ini adalah sinyal bahwa kita tidak bisa begitu saja menutup mata terhadap dukungan terhadap agresi. Ketika warga Ukraina di Olimpiade dilarang untuk mengenang para korban agresi Rusia, ini jelas merupakan kemunduran global dari keadilan. Kita akan menegakkan keadilan. Dekrit tentang sanksi akan segera dikeluarkan," tegas Zelenskyy.
Pada 9 Februari, atlet skeleton Ukraina Vladislav Geraskevych muncul untuk latihan di lintasan Olimpiade dengan mengenakan helm "khusus". Helm tersebut memperlihatkan foto-foto atlet Ukraina yang tewas dalam serangan Rusia.
Setelah latihan, Geraskevych mengatakan dalam komentar eksklusif kepada Suspilne Sport bahwa ia mengalami "masalah tertentu" karena helm tersebut.
Vladislav Geraskevych didiskualifikasi setelah pertemuan dengan Presiden IOC Kirsty Coventry.
Presiden komite tersebut mencoba membujuk atlet skeleton Ukraina itu untuk mengubah pendiriannya tentang "helm kenangan" dan tidak memakainya di lapangan olahraga selama kompetisi itu sendiri, tetapi ia menolak.
Ia menerima surat dari Federasi Bobsleigh dan Skeleton Internasional yang menyatakan bahwa ia melanggar aturan karena menggunakan “helm memori” yang dianggap bertentangan dengan Piagam Olimpiade. IOC menegaskan bahwa diskualifikasi tersebut bukan karena isi pesannya, melainkan karena lokasi demonstrasi dilakukan di area kompetisi.
Geraskevych kemudian memberikan pernyataan kepada media dan berencana menggugat keputusan tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun pada 13 Februari, CAS menolak gugatannya dengan alasan kebebasan berekspresi tidak berlaku di tempat penyelenggaraan pertandingan. Meski demikian, Presiden Zelensky tetap menganugerahkan Geraskevych penghargaan Order of Freedom.
-
Serangan Drone Ukraina Sebabkan Kebakaran
Para pejabat Rusia mengatakan serangan drone Ukraina memicu kebakaran di salah satu pelabuhan Laut Hitam Rusia.
Dua orang terluka dalam serangan di pelabuhan Taman di wilayah Krasnodar, yang merusak tangki penyimpanan minyak, gudang, dan terminal, menurut gubernur regional Veniamin Kondratyev.
Sementara itu, puing-puing yang berjatuhan dari drone Rusia merusak infrastruktur sipil dan transportasi di wilayah Odesa Ukraina, kata para pejabat, mengganggu pasokan listrik dan air.
Serangan itu terjadi menjelang putaran pembicaraan lain yang dimediasi AS antara utusan dari Rusia dan Ukraina pada hari Selasa dan Rabu di Jenewa, beberapa hari sebelum peringatan keempat invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 24 Februari.
-
Ukraina dan Sekutu Eropa Sepakati Paket Bantuan Baru
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya dan sekutu-sekutu Eropa menyepakati paket dukungan energi dan militer baru untuk Kyiv paling lambat 24 Februari 2026.
Sebelumnya, setelah pertemuan yang disebut Format Berlin yang dihadiri sekitar selusin pemimpin Eropa di Munich, Zelenskyy mengatakan ia berharap mendapatkan dukungan baru, termasuk rudal pertahanan udara.
"Saya berterima kasih kepada mitra kami atas kesediaan mereka untuk membantu, dan kami mengandalkan semua pengiriman tiba tepat waktu," kata Zelenskyy, Minggu (15/2/2026), menambahkan bahwa Rusia telah meluncurkan sekitar 1.300 drone serang, 1.200 bom udara berpemandu, dan puluhan rudal balistik ke Ukraina hanya dalam seminggu terakhir.
-
Pejabat Uni Eropa Kritik Rusia
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan Rusia berharap untuk memenangkan secara diplomatik apa yang gagal dicapai di medan perang.
Ia menyebut Rusia mengandalkan Amerika Serikat (AS) untuk memberikan konsesi di meja perundingan.
Namun, Kallas mengatakan kepada Konferensi Keamanan Munich di Jerman pada hari Minggu bahwa tuntutan utama Rusia – termasuk pencabutan sanksi dan pencairan aset – adalah keputusan bagi Eropa.
“Jika kita menginginkan perdamaian yang berkelanjutan, maka kita juga membutuhkan konsesi dari pihak Rusia,” katanya, dikutip dari The Guardian.
-
Tegas, Ukraina Ingin Mendapat Jaminan Keamanan
Berbicara di konferensi Munich, Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai jaminan keamanan masa depan bagi negaranya.
Ia juga mempertanyakan bagaimana konsep zona perdagangan bebas – yang diusulkan oleh AS – akan berfungsi di wilayah Donbas, yang menurut Rusia harus diserahkan Kyiv demi perdamaian.
Ia mengatakan kepada konferensi tersebut bahwa Amerika menginginkan perdamaian secepat mungkin dan tim AS ingin menandatangani semua perjanjian tentang Ukraina secara bersamaan, sedangkan Ukraina menginginkan jaminan keamanan masa depan negara itu ditandatangani terlebih dahulu.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Korea-Utara-Kim-Jong-Un-erwr353453452345323.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.