Dewan Perdamaian
Cendekiawan Muslim Filipina Ingatkan Indonesia Gabung Dewan Perdamaian: Hati-hati Kedok Israel
Wadi memberikan penilaian yang sangat kritis terhadap inisiatif perdamaian di Gaza yang digagas pemerintahan Donald Trump.
Ringkasan Berita:
- Dekan Institut Studi Islam di Universitas Filipina Diliman, Julkipli Wadi, memberikan analisisnya mengenai keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian gagasan Trump
- Dia mengatakan bahwa dewan tersebut adalah kedok politik yang melindungi agresi regional Israel.
- Dia berpendapat bahwa inisiatif tersebut justru melegitimasi kejahatan Israel yang sedang berlangsung di Gaza, alih-alih menghentikan perang.
TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Piece/BoP) gagasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump jadi sorotan internasional.
Terlebih Indonesia disebut akan menjadi negara pertama anggota BoP yang akan mengirim ribuan tentara penjaga perdamaian di Gaza, Palestina.
Di tengah kontroversi itu, media Iran Tehran Times, Kamis (18/2/2026), berbicara dengan Julkipli Wadi, Dekan Institut Studi Islam di Universitas Filipina Diliman.
Dikenal salah satu cendekiawan Islam di Asia Tenggara, Wadi memberikan penilaian yang sangat kritis terhadap inisiatif perdamaian di Gaza yang digagas pemerintahan Donald Trump.
Dia berpendapat bahwa inisiatif tersebut justru melegitimasi kejahatan Israel yang sedang berlangsung di Gaza, alih-alih menghentikan perang.
Berikut petikan wawancara dengan Julkipli Wadi:
Bagaimana Anda menilai tujuan dari rencana perdamaian Gaza oleh pemerintahan Trump, khususnya pembentukan Dewan Perdamaian?
Terus terang saja sebenarnya tidak ada tujuan lain selain memakukan paku terakhir kolonialisme pemukim Israel di Gaza setelah hampir tiga tahun genosida.
"Rencana perdamaian" Trump adalah penyamaran besar, strategi perang yang keji yang disamarkan sebagai inisiatif "perdamaian".
Ini untuk menyelamatkan rencana Netanyahu (PM Israel Benjamin Netanyahu) yang tanpa jalan keluar dan yang terpenting untuk menutupi kejahatan Israel yang tak terbayangkan terhadap rakyat Gaza dan seluruh Palestina.
Baca juga: Mengenal Korpasgat, Pasukan Khusus TNI AU yang Akan Dikirim ke Gaza
Inilah alasan mengapa Netanyahu tidak menyampaikan protes keras terhadap Trump. Terlepas dari kenyataan bahwa Trump mengalihkan kesalahan dunia kepada Netanyahu.
Retorika “perdamaian” Trump ini memberikan kelonggaran bagi IDF di Gaza, memungkinkan mereka untuk memperluas serangan militer dan operasi lainnya di Tepi Barat, Yerusalem Timur, Lebanon, dan Suriah.
Dewan Perdamaian yang terlalu dibesar-besarkan, yang diketuai oleh Trump, sebenarnya adalah "dewan beban" sebuah istilah mewah untuk sesuatu yang tidak berguna karena Israel, khususnya IDF, tetap tidak terkendali dalam perang genosida pemusnahan terhadap rakyat Gaza yang tak berdaya.
Dewan Perdamaian, jika memang ada, adalah tim impian Trump untuk membangun kawasan perumahan mewah, Riviera di Gaza, sementara rencana eksplorasi minyak dan pembangunan vila serta perumahan mewah sedang berlangsung di Gaza Utara dekat Sderot, wilayah pendudukan di Israel Selatan.
Apa signifikansi dari pengerahan pasukan Indonesia ke Gaza sebagai bagian dari inisiatif Dewan Perdamaian, mengingat dukungan historisnya terhadap kedaulatan Palestina?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Momen-Presiden-Prabowo-Subianto-menjabat-tangan-Presiden-AS-Donald-Trump.jpg)