Rusia Sebut Barat Bajak Laut, Ancam Terabas Blokade dan Penahanan Kapal Tanker
Angkatan Laut Rusia akan menggagalkan setiap upaya negara-negara Barat untuk memberlakukan blokade laut terhadap Moskow
Ia menegaskan bahwa Dewan Maritim Rusia tengah merumuskan langkah-langkah respons, dengan menempatkan Angkatan Laut sebagai penjamin utama keselamatan navigasi dan perlindungan kepentingan ekonomi nasional di laut.
Menurutnya, kekuatan militer laut Rusia harus hadir secara signifikan di jalur pelayaran utama, termasuk di kawasan yang jauh dari wilayah nasional.
Namun, Patrushev mengakui bahwa saat ini Angkatan Laut Rusia menghadapi tekanan tinggi dalam menjalankan tugas pengamanan perdagangan maritim.
Ia menilai Rusia membutuhkan lebih banyak kapal untuk operasi di zona laut jauh dan samudra, yang mampu beroperasi mandiri dalam jangka panjang.
Dalam pandangannya, dari seluruh matra angkatan bersenjata, angkatan laut merupakan instrumen geopolitik paling efektif dan fleksibel, baik pada masa damai maupun konflik bersenjata.
Keberadaan armada laut yang kuat, kata dia, menjadi prasyarat bagi keberlangsungan ekspor minyak, gandum, dan pupuk Rusia.
Sejalan dengan itu, Dewan Maritim memasukkan kebutuhan penguatan armada ke dalam program pembangunan kapal Angkatan Laut hingga 2050.
Rusia, lanjut Patrushev, membutuhkan armada yang seimbang, adaptif terhadap tuntutan teknologi, dan mampu menjawab tantangan geopolitik baru.
Ia juga menyoroti situasi di Laut Baltik yang disebutnya semakin kompleks, dengan NATO dinilai membentuk kelompok multinasional yang berorientasi ofensif.
Patrushev menuding terdapat skenario blokade terhadap wilayah Kaliningrad, penyitaan kapal dagang, serta potensi sabotase terhadap infrastruktur komunikasi bawah laut.
Sebagai langkah awal, Rusia akan mengedepankan mekanisme politik-diplomatik dan hukum internasional.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika penyelesaian damai tidak tercapai, Angkatan Laut Rusia akan mengambil tindakan untuk mematahkan setiap bentuk blokade.
“Laut kembali menjadi arena konfrontasi militer, dan praktik lama diplomasi kapal perang muncul kembali,” ujarnya, merujuk pada dinamika di Venezuela dan sekitar Iran.
Meski demikian, Patrushev menilai dominasi Barat atas lautan global yang berlangsung hingga awal abad ini kini mulai memudar. Rusia, bersama mitra-mitranya, disebut tengah mendorong terbentuknya tatanan dunia multipolar, termasuk dalam pengelolaan dan keamanan samudra global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kapal-perang-amarika-masih-berada-di-perairan-laut-mediterania_20240115_145411.jpg)