Rabu, 15 April 2026

Top Rank

10 Tanaman Pangan yang Paling Banyak Dipanen di Dunia, Ada Beras hingga Singkong

Berikut ini 10 tanaman pangan yang paling banyak dipanen di dunia. Ada tebu, beras hingga kentang.

Dok. Kementan
PRODUKSI BERAS NASIONAL - Produksi beras nasional tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dan mendekati proyeksi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA). Berikut ini 10 tanaman pangan yang paling banyak dipanen di dunia. Ada tebu, beras hingga kentang. 
Ringkasan Berita:
  • Data FAO 2024 menunjukkan tebu menjadi tanaman dengan produksi terbesar dunia sebesar 1,94 miliar ton per tahun, melampaui jagung, beras, dan gandum.
  • Produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,71 juta ton dengan stok awal 2026 sebesar 3,3 juta ton dan diproyeksikan naik, namun kapasitas gudang Bulog masih perlu ditambah.
  • Surplus beras mendorong rencana ekspor 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi untuk kebutuhan Haji dan Umrah sebagai langkah masuk pasar pangan global.

TRIBUNNEWS.COM - Kebutuhan pangan menjadi kebutuhan paling krusial bagi keberlangsungan kehidupan penduduk dunia. 

Banyaknya produksi tanaman pangan juga menjadi penanda bahwa komoditas tersebut dibutuhkan. 

Diketahui tebu menjadi peringkat pertama tanaman pangan yang banyak dipanen di dunia.

Hampir 2 miliar metrik ton tebu dipanen setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya tanaman dengan produksi terbesar di Bumi dengan selisih yang sangat jauh dibanding komoditas lainnya.

Data terbaru tahun 2024 yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan skala produksi tanaman global, memperlihatkan perbandingan antara pangan pokok dan tanaman komersial utama.

Visualisasi tersebut menegaskan bahwa sektor pertanian global tidak hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga industri besar seperti biofuel, pemanis, hingga makanan olahan.

Berikut 10 tanaman dengan produksi terbesar di dunia pada 2024, mengutip Visual Capitalists, Jumat (20/2/2026):

Baca juga: 10 Negara Terbaik dalam Berpikir Kreatif di Dunia, Nomor Satu Ada Tetangga Indonesia

  1. Tebu – 1,94 miliar metrik ton
  2. Jagung – 1,22 miliar ton
  3. Beras – 820 juta ton
  4. Gandum – 798 juta ton
  5. Kelapa sawit – 418 juta ton
  6. Kacang kedelai – 397 juta ton
  7. Kentang – 390 juta ton
  8. Singkong segar – 341 juta ton
  9. Bit gula – 293 juta ton
  10. Tomat – 188 juta ton

Tebu menempati posisi teratas dengan volume produksi mencapai 1,94 miliar ton, jauh melampaui jagung di posisi kedua.

Sementara itu, beras dan gandum, dua bahan pangan pokok terpenting dunia, masing-masing diproduksi lebih dari 800 juta ton per tahun.

Besarnya produksi ini mencerminkan peran strategis sektor pertanian dalam menjaga stabilitas pangan global sekaligus mendukung rantai industri internasional.

Stok Beras Nasional Melimpah

Di Indonesia, tren produksi beras juga menunjukkan peningkatan signifikan.

Sepanjang 2025, produksi beras nasional mencapai 34,71 juta ton.

Kondisi ini membuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog pada Februari 2026 menyentuh 3,3 juta ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkirakan dalam tiga bulan ke depan stok beras dapat menembus 6 juta ton.

Namun, kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia saat ini hanya sekitar 3 juta ton.

Untuk mengantisipasi lonjakan stok, Bulog telah menyewa tambahan gudang berkapasitas 1 juta ton.

Meski demikian, peningkatan produksi yang sangat cepat membuat kebutuhan ruang penyimpanan diperkirakan masih akan bertambah dan memerlukan dukungan anggaran tambahan.

Baca juga: 10 Negara di Dunia Paling Bergantung pada Impor: Indonesia Masuk Daftar?

Dari Swasembada Menuju Ekspor Beras Premium

Melimpahnya stok beras membuka peluang ekspor baru bagi Indonesia.

Bulog mulai menjajaki pengiriman beras premium melalui produk Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah Haji dan Umrah.

Penjajakan dilakukan lewat business matching di Jeddah yang mempertemukan Bulog dengan importir dan penyedia katering haji.

Produk beras premium Indonesia mendapat respons positif karena teksturnya pulen, aromanya baik, dan sesuai selera konsumen setempat.

Pemerintah telah menetapkan rencana pengiriman awal sebanyak 2.280 ton pada minggu ketiga Februari 2026.

Langkah ini menjadi pintu masuk Indonesia dalam rantai pasok pangan untuk sektor Haji dan Umrah di Arab Saudi.

Dengan swasembada yang telah tercapai, impor yang ditekan, serta ekspor yang mulai dibuka, sektor pangan nasional kini bukan hanya menjadi penopang ketahanan dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di pasar global.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati) 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved