Iran Vs Amerika Memanas
AS Kejar Kesepakatan Komprehensif dengan Iran, PBB Serukan Negosiasi Serius
AS terus negosiasi dengan Iran. Trump incar kesepakatan besar cegah nuklir, sementara PBB mendesak diplomasi agar konflik tak meluas
Ringkasan Berita:
- Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Donald Trump menginginkan kesepakatan komprehensif dengan Iran untuk memastikan negara itu tidak memiliki senjata nuklir
- Negosiasi masih berlangsung meski terkendala rendahnya kepercayaan
- Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak diplomasi guna mencegah eskalasi konflik
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan Presiden Donald Trump menginginkan kesepakatan “komprehensif” dengan Iran, bukan sekadar kesepakatan terbatas.
Pernyataan itu disampaikan Vance saat berbicara dalam acara yang digelar oleh Turning Point USA di Georgia, Selasa (15/4/2026) waktu setempat.
Menurut Vance, negosiasi antara AS dan Iran masih terus berlangsung dan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas termasuk gencatan senjata sementara yang telah berjalan sekitar satu pekan terakhir.
“Presiden ingin membuat kesepakatan besar. Pada dasarnya, yang ditawarkan kepada Iran sangat sederhana: jika Anda siap bertindak seperti negara normal, kami siap memperlakukan Anda secara ekonomi seperti negara normal,” ujar Vance seperti dikutip dari Anadolu.
Ia menegaskan bahwa Trump tidak menginginkan kesepakatan sempit, melainkan perjanjian yang menyeluruh, terutama untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Baca juga: Kenapa Dukungan Trump dan JD Vance Gagal Selamatkan Sekutu Mereka dalam Pemilu Hungaria?
Negosiasi Masih Berjalan
Vance menyebut, belum tercapainya kesepakatan hingga saat ini justru karena keinginan pemerintah AS untuk mendapatkan hasil yang benar-benar kuat dan berkelanjutan.
“Alasan kesepakatan belum tercapai adalah karena presiden ingin memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku tetap optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai.
“Kami akan terus melanjutkan negosiasi. Ini akan sangat baik bagi dunia, bagi negara kami, dan bagi semua pihak,” lanjutnya.
Vance mengakui bahwa proses negosiasi tidak mudah karena masih adanya tingkat ketidakpercayaan yang tinggi antara kedua negara.
“Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dalam semalam,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun ada tantangan, kedua pihak dinilai memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan.
Pemerintah AS pun, kata dia, tetap berkomitmen untuk bernegosiasi dengan itikad baik.
Selain itu, Vance juga menyinggung dinamika domestik di AS, termasuk pandangan generasi muda yang dinilai kurang mendukung sebagian kebijakan pemerintah terkait kawasan Timur Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ASPBB1111.jpg)