Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump: Iran Sedang Kembangkan Rudal yang Ancam AS dan Eropa

Dalam pidato kenegaraan, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran sedang mengembangkan rudal yang ancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri.

Tangkapan layar YouTube NBC News
TRUMP BERPIDATO - Tangkapan layar YouTube NBC News, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Kongres AS pada Selasa (24/2/2026). 

Pernyataan Trump bertentangan dengan pernyataan utusan AS Steve Witkoff awal pekan ini yang mengatakan Iran mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk mengembangkan senjata nuklir.

Amerika Serikat telah mengerahkan aset militer terbesar ke Timur Tengah sejak perang di Irak.

Trump mengatakan preferensinya adalah menyelesaikan kebuntuan dengan Iran melalui diplomasi, tetapi mengatakan Iran belum berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: Kita tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Para pejabat Iran berulang kali membantah tuduhan AS bahwa negaranya berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Iran mengatakan bahwa program nuklir mereka hanya untuk penggunaan sipil. 

“Iran dalam keadaan apa pun tidak akan mengembangkan senjata nuklir," tulis Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah unggahan di X jam sebelum pidato Trump.

MENLU IRAN - Foto ini diambil dari laman Presiden Rusia pada Kamis (7/8/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat dalam foto) di Moskow pada 23 Juni 2025.
MENLU IRAN - Foto ini diambil dari laman Presiden Rusia pada Kamis (7/8/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat dalam foto) di Moskow pada 23 Juni 2025. (Foto: Sergei Karpukhin, TASS/Kremlin)

Perundingan AS dan Iran soal Kesepakatan Program Nuklir

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan guna menghindari bentrokan militer dengan Amerika Serikat semakin terbuka, menjelang putaran ketiga perundingan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).

"Kita memiliki kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial. 

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ancaman militer dari Presiden Donald Trump serta pengerahan pasukan AS di kawasan. 

Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan, termasuk yang terbatas, akan dianggap sebagai tindakan agresi dan akan dibalas tegas.

Araghchi menegaskan Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, tetapi tetap mempertahankan hak untuk memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. 

Sebelumnya, kedua negara telah menggelar lima putaran perundingan nuklir tahun lalu, namun terhenti setelah serangan Israel yang memicu perang selama 12 hari, lapor France24.

Apa Itu Perjanjian Nuklir Iran dan AS?

Perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015 adalah kesepakatan antara Iran dan enam negara besar dunia (AS, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China). 

Dalam perjanjian itu, Iran setuju membatasi program nuklirnya agar tidak bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved