Senin, 13 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy Akan Tunjuk Perwakilan Baru Ukraina di Belarusia

Presiden Ukraina Zelenskyy sebut kementerian luar negerinya akan tunjuk perwakilan baru untuk negaranya di Belarusia, negara yang dekat dengan Rusia.

Website Presiden Ukraina
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Senin (23/2/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 18 Februari 2026. (© Press Service Of The President Of Ukraine / YPV.2026). -- Zelenskyy sebut kementerian luar negerinya akan tunjuk perwakilan baru untuk negaranya di Belarusia, negara yang dekat dengan Rusia. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan mantan Menteri Luar Negeri Pavlo Klimkin untuk membahas strategi kebijakan luar negeri Ukraina.
  • Ia menegaskan pentingnya memperkuat representasi kepentingan Ukraina di negara-negara yang berada di bawah pengaruh Rusia atau memiliki keterbatasan kebebasan.
  • Ukraina juga menyiapkan perubahan personel diplomatik serta pengangkatan Perwakilan Khusus untuk Belarus dan komunitas Belarusia di Eropa.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1466 pada Sabtu (28/2/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggelar pertemuan dengan mantan Menteri Luar Negeri Ukraina, Pavlo Klimkin, untuk membahas arah dan strategi kebijakan luar negeri Kyiv di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.

Dalam pidato malamnya pada 27 Februari, Zelenskyy mengungkapkan bahwa diskusi tersebut menyoroti pentingnya memperkuat representasi kepentingan Ukraina, baik melalui jalur diplomasi resmi maupun pendekatan publik di berbagai negara.

Ia menekankan perlunya kehadiran yang lebih aktif, terutama di negara-negara dengan ruang kebebasan terbatas atau yang berada dalam lingkup pengaruh Rusia.

Menurut Zelenskyy, pemerintah tengah menyiapkan langkah konkret berupa perombakan di jajaran korps diplomatik.

Kementerian Luar Negeri juga sedang menyusun kandidat untuk mengisi posisi Perwakilan Khusus untuk Belarus serta komunitas diaspora Belarusia di Eropa.

“Akan ada perubahan personel di korps diplomatik. Kami membutuhkan kebijakan yang lebih aktif,” tegas Zelenskyy, Jumat (27/2/2026), lapor Pravda.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya Ukraina memperkuat posisi internasionalnya sekaligus memperluas dukungan global di tengah tantangan kawasan yang semakin kompleks.

Baca juga: Rusia, Ukraina, AS akan Lanjutkan Pertemuan di Abu Dhabi pada Awal Maret

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022. Pada hari itu, Rusia melancarkan serangan besar ke sejumlah kota di Ukraina. Dentuman artileri dan pergerakan pasukan darat menandai bahwa ketegangan panjang antara kedua negara akhirnya berubah menjadi perang terbuka.

Sebenarnya, benih konflik sudah muncul sejak Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina perlahan menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas wilayah Soviet.

Situasi makin memanas pada 2014 saat terjadi demonstrasi besar di ibu kota Kyiv, yang dikenal sebagai Revolusi Maidan. Perubahan pemerintahan Ukraina yang cenderung pro-Barat memicu reaksi keras dari Rusia. Tak lama kemudian, Rusia mencaplok wilayah Krimea. Di kawasan Donbas, pertempuran pun pecah antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Berbagai upaya damai sempat dilakukan, tetapi tidak mampu menghentikan konflik secara permanen. Hingga akhirnya, pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina.

Rusia menyatakan tindakannya bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas dan mencegah perluasan NATO. Namun, banyak negara mengecam serangan tersebut. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta meningkatkan bantuan militer dan keuangan bagi Ukraina.

Di tengah perang yang masih berlangsung, berbagai upaya perundingan terus dilakukan, dengan AS sebagai penengah yang mendorong Rusia-Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Drone Rusia di Dekat Kapal Induk Prancis

Militer Swedia memastikan bahwa drone yang mereka hentikan di dekat kapal induk Prancis minggu ini memang milik Rusia.

Kejadian ini menambah kekhawatiran bahwa Rusia sedang menjalankan taktik perang hibrida terhadap negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina.

Drone tersebut diblokir oleh kapal angkatan laut Swedia sekitar 13 kilometer dari kapal induk Prancis Charles de Gaulle saat berada di perairan Oresund, di antara Denmark dan Swedia.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan bahwa jika benar Rusia terlibat, maka tindakan itu merupakan provokasi yang tidak masuk akal.

Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut pernyataan tersebut sebagai tuduhan yang absurd.

Insiden ini terjadi setelah Rumania juga mengerahkan jet tempur karena drone Rusia masuk ke wilayah udaranya saat serangan ke Ukraina.

Beberapa negara NATO di Eropa Timur juga melaporkan peningkatan aktivitas drone dalam beberapa bulan terakhir dan menduga Rusia sebagai pihak di baliknya.

  • Peringatan Denmark soal Ancaman Rusia

Dinas intelijen Denmark memperingatkan bahwa kekuatan asing mungkin mencoba memengaruhi pemilih menjelang pemilu 24 Maret.

Mereka menyebut Denmark menjadi target utama Rusia karena dukungannya terhadap Ukraina.

Intelijen kepolisian dan militer Denmark menyatakan bahwa pemilu bisa diwarnai penyebaran informasi palsu dan serangan siber.

Perdana Menteri Mette Frederiksen mengatakan ancaman dari Rusia menjadi salah satu risiko terbesar bagi negaranya.

  • Orbán dan Isu Ukraina jelang pemilu Hungaria

Menurut sejumlah analis, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menggunakan isu Ukraina untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah dalam negeri seperti layanan sosial yang memburuk, biaya hidup yang naik, dan ekonomi yang stagnan menjelang pemilu April.

Pemerintahannya bahkan memakai teknologi AI untuk membuat poster yang menampilkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan pejabat Uni Eropa.

Slogan dalam iklan itu berbunyi, “Pesan kami kepada Brussel: Kami tidak akan membayar!”, yang juga disebarkan lewat radio, televisi, dan media sosial.

  • Ukraina dan Slovakia Bahas Sengketa Jalur Pipa Minyak Rusia

Ukraina dan Slovakia sepakat akan mengadakan pertemuan langsung untuk membahas sengketa jalur pipa minyak Rusia yang mengalir ke Slovakia dan Hungaria.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico dan Viktor Orbán menuduh Zelenskyy melakukan “pemerasan” terkait jalur pipa tersebut.

Ukraina menyatakan pipa Druzhba rusak akibat serangan udara Rusia pada 27 Januari. 

Namun, Slovakia dan Hungaria mengatakan pipa itu sudah diperbaiki.

Di tengah perselisihan ini, Orbán juga memblokir pinjaman darurat Uni Eropa untuk Ukraina.

  • Gencatan Senjata Lokal di PLTN Zaporizhzhia

Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency) mengumumkan telah menengahi gencatan senjata sementara antara Rusia dan Ukraina.

Kesepakatan ini memungkinkan pemulihan pasokan listrik cadangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, mengatakan ini adalah gencatan senjata lokal kelima yang berhasil mereka negosiasikan sejak perang dimulai.

  • 55 Warga Ghana Tewas dalam Perang Dukung Rusia

Setidaknya 55 warga Ghana dilaporkan tewas setelah diduga “dipancing” untuk ikut berperang di pihak Rusia.

Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, mengatakan bahwa sejak 2022 ada 272 warga Ghana yang diyakini direkrut. Dari jumlah itu, sekitar 55 orang meninggal dan dua orang menjadi tawanan perang.

Belakangan ini, makin banyak laporan tentang pria-pria Afrika yang dijanjikan pekerjaan di Rusia, tetapi kemudian dikirim ke medan perang di Ukraina. Hal ini memicu ketegangan antara Rusia dan beberapa negara Afrika.

Rusia membantah merekrut warga Afrika secara ilegal. Sementara itu, Ukraina menyebut lebih dari 1.780 warga Afrika dari 36 negara saat ini bertempur di pihak militer Rusia.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved