Selasa, 9 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

22 Tewas dan 120 Luka dalam Protes di Pakistan Usai Khamenei Tewas, Texas Diguncang Penembakan

Kematian Khamenei picu krisis global: Pakistan berdarah, Texas diguncang penembakan massal.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi

Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, menyampaikan “duka mendalam atas kesyahidan” Khamenei dan menyampaikan belasungkawa kepada Iran.

“Pakistan berdiri bersama bangsa Iran dalam momen duka ini dan turut merasakan kehilangan mereka.,” demikian pernyataan resmi dari kantornya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi menyerukan ketenangan. Ia meminta masyarakat tidak main hakim sendiri dan menyalurkan protes secara damai.

Baca juga: China Punya Kepentingan Vital di Iran, Kutuk Serangan AS-Israel yang Tewaskan Khamenei

Demonstrasi Meluas ke Sejumlah Kota

Di Islamabad, aparat menembakkan gas air mata dan menggunakan tongkat untuk membubarkan ratusan demonstran yang berusaha menuju Kedutaan Besar AS di kawasan diplomatik.

Di Peshawar dan Lahore, massa juga mencoba mendekati konsulat AS, memicu bentrokan berulang dengan aparat. Namun di Multan, aksi berlangsung relatif damai dengan massa meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel.

Kedutaan Besar AS di Pakistan menyatakan sedang memantau situasi di konsulat Karachi dan Lahore, serta menyerukan warganya untuk menghindari kerumunan dan tetap waspada.

Situasi keamanan di sejumlah kota Pakistan kini diperketat menyusul kekhawatiran gelombang protes lanjutan atas kematian Khamenei dapat kembali memicu kerusuhan.

Penembakan di Austin, Texas

Penembakan massal di Austin, Texas, yang menewaskan dua orang dan melukai 14 lainnya kini tengah diselidiki FBI sebagai kemungkinan aksi terorisme.

“Ada indikator pada pelaku dan kendaraannya yang menunjukkan potensi keterkaitan dengan terorisme,” ujar Alex Doran, Acting Special Agent in Charge FBI.

Empat sumber yang mengetahui penyelidikan mengungkapkan kepada NBC News bahwa pelaku telah diidentifikasi sebagai Ndiaga Diagne, 53 tahun, warga negara AS naturalisasi asal Senegal.

Catatan publik menunjukkan ia memiliki riwayat tinggal di San Antonio dan New York.

Meski demikian, penyidik juga menelusuri kemungkinan adanya kaitan dengan masalah kesehatan mental.

Hingga kini, aparat menegaskan bahwa pelaku bertindak sendiri dan tidak memiliki hubungan dengan aktor negara manapun.

Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah serangan udara AS terhadap Iran, memunculkan pertanyaan apakah ada keterkaitan antara kedua peristiwa tersebut.

Pemerintah AS bahkan telah mengeluarkan peringatan global agar warga Amerika waspada terhadap potensi aksi balasan.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved