Iran Vs Amerika Memanas
Pakar: Eskalasi Perang Iran vs AS-Israel Bisa Jadi Permasalahan Warga di Berbagai Negara
Hikmahanto Juwana menyatakan, eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel bisa menyebabkan permasalahan warga di berbagai negara.
Ringkasan Berita:
- Eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel bisa menyebabkan permasalahan warga di berbagai negara.
- Misalnya, ada warga negara Pakistan yang tak menyetujui serangan AS ke Iran.
- Mereka melakukan demo dan perusakan ke konsulat jenderal AS di Pakistan.
TRIBUNNEWS.COM - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyatakan, eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel bisa menyebabkan permasalahan warga di berbagai negara.
"Eskalasi perang ini sekarang bisa menjadi permasalahan warga di berbagai negara," ujar Hikmahanto, dikutip dari tayangan di Kompas TV, Selasa (3/3/2026).
Hikmahanto menyebut, ada warga negara Pakistan yang tak menyetujui serangan AS ke Iran. Mereka melakukan demo dan perusakan ke konsulat jenderal AS di Pakistan.
"Ini yang menjadi masalah juga dan ini harus menjadi perhatian juga dari pemerintah kita. Kita tidak ingin pada waktu serangan Amerika Serikat ke Afghanistan misalnya itu ada sebagian masyarakat kita melakukan sweeping terhadap warga Amerika Serikat," ucapnya.
Menurutnya, kemarahan warga kepada Presiden AS Donald Trump atas serangan tersebut bisa dilampiaskan kepada institusi atau kepentingan Amerika di negara tertentu, bahkan bisa dilampiaskan terhadap warga Amerika.
"Jadi ini perlu juga diantisipasi dan saya tidak tahu apakah ini sudah masuk dalam perhitungan kalkulasi dari Presiden Trump ketika dia melakukan serangan ke Iran karena ini dampaknya memang bisa meluas sekali," ungkapnya.
Indonesia Diminta Ambil Peran Aktif
Sementara itu, Presiden Pemuda Masjid Dunia Said Aldi Al Idrus mendorong Indonesia mengambil peran aktif dalam diplomasi internasional menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) lalu
Said Aldi menilai Indonesia memiliki posisi strategis dan legitimasi moral untuk mendorong deeskalasi konflik, mengingat peran aktif Indonesia selama ini dalam isu perdamaian global serta konsistensinya membela prinsip kemanusiaan dan kedaulatan negara.
“Serangan ini bukan sekadar operasi militer. Ini adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal dan mengancam fondasi perdamaian dunia. Bahkan secara khusus karena dilakukan di Bulan yang disucikan Umat Islam yakni Bulan Ramadlan."
"Tak hanya itu, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu juga telah melakukan penistaan kemanusiaan ke negara Islam, menerobos keasasian wilayah dan otoritas negara lain, bahkan mencederai rasa keagamaan umat Islam se dunia," kata Said kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
Menurut Said Aldi, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas global, termasuk keamanan energi dan ekonomi internasional, yang pada akhirnya turut memengaruhi kepentingan nasional Indonesia.
Usai bertemu Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, Said Aldi menegaskan pandangan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang tidak boleh dilanggar oleh tindakan militer sepihak.
Baca juga: 4 Tujuan Perang Trump di Iran: Lumpuhkan Kemampuan Rudal hingga Penghentian Nuklir
Dia menyebut posisi Indonesia sejalan dengan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menolak agresi dan mengedepankan penyelesaian damai.
“Apapun dalihnya, pendekatan kekuatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban. Dunia seharusnya bergerak menuju dialog, bukan dominasi militer,” kata dia.
Dia menambahkan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan tradisi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi jembatan dialog di tengah ketegangan global.