Sabtu, 18 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

FPN: Iran Sudah Siaga Hadapi Serangan AS-Israel, Amerika Masih Trauma dengan Pertempuran Panjang

Eskalasi konflik yang memanas setelah serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) itu justru akan menjadi bumerang bagi Amerika Serikat.

Menlu Iran Abbas Araghchi: Perang Didorong oleh Agenda ‘Israel Pertama’

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Washington mengorbankan nyawa warga Amerika dan Iran untuk memajukan apa yang ia sebut sebagai agenda “Israel Pertama."

Hal ini dia sampaikan saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang membela serangan AS baru-baru ini.

Dalam pernyataan di akun media sosial X (Twitter) @araghchi pada Selasa (3/3/2026), Abbas Araghchi membantah klaim yang menyebut Iran menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan AS.

Ia pun menyebut, segala pertumpahan darah warga AS dan Iran adalah tanggung jawab para pejabat di Washington yang lebih memprioritaskan perhitungan strategis Israel.

Berikut pernyataan Abbas Araghchi:

Rubio mengakui apa yang kita semua ketahui: AS telah memasuki perang pilihan atas nama Israel. Tidak pernah ada yang namanya "ancaman" Iran.
Dengan demikian, pertumpahan darah Amerika dan Iran adalah tanggung jawab pendukung Israel.
Rakyat Amerika pantas mendapatkan yang lebih baik dan harus merebut kembali negara mereka.

Sebelumnya, Marco Rubio telah menggambarkan serangan AS-Israel dengan istilah 'preemtif' saat berbicara di Capitol Hill, Senin (2/3/2026).

Ia mengklaim, Washington meyakini bahwa Iran akan segera menargetkan pasukan AS jika Israel melakukan serangan yang direncanakan.

Ia menegaskan bahwa menyerang terlebih dahulu akan mencegah jatuhnya korban jiwa Amerika yang lebih besar dan mengatakan para pemimpin kongres — termasuk kelompok “Gang of Eight” — telah diberi pengarahan.

Namun, kantor berita Reuters melaporkan bahwa para pejabat pemerintah AS mengatakan kepada staf kongres dalam pengarahan tertutup bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran telah merencanakan untuk menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

Washington Post juga melaporkan adanya kekhawatiran di dalam Pentagon mengenai risiko eskalasi dan tekanan pada sumber daya militer AS.

(Tribunnews.com/Rizki A.)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved