Iran Vs Amerika Memanas
Dewan Iran Rapat Soal Pemimpin Baru, Kecam Trump yang Mau Ikut Campur
Dewan Iran rapat soal Pemimpin Tertinggi baru Iran. Mereka mengecam Trump yang mau ikut campur dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi.
"Kami tidak menginginkan seseorang yang akan membangun kembali dalam jangka waktu 10 tahun," lanjutnya.
“Kami ingin mereka memiliki pemimpin yang baik. Kami memiliki beberapa orang yang menurut saya akan melakukan pekerjaan dengan baik,” tambahnya, menolak untuk menyebutkan nama siapa pun.
Trump juga mengatakan dia mengambil langkah-langkah untuk memastikan orang-orang dalam daftarnya selamat melewati perang.
"Kami sedang mengawasi mereka," katanya.
Komentar Trump ini merupakan perluasan dari pernyataan yang ia buat dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada hari Sabtu.
Ketika ditanya siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya, Trump menjawab, “Saya tidak tahu, tetapi suatu saat nanti mereka akan menghubungi saya untuk menanyakan siapa yang saya inginkan,” menambahkan bahwa ia hanya sedikit bercanda ketika mengatakan itu.
Trump juga menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada pembawa acara "NBC Nightly News" Tom Llamas pada hari Kamis bahwa negaranya siap menghadapi invasi darat oleh pasukan Amerika dan Israel.
Trump menyebutnya sebagai komentar yang sia-sia dan mengisyaratkan invasi bukanlah sesuatu yang sedang ia pikirkan saat ini.
“Ini buang-buang waktu. Mereka telah kehilangan segalanya. Mereka telah kehilangan angkatan laut mereka. Mereka telah kehilangan semua yang bisa mereka hilangkan,” katanya, menambahkan bahwa kecepatan dan intensitas serangan akan terus berlanjut.
Perang AS-Israel VS Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari, dengan menembakkan sejumlah rudal ke berbagai wilayah, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan tersebut terjadi tak lama setelah putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026. Pertemuan itu berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan dan rencananya akan dilanjutkan ke putaran berikutnya.
Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya bertujuan untuk kepentingan damai.
Pada tahun sebelumnya, Amerika Serikat berulang kali mengancam akan mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam proses perundingan.
Ketegangan semakin meningkat ketika pada 22 Juni 2025, AS menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mendukung serangan Israel yang berlangsung selama 12 hari terhadap negara tersebut.
Walaupun situasi sempat memanas setelah insiden itu, kedua negara akhirnya kembali melanjutkan dialog melalui perundingan. Oman yang berperan sebagai mediator menyatakan bahwa pembicaraan di Jenewa menunjukkan adanya “kemajuan signifikan”.