Iran Vs Amerika Memanas
Trump Tantang Pemimpin Baru Iran, Analis Sebut Rekam di Balik Layar Mojtaba Khamenei
Trump menantang pemimpin baru Iran dan menyebutnya tak akan bertahan tanpa persetujuan AS di tengah terpilihnya Mojtaba Khamenei
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menantang pemimpin baru Iran dengan menyebut sosok tersebut tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington.
- Kini, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi menggantikan Ali Khamenei.
- Komentar Trump dinilai dapat memperburuk ketegangan di tengah konflik Iran dengan AS dan Israel yang masih berlangsung.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terkait pemimpin tertinggi baru Iran, dengan mengatakan sosok yang memimpin Teheran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington.
Komentar tersebut muncul di tengah proses suksesi kepemimpinan Iran setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.
Dalam wawancara dengan media Amerika, Trump secara terang-terangan menyatakan pemimpin tertinggi Iran yang baru “harus mendapat persetujuan dari kami.”
“Dia harus mendapat persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump, dikutip dari ABC7 New York.
Trump juga menegaskan Washington ingin memastikan Iran tidak kembali mengembangkan ancaman nuklir yang dapat memicu konflik baru di masa depan.
Pernyataan itu segera memicu reaksi dari pejabat Iran.
Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi adalah urusan domestik Iran dan tidak dapat dipengaruhi oleh negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Resmi pada 8 Maret 2026, Iran secara menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba terjadi ketika konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat masih berlangsung intens.
Mojtaba, ulama garis keras yang memiliki kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, dipilih oleh Dewan ulama Iran untuk memimpin negara tersebut setelah kematian ayahnya dalam serangan militer.
Sebagai pemimpin tertinggi Iran, ia memiliki otoritas luas atas kebijakan militer, program nuklir, serta strategi perang negara itu.
Baca juga: Balas Dendam Nyawa Orang Tercinta, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Lebih Keras ke AS-Israel
Namun pengangkatan Mojtaba justru memperdalam ketegangan dengan Washington.
Trump sebelumnya telah menyatakan keinginannya ikut menentukan siapa yang pantas memimpin Iran di tengah perang yang terus berlangsung.
Sejumlah analis internasional memperingatkan retorika keras dari Washington dapat memperburuk konflik yang sudah memicu korban besar di kawasan Timur Tengah.
Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu serangkaian serangan rudal dan drone di berbagai negara kawasan Teluk serta menimbulkan dampak ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak yang menembus 100 dolar per barel.