Iran Vs Amerika Memanas
Analisis Intelijen Barat: Bunuh Pemimpin Iran, AS Belum Tentu Menang Perang
Intelijen Barat menilai tewasnya Ali Khamenei tak otomatis menjatuhkan rezim Iran. Struktur kekuasaan Teheran dinilai masih kuat
Narasi perlawanan terhadap Barat, terutama Amerika Serikat yang sering disebut sebagai “Great Satan” oleh elite Iran, telah tertanam dalam institusi negara, aparat keamanan, hingga sistem pendidikan sejak revolusi 1979.
Perang Berpotensi Berlangsung Lama
Para pengamat juga menilai konflik saat ini bisa berlangsung lama karena pemerintah Iran menganggap perang tersebut sebagai pertarungan eksistensial untuk mempertahankan sistem politiknya.
Rezim Iran dinilai memiliki jaringan institusi yang mampu mempertahankan kekuasaan bahkan di tengah krisis besar, termasuk aparat keamanan, jaringan ulama, serta struktur ideologis negara.
Di sisi lain, serangan militer terhadap Iran juga berisiko memicu kekacauan internal yang lebih luas. Jika kekuasaan pusat melemah, konflik dapat meluas ke berbagai wilayah yang memiliki ketegangan etnis seperti Kurdistan dan Baluchistan.
Situasi tersebut dikhawatirkan tidak hanya mengguncang Iran, tetapi juga memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Di tengah pergantian kepemimpinan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga melontarkan komentar keras terhadap pemimpin baru Iran.
Trump menyebut pemimpin tertinggi Iran yang baru sebagai sosok yang “ringan” dan bahkan menyatakan bahwa ia tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington.
Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap sebagai bentuk tekanan politik terhadap kedaulatan Iran di tengah konflik militer yang masih berlangsung.
Sementara itu, militer dan elite politik Iran telah menyatakan dukungan kepada Mojtaba Khamenei dan berjanji tetap melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Para analis menyimpulkan bahwa situasi Iran saat ini menghadirkan paradoks strategis.
Di satu sisi, negara itu menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang sangat besar serta semakin terisolasi di panggung internasional.
Namun di sisi lain, struktur politik dan ideologinya masih cukup kuat untuk mempertahankan kekuasaan, bahkan berpotensi menjadi lebih radikal di bawah tekanan eksternal.
Tanpa strategi politik pascaperang yang jelas, konflik yang dimulai dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel berisiko berubah menjadi krisis berkepanjangan yang sulit dikendalikan di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Balas Dendam Nyawa Orang Tercinta, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Lebih Keras ke AS-Israel
Pemimpin Baru
Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Penunjukan tersebut diputuskan oleh Majelis Pakar Iran, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara—pada 8 Maret 2026.