Salon Rambut Jepang Semakin Populer, Kini Jadi Destinasi Wisata Bagi Turis Asing
Salon rambut di Jepang kini jadi tujuan wisata baru turis asing yang ingin mencoba layanan hair styling berkualitas dengan harga lebih terjangkau
Ringkasan Berita:
- Salon rambut di Jepang kini mulai menjadi tujuan wisata baru bagi turis mancanegara yang ingin merasakan pengalaman potong dan perawatan rambut khas Jepang
- Hairstylist Teppei menyebut sekitar 90 persen pelanggannya adalah wisatawan asing yang tertarik pada harga lebih murah, layanan detail, dan kualitas tinggi
- Tren ini semakin populer berkat media sosial yang menampilkan pengalaman salon Jepang sebagai bagian dari wisata
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Salon rambut di Jepang kini mulai menjadi salah satu tujuan wisata bagi turis mancanegara. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak wisatawan asing yang sengaja datang ke Jepang untuk memotong atau mewarnai rambut mereka di salon Jepang.
Fenomena ini semakin terlihat di media sosial. Banyak video di platform seperti TikTok dan Instagram yang menampilkan turis asing menikmati layanan potong rambut, pewarnaan, hingga perawatan rambut di salon Jepang selama perjalanan mereka.
Bahkan sejumlah artis dan selebritas dunia yang berkunjung ke Jepang juga diketahui menyempatkan diri untuk merapikan rambut sebelum kembali ke negaranya. Mengunjungi salon rambut di Jepang kini mulai dianggap sebagai pengalaman “brand experience” tersendiri.
Salah satu hairstylist yang dikenal banyak melayani pelanggan asing adalah Teppei, seorang penata rambut freelance yang berbasis di kawasan Harajuku, Tokyo.
Teppei sebelumnya pernah bekerja sebagai manajer salon di Osaka sebelum melanjutkan pendidikan selama tiga tahun di Vidal Sassoon Academy di London. Setelah kembali ke Jepang pada 2024, ia mulai fokus melayani wisatawan asing.
Baca juga: Koalisi Pemerintah Jepang Usulkan Ekspor Senjata Mematikan Diizinkan Secara Prinsip
Menurut Teppei, sekitar 90 persen pelanggan yang datang kepadanya adalah turis asing.
"Saya menilai ada dua faktor utama yang membuat salon Jepang semakin populer di kalangan turis internasional, yaitu harga dan kualitas layanan," papar Teppei baru-baru ini.
Lebih murah dibanding luar negeri
Di kota besar seperti New York atau London, layanan potong rambut dan pewarnaan di salon terkenal bisa mencapai 100 ribu hingga 150 ribu yen termasuk tip.
Sebaliknya, di Jepang layanan dengan kualitas yang sama bahkan lebih tinggi bisa didapatkan dengan harga di bawah 50 ribu yen.'
“Bagi orang yang tinggal di New York, layanan salon di Jepang terasa sangat murah, bahkan setengah dari harga di sana,” kata Teppei.
Melemahnya nilai yen dalam beberapa tahun terakhir juga membuat wisatawan merasa biaya perawatan rambut di Jepang semakin terjangkau, bahkan jika digabungkan dengan biaya perjalanan.
Selain harga, hal kedua, wisatawan juga tertarik pada kualitas pengalaman yang ditawarkan salon Jepang.
Lingkungan salon yang bersih, pelayanan yang ramah, konsultasi yang detail, serta layanan tambahan seperti pijat kepala saat keramas menjadi pengalaman unik bagi banyak turis.
Di banyak negara Barat, layanan seperti ini tidak selalu tersedia. Karena itu, salon Jepang sering dianggap bukan sekadar tempat potong rambut, tetapi pengalaman relaksasi dan budaya pelayanan Jepang.
Baca juga: Satu Kemenangan Lagi! Fans Manchester United Ini Akhirnya Potong Rambut setelah 1,5 Tahun
Efek media sosial
Media sosial juga memainkan peran besar dalam mempopulerkan salon Jepang.
Video yang menampilkan proses konsultasi hingga hasil akhir rambut sering viral di internet. Tidak hanya hasil “before-after”, tetapi juga proses styling, suasana salon yang bersih, hingga pengalaman head spa yang menenangkan.
Konten semacam ini sering menarik jutaan penonton dan membuat banyak turis tertarik mencoba layanan tersebut saat berkunjung ke Jepang.
Teppei juga menilai reputasi tinggi hairstylist Jepang berasal dari sistem pendidikan yang ketat.
Untuk menjadi penata rambut di Jepang, seseorang harus belajar di sekolah kecantikan resmi selama dua tahun atau mengikuti program jarak jauh lebih dari tiga tahun, lalu lulus ujian nasional.
Di banyak negara Eropa, profesi penata rambut tidak selalu memerlukan lisensi nasional seperti di Jepang.
“Saya benar-benar merasa penata rambut Jepang sangat terampil. Mereka belajar dengan sistem pendidikan yang ketat dan melalui proses pelatihan panjang sebelum bekerja,” ujarnya.
Tantangan bahasa
Meski permintaan dari turis meningkat, salah satu tantangan yang masih dihadapi industri salon Jepang adalah kendala bahasa.
Tidak semua penata rambut dapat berkomunikasi dengan pelanggan asing. Namun menurut Teppei, kemampuan berkomunikasi dan memahami keinginan pelanggan lebih penting daripada sekadar fasih berbahasa Inggris.
Ia menilai jika semakin banyak penata rambut Jepang mampu melayani pelanggan internasional, industri kecantikan Jepang berpotensi menjadi daya tarik wisata global baru.
“Teknologi, pelayanan, dan suasana salon Jepang sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk dikenal dunia. Jika dikembangkan sebagai sebuah pengalaman, salon Jepang bisa menjadi daya tarik internasional,” katanya.
Diskusi fashion dan hair style di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/rambutjapan111111.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.