Iran Vs Amerika Memanas
AS Sebut Operasi Militer terhadap Iran Baru Permulaan, Lebih dari 50.000 Tentara Dikerahkan
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan operasi militer bersama Israel terhadap Iran masih jauh dari selesai.
Ringkasan Berita:
- AS menegaskan operasi militer bersama Israel terhadap Iran masih jauh dari selesai.
- Hal itu dikatakan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
- Pentagon menyebut lebih dari 3.000 target telah diserang sejak kampanye dimulai.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran masih jauh dari selesai dan menyebut kampanye tersebut baru permulaan, ketika serangan bersama AS dan Israel memasuki pekan kedua.
Dalam wawancara yang ditayangkan program 60 Minutes di CBS News pada Minggu (9/3/2026), Hegseth mengatakan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan di kawasan terus melemah akibat serangan yang berlangsung.
“Semakin melemah dan akan terus melemah. Yang ingin saya sampaikan kepada pemirsa Anda adalah bahwa ini baru permulaan,” kata Hegseth.
Pentagon menyebut lebih dari 50.000 tentara AS terlibat dalam operasi yang diberi nama Operation Epic Fury.
Hingga Jumat (7/3/2026), militer AS dilaporkan telah menyerang sekitar 3.000 target di dalam wilayah Iran.
Hegseth menegaskan operasi militer tersebut berjalan sesuai rencana dan menolak anggapan bahwa kampanye militer itu akan segera berakhir.
“Kami sangat berada di jalur yang tepat, sesuai rencana,” ujarnya.
Baca juga: Sektor-sektor Industri dalam Negeri yang Paling Terdampak Perang Iran-Amerika
Ia juga menambahkan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel jauh lebih unggul dibanding Iran.
“Ketika Anda menggabungkan angkatan udara kami dengan angkatan udara Pasukan Pertahanan Israel, itu adalah dua angkatan udara paling kuat di dunia,” kata Hegseth.
Dalam kesempatan itu, Hegseth kembali mengulang tuntutan Presiden AS, Donald Trump, agar Iran menyerah tanpa syarat.
Menurutnya, tujuan operasi militer adalah membuat pasukan Iran tidak lagi mampu melanjutkan pertempuran.
“Itu berarti kami berperang untuk menang. Itu berarti kami yang menetapkan syaratnya. Kami akan tahu kapan mereka tidak lagi mampu bertempur,” ujarnya, mengutip Anadolu Agency.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat serangan AS dan Israel terhadap target-target di Iran serta serangan balasan yang terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah.
Pentagon menyatakan AS siap melanjutkan operasi militer tersebut selama diperlukan untuk mencapai tujuannya.
Hegseth juga memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung kemungkinan akan menimbulkan korban lebih lanjut.
“Presiden telah benar mengatakan akan ada korban. Akan ada lebih banyak korban,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kerugian tersebut justru memperkuat tekad untuk menyelesaikan perang.
(*)