Selasa, 7 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Sektor-sektor Industri dalam Negeri yang Paling Terdampak Perang Iran-Amerika

Sektor industri perlu mengamankan pasokan melalui diversifikasi negara asal bahan baku dan energi, serta penyesuaian rute logistik.

Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/IMANUEL NICOLAS MANAFE
DAMPAK PERANG IRAN-AS - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin. Perang Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya Israel berdampak negatif bagi sektor industri di dalam negeri melalui kenaikan harga minyak mentah, peningkatan biaya logistik, serta pelemahan nilai tukar rupiah. 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan harga minyak mentah dan naiknya biaya logistik, serta pelemahan rupiah akibat berlanjutnya perang Iran melawan AS dan Israel berdampak negatif ke sektor industri di Indonesia.
  • Biaya produksi di industri petrokimia, plastik, pupuk dan subsektor logam dan kimia, berpotensi melonjak akibat lonjakan harga energi dan potensi gangguan rantai pasok global.
  • Industri perlu mengamankan pasokan melalui diversifikasi negara asal bahan baku dan energi, penyesuaian rute logistik.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya Israel berdampak negatif bagi sektor industri di dalam negeri melalui kenaikan harga minyak mentah, peningkatan biaya logistik, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengungkap dampak paling terasa pada sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar global, baik dari sisi bahan baku maupun pasar ekspor. 

Industri yang selama ini masih mengandalkan impor bahan baku, seperti petrokimia, plastik, pupuk, serta beberapa subsektor logam dan kimia, berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga energi dan potensi gangguan rantai pasok global.

"Di sisi lain, sektor industri yang berorientasi ekspor juga berpotensi terdampak apabila terjadi gangguan pada jalur logistik internasional maupun pelemahan permintaan di pasar global," kata Saleh dikutip Kontan.

Beberapa pelaku usaha bahkan mulai melaporkan dampak awal, misalnya industri nikel yang menghadapi potensi gangguan pasokan sulfur yang banyak diimpor dari kawasan Timur Tengah untuk proses pemurnian.

Sektor yang paling rentan adalah industri yang memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok global, baik karena ketergantungan terhadap bahan baku impor maupun karena orientasi pasar ekspor yang cukup besar.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menilai, tekanan terhadap sektor bisnis di dalam negeri dirasakan oleh industri yang memiliki hubungan dagang langsung dengan Timur Tengah serta sektor bisnis yang sangat sensitif terhadap biaya energi, bahan baku impor, dan freight cost. 

Subsektor yang paling rentan terdampak eskalasi konflik di Timur Tengah adalah industri petrokimia, logistik dan pelayaran, penerbangan, makanan dan minuman, industri barang konsumsi, manufaktur padat energi, serta sektor pertambangan dan pengolahan berbasis impor bahan penolong. 

Baca juga: BREAKING NEWS: Prabowo Segera Umumkan Taklimat Khusus Imbas Perang Timur Tengah

"Situasi ini harus dilihat bukan hanya sebagai ancaman jangka pendek, tetapi juga sebagai pengingat bahwa struktur industri nasional masih rentan terhadap shock eksternal, terutama pada energi, bahan baku antara, dan biaya logistik global," ujar Erwin Aksa.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan dunia usaha memperhatikan serius lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus 100 dolar per barel. 

Harga ini merupakan level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir sejak perang Rusia-Ukraina meletus tahun 2022.

Dalam satu minggu terakhir, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 42 persen dan dalam sebulan terakhir telah meningkat lebih dari 64 persen. "Lonjakan yang sangat tajam dalam waktu singkat seperti ini menciptakan tekanan biaya yang signifikan bagi sektor usaha," kata Shinta.

Shinta menegaskan sebagian  pelaku usaha saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga produk atau jasa untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas permintaan.

Baca juga: Pagi Ini Rupiah Dibuka Melemah Rp 17.019 Per Dolar AS, Senin 9 Maret 2026

Namun dalam praktiknya, perusahaan juga harus mempertimbangkan price pass-through mechanism, yaitu sejauh mana kenaikan biaya input dapat diteruskan ke harga jual tanpa mengganggu permintaan pasar.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved