Pakar dan Pengacara Jepang Tantang Narasi Pemerintah Jepang soal Kanker Tiroid Fukushima
15 tahun setelah krisis nuklir di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant, pakar kembali menyoroti lonjakan kanker tiroid pada anak
Ringkasan Berita:
- Lima belas tahun setelah bencana nuklir di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant, perdebatan dampak kesehatan radiasi kembali mengemuka
- Pakar medis dan pengacara mempertanyakan klaim pemerintah Jepang yang menyatakan tidak ada bukti penyakit akibat radiasi
- Lonjakan hampir 400 kasus kanker tiroid pada anak setelah bencana disebut memiliki pola yang mengingatkan pada Chernobyl disaster.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Lima belas tahun setelah gempa bumi dan tsunami besar (11/3/2011) memicu krisis nuklir di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant, perdebatan mengenai dampak kesehatan radiasi kembali mencuat.
Dalam sebuah diskusi yang digelar di Foreign Correspondents’ Club of Japan (FCCJ) pada Selasa (10/3/2026), pakar penyakit dalam Dr. Motomi Ushiyama dan pengacara Kenichi Ido mempertanyakan narasi resmi pemerintah Jepang yang menyatakan tidak ada bukti penyakit atau kematian yang secara langsung disebabkan oleh paparan radiasi dari kecelakaan nuklir tersebut.
"Pemerintah Jepang selama ini menegaskan bahwa hingga kini tidak ditemukan bukti langsung adanya penyakit akibat radiasi dari kecelakaan nuklir Fukushima pada 2011," ungkap Ido.
Namun Ushiyama dari hasil penelitian medisnya menilai sejumlah fakta menunjukkan hal berbeda.
Menurutnya, kanker tiroid pada anak sebenarnya sangat jarang terjadi.
Baca juga: Penjualan Minuman Probiotik Jepang di China Anjlok Tajam, Tren Hidup Sehat Justru Bikin Sulit Jualan
Namun setelah kecelakaan nuklir Fukushima, hampir 400 orang yang pada 2011 berusia 18 tahun ke bawah dilaporkan didiagnosis menderita kanker tiroid.
Ushiyama menilai angka tersebut mengingatkan pada pola yang pernah terjadi setelah bencana nuklir Chernobyl disaster, di mana hubungan antara paparan radiasi dan kanker tiroid akhirnya diakui secara resmi.
Ia juga mengkritik bahwa suara para generasi muda yang terkena dampak penyakit tersebut sering kali tidak mendapat perhatian karena dianggap dapat mengganggu narasi resmi pemerintah mengenai keamanan radiasi.
Gugatan terhadap operator PLTN
Sementara itu, pengacara Kenichi Ido saat ini mewakili sekelompok penggugat muda dari Fukushima yang menderita kanker tiroid setelah kecelakaan nuklir tersebut menghimbau keberanian masyarakat untuk bersuara.
Para penggugat yang pada saat kecelakaan berusia 6 hingga 16 tahun menuntut ganti rugi dari operator pembangkit listrik tersebut, yaitu Tokyo Electric Power Company.
Dalam gugatan yang sedang berlangsung di pengadilan Jepang—dengan sidang ke-17 digelar pada 4 Maret—mereka para korban berargumen bahwa paparan radiasi dari kecelakaan nuklir merupakan penyebab langsung penyakit yang mereka derita.
Menurut mereka, penyakit tersebut telah mempengaruhi pendidikan, pekerjaan, dan masa depan mereka para korban.
Perdebatan terus berlanjut
Menjelang peringatan 15 tahun bencana Fukushima, perdebatan mengenai dampak kesehatan radiasi masih terus berlangsung antara pemerintah, ilmuwan, dan para korban.
Diskusi di Tokyo tersebut diharapkan dapat membuka kembali perdebatan publik mengenai hubungan antara bencana nuklir Fukushima dan peningkatan kasus kanker tiroid pada generasi muda di wilayah tersebut.
Diskusi beasiswa di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pakarpenyakitdalam11222.jpg)