Konflik Rusia Vs Ukraina
Rusia Ingin Buat Zona Penyangga 20 Kilometer di Sumy dan Kharkiv
Militer Ukraina mengatakan Rusia ingin membuat zona penyangga 20 kilometer di Sumy dan Kharkiv. Setidaknya, 12 wilayah menjadi sasaran Rusia.
Ringkasan Berita:
- Rusia disebut berupaya membentuk zona penyangga sekitar 20 km di sepanjang perbatasan wilayah Sumy dan Kharkiv, Ukraina, meski tidak diperkirakan melancarkan serangan besar dalam waktu dekat.
- Komandan pasukan Ukraina Mykhailo Drapaty mengatakan kelompok pasukan Rusia di wilayah tersebut bertugas memperluas “zona pengaruh”.
- Sementara itu, Ukraina menyebut Rusia masih terus menguji pertahanan di beberapa desa perbatasan meski belum mencapai kemajuan signifikan.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1477 pada Rabu (11/3/2026).
Rusia disebut berupaya membentuk zona penyangga di sepanjang perbatasan wilayah Sumy dan Kharkiv di Ukraina.
Namun, Rusia kemungkinan tidak berencana melancarkan serangan besar ke kedua wilayah tersebut selama musim semi hingga musim panas.
Komandan Kelompok Pasukan Gabungan Ukraina, Mykhailo Drapaty, mengatakan langkah Rusia lebih bertujuan memperluas zona pengaruh di wilayah perbatasan. Hal itu disampaikannya dalam komentar kepada "Ukrainian Truth".
"Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah 'front sekunder' atau 'front untuk mengalihkan pasukan kita.' Setiap kelompok Rusia memiliki tugasnya masing-masing. Bagi kelompok 'Sever', yang berada di seberang kita di wilayah Sumy dan Kharkiv, ini adalah zona penyangga, atau, seperti yang mereka sebut, 'zona pengaruh'," demikian kutipan pernyataan Drapaty dalam publikasi tersebut.
Ia menyebut terdapat sekitar 12 wilayah yang menjadi sasaran Rusia untuk memperluas kendali, termasuk kawasan Krasnopil, Velykopysariv, dan Zolochiv.
Sementara itu, juru bicara Layanan Penjaga Perbatasan Ukraina, Andriy Demchenko, mengatakan Rusia tidak memiliki kekuatan besar di arah Slobozhansk Utara, tetapi tetap berupaya menguji pertahanan Ukraina.
"Musuh tidak dapat mencapai kemajuan. Federasi Rusia mencoba menguji pertahanan kita. Di wilayah Sumy - Grabovske, Popivka, Sopych, di mana musuh tidak dapat mencapai hasil yang signifikan, tetapi ada upaya terus-menerus untuk menyerang posisi kita. Mungkin untuk membangun aksi lebih lanjut bagi mereka sendiri, untuk maju lebih dalam," lanjutnya.
Data analis militer DeepState menunjukkan lebih dari 293 kilometer persegi wilayah Sumy telah masuk zona merah.
Pasukan Rusia juga dilaporkan bergerak ke beberapa desa di wilayah tersebut, sementara sejumlah area di sepanjang perbatasan kini menjadi zona abu-abu yang diperebutkan kedua pihak, lapor Suspilne.
Baca juga: Putin: Rusia Siap Kembali Memasok Minyak ke Eropa, Tapi Ada Syaratnya
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang terbuka antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai kota di Ukraina. Serangan tersebut menjadi puncak dari ketegangan panjang yang sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.
Akar konflik bermula setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina mulai mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas Uni Soviet.
Ketegangan meningkat tajam pada 2014 ketika gelombang demonstrasi besar terjadi di ibu kota Ukraina, Kyiv. Aksi yang dikenal sebagai Revolusi Maidan itu berujung pada pergantian pemerintahan yang lebih condong ke Barat. Perubahan tersebut memicu reaksi keras dari Rusia, yang kemudian mengambil alih wilayah Krimea yang sebelumnya merupakan bagian dari Ukraina.
Pada saat yang sama, konflik bersenjata juga pecah di wilayah Donbas di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina berhadapan dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Berbagai upaya diplomasi sempat dilakukan untuk meredakan situasi, namun ketegangan di kawasan tersebut tidak pernah benar-benar mereda.
Situasi akhirnya mencapai titik puncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina. Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah Donbas serta mencegah perluasan NATO.
Serangan itu langsung memicu kecaman dari banyak negara. Amerika Serikat bersama negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia serta meningkatkan bantuan militer dan keuangan bagi Ukraina. Sejak saat itu, konflik Rusia-Ukraina berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.
AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan di tengah perang yang masih berlangsung.
Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.
-
Hungaria Tahan Uang dan Emas Ukraina Senilai Puluhan Juta Dolar
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán memerintahkan agar uang tunai dan emas milik Ukraina yang disita pekan lalu ditahan selama 60 hari.
Penahanan itu dilakukan sementara otoritas pajak Hungaria menyelidiki dugaan pencucian uang.
Pengiriman tersebut disita pada Kamis lalu ketika sedang diangkut melalui jalur darat di wilayah Hungaria.
Muatan itu terdiri dari uang tunai sebesar 40 juta dolar AS dan 35 juta euro, serta 9 kilogram emas yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar 82 juta dolar AS.
Penyitaan ini terjadi di tengah perselisihan antara Hungaria, Slovakia, dan Ukraina terkait pasokan gas.
Hungaria dan Slovakia menuduh Kyiv sengaja menunda perbaikan pipa minyak yang rusak akibat serangan pesawat tak berawak Rusia.
Langkah tersebut memicu kemarahan pemerintah Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh pemerintah Hungaria yang dianggap pro-Rusia melakukan tindakan ilegal dan menyebut penyitaan itu sebagai “perampokan”.
Ia juga meminta para pemimpin Eropa tidak tinggal diam atas tindakan Budapest.
-
Rusia dan Ukraina Saling Klaim Keberhasilan di Medan Perang
Rusia dan Ukraina kembali saling mengklaim keberhasilan dalam pertempuran di garis depan. Ukraina mengatakan pasukannya berhasil memukul mundur pasukan Rusia di beberapa wilayah.
Menurut Mayor Jenderal Oleksandr Komarenko kepada media RBC-Ukraina, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali hampir seluruh kawasan industri Dnipropetrovsk di tenggara negara itu dalam serangan balasan terbaru.
Dalam operasi tersebut, Ukraina mengklaim berhasil mengusir pasukan Rusia dari wilayah seluas lebih dari 400 kilometer persegi.
-
Putin Klaim Rusia Perluas Wilayah yang Dikuasai di Donbas
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pasukan Rusia telah memperluas wilayah yang mereka kuasai di kawasan Donbas di Ukraina timur.
Menurut Putin, wilayah yang dikuasai Ukraina di Donbas terus menyusut dalam beberapa bulan terakhir.
Ia mengklaim enam bulan lalu Ukraina masih menguasai sekitar 25 persen wilayah tersebut, namun kini hanya tersisa sekitar 15 hingga 17 persen.
Donbas merupakan salah satu wilayah yang menjadi target utama invasi Rusia sejak awal konflik.
-
AS Usulkan Putaran Baru Perundingan Rusia-Ukraina
Amerika Serikat mengusulkan digelarnya putaran baru perundingan antara Rusia dan Ukraina untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berlangsung. Usulan itu disampaikan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Selasa.
Menurut Zelenskyy, pembicaraan tersebut kemungkinan dapat digelar di Swiss atau Turki.
Rencana awal untuk mengadakan pertemuan di Uni Emirat Arab sebelumnya tertunda akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Zelenskyy mengatakan salah satu agenda yang dapat dibahas adalah pertukaran tawanan perang antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menegaskan bahwa konflik di Iran seharusnya tidak menghambat upaya perdamaian untuk Ukraina.
-
PBB Sebut Deportasi Anak Ukraina oleh Rusia sebagai Kejahatan Kemanusiaan
Tim penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa deportasi dan pemindahan paksa ribuan anak Ukraina ke Rusia merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Ukraina mengatakan pihaknya memiliki bukti bahwa otoritas Rusia telah melakukan deportasi, pemindahan paksa, serta penghilangan paksa terhadap anak-anak dari wilayah pendudukan Ukraina.
Sejauh ini, penyelidikan telah mengonfirmasi 1.205 kasus anak yang dipindahkan atau dideportasi.
Komisi juga menyebut sekitar 80 persen dari anak-anak dalam kasus yang diselidiki belum kembali ke Ukraina hingga empat tahun setelah kejadian tersebut.
-
Ukraina Serang Pabrik Komponen Rudal di Rusia
Pasukan Ukraina melancarkan serangan terhadap sebuah pabrik penting di wilayah Bryansk, Rusia, pada Selasa.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pabrik tersebut memproduksi komponen penting untuk rudal.
Militer Ukraina menyatakan mereka menggunakan rudal Storm Shadow buatan Inggris dalam serangan terhadap fasilitas Kremniy El tersebut.
Sementara itu, Gubernur Bryansk Alexander Bogomaz mengatakan serangan tersebut menewaskan enam warga sipil dan melukai 37 orang.
Di sisi lain, serangan Rusia di kota Sloviansk di Ukraina timur juga menimbulkan korban. Gubernur wilayah Donetsk Vadym Filashkin mengatakan empat orang tewas dan 16 lainnya terluka setelah Rusia menjatuhkan tiga bom berpemandu di kota tersebut.
Salah satu korban luka adalah seorang gadis berusia 14 tahun, menurut laporan The Guardian.
-
Uni Eropa Kecam Keputusan Biennale Venesia Libatkan Rusia
Keputusan penyelenggara Biennale Venesia untuk mengizinkan Rusia berpartisipasi dalam acara tahun ini menuai kritik keras dari Uni Eropa.
Dua pejabat senior Komisi Eropa pada Selasa menyatakan mereka “sangat mengutuk keputusan tersebut” dan sedang mempertimbangkan langkah lebih lanjut, termasuk kemungkinan menangguhkan pendanaan Uni Eropa untuk penyelenggara acara tersebut.
Sebelumnya, pemerintah Ukraina telah meminta Biennale Venesia membatalkan partisipasi Rusia.
Kyiv mengingatkan bahwa Rusia juga tidak diikutsertakan dalam dua pameran seni Venesia sebelumnya pada 2022 dan 2024 setelah invasi ke Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-45rweireiur98u39.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.