Selasa, 7 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.497, Zelenskyy Tak Mau Dipaksa Menyerah

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.497, Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan negaranya menolak jika dipaksa menyerahkan wilayah untuk damai dengan Rusia.

Website Presiden Ukraina
ZELENSKYY - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara saat menerima kunjungan perdana menteri sementara Bulgaria, Andrey Gyurov, ke Kyiv pada Senin (30/3/2026). (© Press Service Of The President Of Ukraine / YPV.2026). -- Zelenskyy mengatakan negaranya menolak jika dipaksa menyerahkan wilayah untuk damai dengan Rusia. 

Ringkasan Berita:
  • Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.497, Zelenskyy khawatir Donald Trump akan menekan Kyiv untuk menyerahkan wilayah demi mengakhiri perang.
  • Pembicaraan dengan utusan AS tidak membuahkan hasil, meski Ukraina menilai dialog masih berlanjut meski sempat terganggu konflik AS–Iran.
  • Di lapangan, serangan Rusia menewaskan 2 orang dan melukai puluhan lainnya, sementara Ukraina memperkuat pertahanan lewat kerja sama militer dengan Bulgaria.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.497 pada Selasa (31/3/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan timnya mungkin akan menekan Ukraina untuk memberikan konsesi teritorial dan menuntut penarikan pasukan Ukraina dari wilayahnya sendiri untuk mengakhiri perang.

Zelenskyy mengatakan pembicaraan terbaru antara delegasi Ukraina dan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner di Miami, tidak membuahkan hasil.

Ia mencatat bahwa setelah konflik yang melibatkan Iran berakhir, pemerintahan AS mungkin akan kembali menekan Ukraina untuk memaksa konsesi teritorial guna mengakhiri perang dengan Rusia.

"Saya yakin Presiden Trump dan timnya ingin mengakhiri perang. Tetapi mengapa kita harus menanggung akibatnya? Kita bukanlah pihak agresor. Mereka tidak melihat cara lain untuk menghentikan Putin selain menarik pasukan Ukraina dari wilayah kita," kata Zelenskyy kepada Axios yang dipublikasikan pada Senin (30/3/2026).

"Kekhawatiran saya adalah tidak ada yang benar-benar menghargai bahaya keputusan tersebut bagi keamanan kita," lanjutnya.

Mengomentari situasi di Timur Tengah, Zelenskyy juga mengatakan Rusia sepenuhnya mendukung Iran, menyediakan Teheran dengan citra satelit pangkalan militer AS dan berbagi pengalaman operasional dalam penggunaan drone.

Sebelumnya pada 21 Maret, tim negosiasi Ukraina berada di Miami, tempat mereka mengadakan pembicaraan dengan perwakilan presiden AS mengenai pengakhiran perang.

Pada 25 Maret, juru bicara Kementerian Luar Negeri Heorhii Tykhyi mengatakan bahwa Rusia menghalangi proses perdamaian, tetapi meskipun demikian, pembicaraan baru-baru ini antara delegasi Ukraina dan AS di AS bersifat substantif.

Meskipun pembicaraan trilateral telah terhenti setelah dimulainya konflik AS dengan Iran, Zelenskyy tidak percaya bahwa pembicaraan tersebut telah menemui jalan buntu, lapor Pravda.

Baca juga: Perang Memanas di Banyak Front: Drone Ukraina Hantam Rusia, Serangan Balasan Makin Brutal

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina. Invasi ini menjadi puncak dari ketegangan panjang yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Akar konflik dapat ditelusuri sejak runtuhnya Uni Soviet, saat Ukraina mulai menjalin kedekatan dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut memicu kekhawatiran Rusia yang merasa pengaruhnya di kawasan semakin terancam.

Ketegangan semakin memuncak pada 2014 melalui Revolusi Maidan di Kyiv yang mendorong Ukraina semakin condong ke Barat. Sebagai respons, Rusia mencaplok wilayah Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang diduga didukung Moskow.

Situasi ini akhirnya berkembang menjadi invasi skala penuh pada 2022 setelah Vladimir Putin memerintahkan operasi militer. Rusia mengklaim langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas sekaligus menahan ekspansi NATO.

Aksi tersebut menuai kecaman luas dari dunia internasional. Negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia serta memberikan dukungan militer dan finansial kepada Ukraina. Hingga kini, konflik ini masih menjadi salah satu krisis global terbesar dengan dampak yang meluas di berbagai sektor.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved