Minggu, 12 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Isyaratkan Akhir Perang Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas di Bawah 90 Dolar AS

Trump beri sinyal perang Iran segera berakhir, harga minyak dunia langsung jatuh dari hampir 120 dolar AS ke bawah 90 dolar AS per barel.

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal bahwa konflik militer dengan Iran mungkin akan segera berakhir.

Mengutip dari BBC International, harga minyak mentah sebelumnya melonjak hampir menyentuh 120 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026), tetapi turun drastis hingga di bawah 90 dolar AS per barel pada perdagangan pasar Rabu (11/2/2026).

Penurunan harga minyak terjadi setelah pelaku pasar menilai pernyataan Trump sebagai sinyal bahwa perang dengan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

Pernyataan tersebut membuat pasar percaya bahwa eskalasi konflik tidak akan terus meningkat dalam jangka panjang. Alhasil para investor menilai risiko terganggunya pasokan energi global menjadi lebih kecil.

Kondisi ini memicu para pedagang yang sebelumnya membeli kontrak minyak untuk mengantisipasi lonjakan harga mulai menjual kembali aset mereka. Aksi jual secara besar-besaran tersebut akhirnya menekan harga minyak dunia hingga turun tajam.

Selain faktor pasokan, harapan terhadap stabilitas ekonomi global juga mempengaruhi pergerakan pasar.

Konflik militer besar biasanya memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi. Namun, ketika kemungkinan perang berkepanjangan dianggap menurun, pasar merespons dengan menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan harga energi.

Akibatnya, harga minyak yang sebelumnya melonjak ke level tertinggi akhirnya turun kembali ke bawah 90 dolar AS per barel.

Meski demikian, para analis menilai pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah sehingga fluktuasi harga minyak diperkirakan masih akan terus terjadi dalam waktu dekat.

Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi

Perlu diketahui sebelum mengalami penurunan, pasar energi sempat bergejolak ditandai dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus 105 dolar AS per barel.

Baca juga: Perang Iran Jadi Ladang Untung Raksasa Senjata: Perusahaan AS dan Israel Raup Miliaran Dolar

Ini terjadi lantaran pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz dilaporkan dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, atau hampir seperlima dari total perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi dunia biasanya langsung bereaksi.

Penutupan juga membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.

Tanpa kepastian kapan jalur tersebut akan kembali normal, para pedagang minyak memperkirakan harga energi dapat terus mengalami tekanan naik.

Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga bahkan dapat melesat naik, tembus ke kisaran 120 dolar AS hingga 128 dolar AS atau sekitar Rp 2,1 juta per barel dalam waktu dekat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved