Iran Vs Amerika Memanas
Iran Ultimatum Dunia: Tak Ada Setetes Minyak Lewat Selat Hormuz, Harga Diprediksi Tembus 200 Dolar
Iran ultimatum dunia, ancam tutup Selat Hormuz bagi sekutu AS–Israel. Harga minyak dunia diprediksi melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Ringkasan Berita:
- IRGC mengultimatum dunia bahwa tak ada setetes minyak pun boleh melewati Selat Hormuz bagi kapal terkait AS dan Israel.
- Iran menilai keterlibatan AS dan Israel dalam konflik memicu ketidakstabilan kawasan. Jika jalur energi utama dunia itu terganggu harga minyak diperkirakan melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
- Ketegangan membuat sekitar 300 kapal tanker tertahan di sekitar Selat Hormuz. Untuk menstabilkan pasar, International Energy Agency sepakat melepas 400 juta barel cadangan minyak.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas usai pemerintah Iran melalui militer elitnya mengeluarkan peringatan keras terkait jalur energi paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran yang mewakili Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menegaskan tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati jalur tersebut bagi kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu keduanya.
Menurutnya, kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel akan diperlakukan sebagai target militer yang sah.
Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa upaya negara Barat untuk menurunkan harga minyak secara buatan tidak akan berhasil.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Bersiaplah melihat harga minyak mencapai 200 dolar AS per barel,” kata juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Selat Hormuz: Jalur Energi Paling Vital di Dunia
Iran menilai ketidakstabilan keamanan di kawasan Timur Tengah tidak terlepas dari keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Menurut pejabat militer Iran, eskalasi ketegangan yang terjadi saat ini dipicu oleh serangkaian serangan dan operasi militer yang dilakukan oleh kedua negara terhadap target di Iran.
Situasi tersebut lantas memaksa Iran melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Siklus serangan dan balasan inilah yang membuat ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran global.
Ini karena kawasan Teluk khususnya selat Hormuz merupakan salah satu perdagangan energi global dimana seperlima pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut setiap hari.
Jika jalur tersebut terganggu akibat konflik militer atau ancaman terhadap kapal-kapal tanker, distribusi minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak dapat terhambat. Kondisi ini berpotensi memicu penurunan pasokan di pasar global.
Baca juga: Rumor Kematian Benjamin Netanyahu Beredar di Tengah Perang Iran-Israel
Dalam situasi seperti itu, harga minyak biasanya melonjak tajam karena permintaan tetap tinggi sementara pasokan menurun. Akibatnya, harga minyak bisa naik secara signifikan bahkan sebelum gangguan pasokan benar-benar terjadi.
Itulah sebabnya pejabat Iran memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga menyentuh 200 dolar AS per barel apabila konflik regional terus meningkat dan keamanan jalur energi utama dunia tidak dapat dijamin.
Negara-Negara Dunia Lepas Cadangan Minyak
Sejauh ini, upaya pemerintah Amerika Serikat untuk menjaga arus pelayaran di kawasan Teluk belum membuahkan hasil.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mendorong kapal-kapal komersial agar tetap melintasi Selat Hormuz meskipun ancaman keamanan meningkat. Namun hingga kini aktivitas pelayaran di jalur energi strategis tersebut masih terganggu.