Iran Vs Amerika Memanas
Netanyahu–Trump Cekcok soal Iran, Israel Desak Serangan Militer AS Segera Dilanjutkan
Trump dan Netanyahu cekcok soal Iran. Israel desak serangan AS dilanjutkan, sementara Washington masih memilih jalur diplomasi demi cegah perang besar
Ringkasan Berita:
- Trump dan Netanyahu terlibat percakapan telepon tegang terkait strategi menghadapi Iran. Netanyahu mendesak AS melanjutkan serangan militer, sementara Trump memilih menunda operasi.
- Israel khawatir penundaan serangan justru memberi kesempatan bagi Iran untuk memperkuat kemampuan militer, mempercepat program nuklir, dan memperluas pengaruh regionalnya.
- Meski ketegangan meningkat, AS dan Iran masih bertukar pesan rahasia melalui mediasi Pakistan dengan dukungan Qatar, Saudi Arabia, dan UEA.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan memanas setelah keduanya terlibat percakapan telepon yang tegang terkait strategi menghadapi Iran.
Percakapan panas yang berlangsung pada Selasa (19/5/2025) mencerminkan perbedaan besar antara Washington dan Tel Aviv mengenai langkah selanjutnya dalam konflik dengan Teheran.
Menurut pejabat Amerika Serikat yang dikutip CNN International, Netanyahu mendesak Trump untuk segera melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Namun Trump memilih menahan serangan dan tetap memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan mulai munculnya retakan dalam koordinasi strategis antara AS dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump dan Netanyahu juga melakukan pembicaraan pada Minggu lalu. Dalam percakapan itu, Trump disebut memberi sinyal bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan meluncurkan serangan terarah baru terhadap Iran pada awal pekan ini.
Operasi tersebut bahkan dilaporkan telah disiapkan dengan nama baru, yakni “Operation Sledgehammer”.
Namun situasi berubah drastis hanya sekitar 24 jam kemudian. Trump secara mengejutkan memutuskan menunda serangan tersebut setelah mendapat permintaan dari sejumlah sekutu utama Amerika di kawasan Teluk.
Netanyahu Khawatir Iran Diuntungkan oleh Penundaan
Keputusan tersebut sontak memicu kekecewaan besar di pihak Israel. PM Netanyahu khawatir keputusan Amerika Serikat menunda rencana serangan terhadap Iran justru akan memberi keuntungan strategis bagi Teheran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran utama Netanyahu muncul karena Israel meyakini Iran dapat memanfaatkan waktu penundaan tersebut untuk memperkuat kemampuan militernya, mempercepat program pertahanan, hingga melanjutkan pengembangan yang berkaitan dengan program nuklirnya.
Baca juga: Iran Tetapkan Zona Pengawasan untuk Kapal yang Lewati Selat Hormuz, Harus Dapat Izin dari Otoritas
Netanyahu menilai Iran selama ini kerap menggunakan proses diplomasi sebagai cara untuk mengulur waktu sambil memperkuat posisi politik dan militernya di kawasan.
Israel juga khawatir bahwa semakin lama tekanan militer ditunda, semakin besar peluang Iran memperluas pengaruh regionalnya melalui jaringan sekutu bersenjata di Timur Tengah.
Oleh karena itu dalam percakapan telepon yang berlangsung selama satu jam, Netanyahu secara terbuka menyampaikan ketidaksetujuannya atas keputusan Trump yang menghentikan sementara rencana operasi militer Amerika terhadap Teheran.
Netanyahu bahkan mendesak Washington agar kembali mempertimbangkan opsi serangan militer untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran sebelum negara tersebut semakin memperkuat kemampuan strategisnya.
Menurut sumber di pemerintahan Israel, Netanyahu percaya jalur diplomasi yang kini ditempuh AS hanya akan dimanfaatkan Iran untuk membeli waktu dan menghindari tekanan internasional yang lebih besar.
Israel juga menilai penundaan operasi militer dapat mempersempit peluang menghentikan laju program strategis Iran, terutama yang berkaitan dengan pertahanan dan nuklir.