Iran Vs Amerika Memanas
AS Serang Bertubi-tubi, tapi Iran Masih Kokoh! Intelijen AS Ungkap Fakta Mengejutkan
Intelijen AS menyebut Iran tetap kuat meski dibombardir 13 hari. Teheran juga ancam tutup Selat Hormuz yang bisa picu lonjakan harga minyak dunia.
Ringkasan Berita:
- Intelijen AS menyebut pemerintah Iran Struktur politik, militer, dan keamanan Iran dinilai masih solid meski dibombardir selama 13 hari oleh AS dan Israel.
- Analis menilai tidak ada gelombang pemberontakan besar di dalam negeri. Aparat keamanan kuat dan pemerintah tetap mampu mengendalikan situasi domestik serta masyarakat Iran.
- Iran juga memperingatkan akan menutup Selat Hormuz bagi kapal sekutu AS–Israel, berpotensi memicu lonjakan harga minyak hingga 200 dolar AS per barel.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berlangsung hampir dua pekan.
Meski serangan udara terus dilancarkan, laporan intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran masih stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan dalam waktu dekat.
Informasi tersebut diungkapkan oleh sejumlah sumber yang mengetahui laporan intelijen internal pemerintah AS.
Menurut sumber yang dikutip oleh Reuters, analisis intelijen AS menunjukkan bahwa struktur kekuasaan di Iran tetap solid meskipun negara tersebut telah menghadapi bombardir intensif selama 13 hari.
Penilaian ini didasarkan pada fakta bahwa kepemimpinan politik dan militer Iran masih berfungsi.
Meski sejumlah pejabat tinggi dan fasilitas militer menjadi target serangan, struktur pemerintahan negara tersebut tetap berjalan dan mampu mempertahankan kontrol terhadap aparat keamanan serta masyarakat di dalam negeri.
Intelijen Amerika menilai pemerintah Iran masih memiliki kemampuan untuk mengendalikan situasi domestik, sehingga tidak terlihat tanda-tanda keruntuhan politik dalam waktu dekat.
Selain itu, tidak muncul gelombang pemberontakan besar di dalam negeri meskipun serangan militer terus berlangsung.
Para analis menyebut bahwa situasi perang justru membuat sebagian masyarakat Iran cenderung tetap berada di bawah kendali pemerintah, sementara potensi oposisi belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menggoyang kekuasaan di Teheran.
Kelompok-kelompok yang berpotensi menekan pemerintah juga dinilai belum memiliki kemampuan untuk memicu pemberontakan yang dapat mengancam stabilitas negara.
Faktor lain yang membuat pemerintahan Iran tetap bertahan adalah kekuatan aparat keamanan negara, termasuk jaringan militer dan intelijen yang sudah lama terbentuk.
Baca juga: FBI Ketar-Ketir! Iran Diduga Siapkan Drone Mematikan untuk Serang Pantai California
Institusi keamanan tersebut dinilai masih solid dan mampu menjaga stabilitas internal meskipun negara sedang menghadapi tekanan militer dari luar.
Struktur keamanan yang kuat ini membuat pemerintah dapat mempertahankan kendali atas wilayahnya dan mencegah situasi berubah menjadi kekacauan politik.
Kondisi tersebut menantang narasi yang menyebut serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel dapat dengan cepat melemahkan pemerintahan di Teheran.
Sebaliknya, laporan tersebut justru membuktikan bahwa rezim Iran masih memiliki fondasi politik dan keamanan yang cukup kuat untuk bertahan dari tekanan eksternal yang sedang berlangsung.
Iran Ultimatum AS
Di tengah konflik yang memanas, Iran juga meningkatkan tekanan terhadap pasar energi dunia pemerintah Iran melalui militer elitnya mengeluarkan peringatan keras terkait jalur energi paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran yang mewakili Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menegaskan tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati jalur tersebut bagi kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu keduanya.
Menurutnya, kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel akan diperlakukan sebagai target militer yang sah.
Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa upaya negara Barat untuk menurunkan harga minyak secara buatan tidak akan berhasil.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Bersiaplah melihat harga minyak mencapai 200 dolar AS per barel,” kata juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Iran menilai ketidakstabilan keamanan di kawasan Timur Tengah tidak terlepas dari keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Menurut pejabat militer Iran, eskalasi ketegangan yang terjadi saat ini dipicu oleh serangkaian serangan dan operasi militer yang dilakukan oleh kedua negara terhadap target di Iran.
Situasi tersebut lantas memaksa Iran melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Siklus serangan dan balasan inilah yang membuat ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran global.
Ini karena kawasan Teluk khususnya selat Hormuz merupakan salah satu perdagangan energi global dimana seperlima pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut setiap hari.
Jika jalur tersebut terganggu akibat konflik militer atau ancaman terhadap kapal-kapal tanker, distribusi minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak dapat terhambat. Kondisi ini berpotensi memicu penurunan pasokan di pasar global.
Itulah sebabnya pejabat Iran memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga menyentuh 200 dolar AS per barel apabila konflik regional terus meningkat dan keamanan jalur energi utama dunia tidak dapat dijamin.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.