Rabu, 29 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Negosiasi Iran Buntu, Wapres AS JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Biang Kerok

JD Vance menegaskan bahwa pihaknya masih akan mengajukan "tawaran terakhir dan terbaik" sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan di Pakistan

Tayang:
Penulis: Bobby W
Editor: Endra Kurniawan

Ringkasan Berita:
  • Wapres AS JD Vance mengonfirmasi bahwa perundingan selama 21 jam dengan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan
  • Meski berakhir buntu, Vance mengaku pihaknya meninggalkan "tawaran terakhir dan terbaik" untuk dipertimbangkan oleh Teheran
  • Adapun menurut Vance, akar utama kebuntuan negosiasi adalah fasilitas nuklir milik Iran
  • AS menuntut komitmen fundamental jangka panjang agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, meskipun Iran membantah berupaya memproduksi bom atom.

 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, menyatakan bahwa perundingan dengan Iran, pada Minggu (12/4/2026) gagal mencapai kesepakatan.

Namun demikian, JD Vance menegaskan bahwa pihaknya masih akan mengajukan "tawaran terakhir dan terbaik" sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan di Pakistan.

Melansir dari AFP, Vance mengisyaratkan pihaknya masih memberikan waktu bagi Teheran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut. 

Sebelumnya pada Selasa lalu (7/4/2026), AS telah menyampaikan akan menangguhkan serangan bersama Israel selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi.

"Kami berangkat dari sini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kami akan melihat apakah pihak Iran menerimanya," ujar Vance kepada wartawan usai 21 jam perundingan di Islamabad, Pakistan.

Vance menjelaskan bahwa akar utama perselisihan berpusat pada masalah fasilitas nuklir milik Iran.

Iran bersikeras tidak sedang berupaya memproduksi bom atom, sementara AS dan Israel telah membombardir sejumlah situs sensitif Iran, baik dalam perang yang meletus pada 28 Februari lalu maupun sepanjang tahun 2025.

"Fakta sederhananya adalah kita perlu melihat komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir," tegas Wapres AS tersebut.

JD Vance menegaskan langkah Iran untuk menghentikan pengembangan nuklir ini jadi kunci dari negosiasi yang ada di antara kedua negara.

"Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen fundamental dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir ...bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap kami akan melihatnya." sambung JD Vance.

Dalam pernyataan singkatnya di sebuah hotel mewah di Islamabad tempat kedua delegasi bertemu, Vance tidak menyinggung perbedaan pendapat terkait isu krusial lainnya.

Vance juga tak menyinggung terkait masalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi penyebab kegaduhan ekonomi global.

Baca juga: Negosiasi Deadlock, Tim Negosiasi AS Tinggalkan Pakistan, Penjelasan Iran Berbeda

Jalur sempit ini merupakan titik transit bagi seperlima pasokan minyak dunia yang diblokir oleh Iran sejak perang dimulai, memicu lonjakan harga energi global.

Vance juga menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah bersikap akomodatif selama perundingan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved