Senin, 13 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

AS Cabut Sanksi Minyak Rusia yang Tertahan di Laut Selama 30 Hari

AS mencabut sanksi minyak Rusia sementara selama 30 hari. Negara atau perusahaan bisa membeli minyak Rusia yang masih ada di kapalnya di laut.

Facebook The White House
PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada 9 Januari 2026. Pada 12 Maret 2026, AS mencabut sanksi minyak Rusia sementara selama 30 hari. Negara atau perusahaan bisa membeli minyak Rusia yang masih ada di kapalnya di laut. 
Ringkasan Berita:
  • AS memberi izin sementara 30 hari bagi negara/perusahaan untuk membeli minyak Rusia yang masih ada di kapal laut guna menstabilkan pasar energi global. 
  • Izin dari Office of Foreign Assets Control berlaku untuk minyak yang dimuat 12 Maret–11 April 2026.
  • Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebut izin ini terbatas dan tidak memberi keuntungan besar ke Rusia.
  • Kebijakan ini muncul setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu gangguan perdagangan minyak global.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1479 pada Jumat (13/3/2026).

Pemerintah Amerika Serikat memberikan izin sementara selama 30 hari untuk membeli minyak dan produk petroleum dari Rusia yang saat ini masih berada di kapal di laut. 

Kebijakan ini diumumkan oleh Office of Foreign Assets Control dari Departemen Keuangan AS. 

Tujuan langkah ini adalah membantu menstabilkan pasar energi dunia yang sedang bergejolak.

Izin tersebut berlaku untuk minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal mulai 12 Maret 2026 dan akan berakhir pada 11 April 2026. 

Artinya, negara atau perusahaan masih boleh membeli minyak tersebut selama periode waktu yang telah ditentukan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan kebijakan ini hanya bersifat sementara dan sangat terbatas. 

“@POTUS mengambil langkah-langkah tegas untuk mendorong stabilitas di pasar energi global dan berupaya menjaga harga tetap rendah saat kita mengatasi ancaman dan ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh rezim Iran,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah unggahan di X pada hari Kamis (12/3/2026).

“Untuk meningkatkan jangkauan global dari pasokan yang ada, @USTreasury memberikan otorisasi sementara untuk mengizinkan negara-negara membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut,” kata Bessent.

Menurutnya, izin tersebut tidak akan memberikan keuntungan besar bagi pemerintah Rusia, karena sebagian besar pendapatan energi Rusia berasal dari pajak yang dipungut saat produksi minyak di dalam negeri.

Sebaliknya, Bessent mengatakan langkah ini justru bisa membantu perekonomian Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Baca juga: Pesawat Tanker Militer AS Jatuh di Irak saat Dukung Operasi di Iran, Diduga Bertabrakan

Izin sementara ini diharapkan dapat menjaga pasokan energi agar tetap stabil dan mencegah lonjakan harga minyak di pasar global.

Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller mengatakan pemerintah sedang berupaya menekan harga energi. 

Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga menyatakan AS akan melonggarkan beberapa sanksi terkait minyak untuk menurunkan harga energi yang meningkat akibat serangan AS-Israel terhadap Iran.

Namun, Trump tidak merinci negara mana saja yang terdampak oleh kebijakan tersebut.

Pada 5 Maret, AS telah mengeluarkan pengecualian 30 hari yang memungkinkan India untuk membeli minyak Rusia, setelah sebelumnya memberlakukan sanksi berat terkait perang di Ukraina.

Pada 28 Februari, AS-Israel menyerang Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer keduanya di Timur Tengah.

Iran juga memblokade Selat Hormuz, jalur pengiriman global di Timur Tengah yang mengakibatkan terhambatnya perdagangan minyak global hingga memicu kenaikan harga energi, lapor Suspilne.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina mulai terjadi pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer besar ke beberapa kota di Ukraina. Serangan ini sebenarnya merupakan puncak dari ketegangan yang sudah berlangsung lama antara kedua negara.

Konflik ini berawal setelah Uni Soviet bubar pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Sikap tersebut membuat Rusia merasa pengaruhnya di kawasan bekas wilayah Soviet mulai berkurang.

Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 ketika terjadi demonstrasi besar di ibu kota Ukraina, Kyiv. Demonstrasi yang dikenal sebagai Revolusi Maidan itu menyebabkan pergantian pemerintahan yang lebih mendukung kerja sama dengan Barat. Sebagai respons, Rusia kemudian mengambil alih wilayah Krimea dari Ukraina.

Pada waktu yang sama, konflik bersenjata juga terjadi di wilayah Donbas di bagian timur Ukraina. Pasukan pemerintah Ukraina bertempur dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Meski sempat ada upaya perdamaian, konflik di wilayah tersebut terus berlanjut.

Ketegangan akhirnya memuncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan operasi militer besar ke Ukraina. Rusia mengatakan langkah itu untuk melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas dan mencegah perluasan aliansi militer NATO di wilayah tersebut.

Serangan tersebut langsung mendapat kecaman dari banyak negara. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta memberikan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina. Sejak saat itu, perang Rusia–Ukraina menjadi salah satu konflik internasional terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Perang masih berlanjut hingga saat ini dan AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Rusia Klaim AS Mulai Memahami Pentingnya Minyak Rusia

Utusan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut pemerintah Amerika Serikat mulai memahami pentingnya minyak Rusia bagi pasar energi dunia. 

Hal itu disampaikan setelah negosiator Rusia Kirill Dmitriev mengadakan pertemuan dengan pihak AS. 

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas kemungkinan kerja sama energi yang dapat membantu memperbaiki hubungan Rusia–AS sekaligus menstabilkan pasar energi global.

  • AS Beri Izin Sementara Pembelian Minyak Rusia

Amerika Serikat mengeluarkan izin sementara selama 30 hari bagi beberapa negara untuk membeli minyak Rusia yang masih berada di laut. 

Keputusan ini muncul setelah diskusi antara Rusia dan AS di Florida. 

Kebijakan tersebut bertujuan menstabilkan pasar energi yang terguncang akibat konflik di Timur Tengah, namun mendapat kritik karena dinilai bisa membantu pendanaan perang Rusia.

  • Rusia Raup €6 Miliar dari Penjualan Energi

Data terbaru menunjukkan Rusia memperoleh sekitar €6 miliar dari penjualan bahan bakar fosil hanya dalam dua minggu sejak konflik AS–Israel dengan Iran meningkat. 

Pendapatan ini berasal dari penjualan minyak, gas, dan batu bara. 

Pada bulan Maret saja, Rusia diperkirakan mendapatkan tambahan sekitar €672 juta dari sektor energi, lapor The Guardian.

  • Hungaria Kembalikan Kendaraan Ukraina, Tahan Uang dan Emas

Pemerintah Hungaria mengembalikan dua kendaraan lapis baja milik bank Ukraina yang sebelumnya disita. 

Namun, mereka masih menahan uang tunai dan emas bernilai jutaan euro karena dugaan kasus pencucian uang. 

Pemerintah Ukraina mengecam tindakan tersebut dan menuduh Hungaria menggunakan kasus ini untuk menekan Kyiv terkait masalah pengiriman minyak.

  • Uni Eropa Ingin Periksa Pipa Minyak Druzhba di Ukraina

Uni Eropa mengusulkan misi untuk memeriksa jalur pipa minyak Druzhba pipeline yang melewati Ukraina

Pipa tersebut memasok minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia, tetapi alirannya berhenti sejak akhir Januari akibat kerusakan. 

Ukraina menyebut kerusakan terjadi karena serangan Rusia, sementara Slovakia dan Hongaria menuduh Ukraina bertanggung jawab atas gangguan tersebut.

  • Viktor Orbán Tuduh Ukraina Mengancam Keluarganya

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán menuduh pihak Ukraina bersekongkol untuk menyerang keluarganya. 

Tuduhan ini muncul di tengah hubungan yang semakin tegang antara Budapest dan Kyiv. 

Perselisihan tersebut juga terjadi saat Orbán menghadapi pemilu, di mana ia tertinggal cukup jauh dari pesaingnya, Péter Magyar, dalam jajak pendapat.

  • Ukraina Bagikan Data Perang untuk Latih AI Drone

Ukraina membuka akses data medan perang kepada sekutu-sekutunya untuk membantu mengembangkan teknologi kecerdasan buatan bagi drone militer. 

Data tersebut dapat digunakan untuk melatih sistem AI agar mampu mengenali target di medan perang secara otomatis. 

Banyak perusahaan dan negara sekutu tertarik memanfaatkan data ini untuk meningkatkan teknologi militer mereka.

  • Uni Eropa Ancam Hentikan Dana Biennale Jika Rusia Ikut

Komisi Eropa memperingatkan akan menghentikan pendanaan untuk Venice Biennale jika penyelenggara tetap mengizinkan Rusia berpartisipasi. 

Festival seni tersebut menerima dana sekitar €2 juta dari Uni Eropa. 

Ukraina menilai keikutsertaan Rusia dapat menjadi cara bagi Moskow untuk menutupi tuduhan kejahatan perang.

  • Ukraina dan Rumania Sepakat Produksi Drone Bersama

Ukraina dan Romania menandatangani kesepakatan awal untuk memproduksi sistem pertahanan, termasuk drone militer, di wilayah Rumania. 

Negara anggota Uni Eropa dan NATO ini berbatasan langsung dengan Ukraina sepanjang sekitar 650 km.

Kerja sama ini bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina menghadapi invasi Rusia.

  • Rusia Tuduh Ukraina Serang Jalur Pipa Gas ke Turki

Kremlin menuduh Ukraina mencoba menyerang fasilitas gas utama di Rusia selatan yang memasok energi ke Turki menggunakan drone. 

Menurut juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, target serangan adalah stasiun kompresor Russkaya yang menjadi bagian dari jalur pipa internasional. 

Rusia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan berbahaya yang dapat mengganggu keamanan energi kawasan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved