Rabu, 3 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Profil Gholamreza Soleimani, Komandan Basij Iran yang Tewas dalam Serangan AS–Israel

Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan Basij Iran, tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
  • Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan Basij Iran, tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
  • Ia adalah veteran Perang Iran–Irak yang kemudian memimpin Basij sejak 2019 atas penunjukan Ali Khamenei.
  • Pasukan di bawah komandonya berperan besar dalam menekan protes domestik dan membuatnya dikenai sanksi oleh negara-negara Barat.


TRIBUNNEWS.COM - Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij Iran, tewas dalam serangan AS–Israel.

Dalam pernyataan yang dibagikan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Selasa (17/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa pria berusia 62 tahun itu tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.

Mengutip Al Jazeera, Soleimani adalah komandan pasukan keamanan internal terkuat di negara itu selama enam tahun terakhir.

Ia juga merupakan veteran Perang Iran–Irak yang pernah bertempur di garis depan.

Iran juga mengonfirmasi pada Rabu (18/3/2026) pagi bahwa Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, telah tewas.

Dengan meningkatnya penargetan pasukan AS dan Israel terhadap Basij serta aparat militer lainnya, Soleimani muncul sebagai tokoh sentral dalam perang yang telah menewaskan sejumlah tokoh politik dan militer terkemuka Iran.

Sepak Terjang Soleimani

Gholamreza Soleimani lahir pada tahun 1964 di kota Farsan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari.

Karier militernya ditempa di parit-parit Perang Iran–Irak pada 1980–1988.

Meski memiliki nama belakang yang sama, Gholamreza tidak memiliki hubungan keluarga dengan Qassem Soleimani, mendiang komandan Pasukan Quds, sayap elit rahasia Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad pada tahun 2020.

Pada musim semi 1981, Gholamreza Soleimani dikerahkan ke garis depan Shush di perbatasan Irak sebagai sukarelawan remaja.

Selama konflik delapan tahun yang melelahkan itu, ia berpartisipasi dalam beberapa serangan besar, termasuk Operasi Tariq al-Qods, Fath ol-Mobin, dan Beit ol-Moqaddas. Ia bertugas sebagai pejuang sekaligus komandan batalion.

PROFIL GHOLAMREZA SOLEIMANI - Tangkap layar YouTube Al Jazeera English pada 17 Maret 2026, memperlihatkan komandan unit Basij Iran, Gholamreza Soleimani. Ia tewas dalam serangan AS-Israel.
PROFIL GHOLAMREZA SOLEIMANI - Tangkap layar YouTube Al Jazeera English pada 17 Maret 2026, memperlihatkan komandan unit Basij Iran, Gholamreza Soleimani. Ia tewas dalam serangan AS-Israel. (Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera)

Baca juga: Profil Ali Larijani, Filsuf dan Arsitek Keamanan Iran yang Gugur dalam Serangan Israel

Ia bergabung dengan IRGC pada tahun 1982.

Setelah perang berakhir, Soleimani memegang berbagai komando regional tingkat tinggi.

Perannya yang paling menonjol dimulai pada tahun 2006 ketika ia mengambil alih komando Korps Saheb al-Zaman di Provinsi Isfahan.

Ia menjadi komandan pertama yang secara bersamaan mengawasi pasukan Basij lokal dan unit tempur resmi IRGC.

Pada Juli 2017, ia secara resmi dipromosikan ke pangkat brigadir jenderal.

Menurut biografi resminya yang diterbitkan oleh media Iran, ia memiliki gelar sarjana sejarah dari Universitas Isfahan.

Ia juga merupakan kandidat doktor yang sedang mempersiapkan untuk mempertahankan tesisnya dalam sejarah Islam Iran, meskipun media pemerintah tidak menyebutkan institusinya.

Mengambil Alih Kepemimpinan Basij

Pada 2 Juli 2019, Ali Khamenei menunjuk Soleimani sebagai kepala Basij, pasukan paramiliter sukarelawan di bawah IRGC.

Basij bertugas menegakkan keamanan internal melalui cabang-cabang lokal di seluruh negeri.

Baik Basij maupun IRGC dibentuk pada tahun 1979 setelah Revolusi Islam menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat.

Dekrit resmi tersebut menugaskan Soleimani untuk memperkuat Basij dan budaya perlawanan, sekaligus memperluas kelompok bersenjata serta memperdalam nilai-nilai revolusioner di kalangan pemuda Iran.

Sebagai komandan Basij, Soleimani sering dikerahkan untuk meredam kerusuhan domestik.

Pada November 2019, beberapa bulan setelah ia mengambil alih komando, Basij sangat terlibat dalam penindasan keras terhadap protes anti-pemerintah di seluruh negeri.

Pasukan paramiliter yang diperkirakan berjumlah sekitar 450.000 personel ini sering dikerahkan untuk menekan protes terhadap pemerintah dan telah memainkan peran utama dalam menindak pemberontakan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Revolusi Hijau 2009 serta protes 2022–2023 setelah kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi.

Baru-baru ini, pasukannya dikerahkan pada Januari untuk menekan demonstrasi anti-pemerintah di seluruh Iran, di mana ribuan warga Iran dilaporkan tewas.

Sebagai pembela setia pemerintah Iran, Soleimani telah dikenai sanksi oleh banyak negara dan organisasi Barat, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada.

Pada tahun 2021, Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepadanya dengan mencatat bahwa pasukan Basij di bawah komandonya menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran yang tidak bersenjata.

Mengutip PBS, tewasnya Larijani dan Soleimani dilaporkan terjadi menjelang "Chaharshanbe Souri", atau Festival Api, yang berlangsung menjelang Tahun Baru Persia.

Pihak berwenang mengirimkan pesan teks berisi ancaman yang mendesak masyarakat untuk tidak merayakan festival tersebut. Mereka memperingatkan bahwa perayaan yang biasanya meriah dapat dimanfaatkan oleh "perusuh".

Baca juga: Seruan Trump Dicueki Israel, IRGC Iran Umumkan Terbunuhnya Jenderal Komandan Pasukan Basij

Update Terkini

Sementara itu, Iran terus meningkatkan tekanan terhadap negara-negara tetangganya serta infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Di Irak, dua drone ditembak jatuh oleh sistem pertahanan di Kedutaan Besar AS di Baghdad, sementara drone ketiga jatuh di dalam kompleks kedutaan.

Seorang jurnalis Associated Press di daerah tersebut melihat kebakaran besar yang tampaknya melahap sebuah bangunan di kompleks itu.

Di Uni Emirat Arab, sebuah fasilitas minyak di Fujairah terkena serangan. Seorang pria tewas di Abu Dhabi akibat puing-puing dari rudal yang dicegat. Ia menjadi orang kedelapan yang tewas di UEA sejak awal perang, kata pihak berwenang.

Arab Saudi mengatakan telah mencegat drone, sementara sistem pertahanan udara terdengar menargetkan tembakan yang datang di atas ibu kota Qatar, Doha.

Cengkeraman Iran atas Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, telah memicu kekhawatiran meningkat tentang potensi gangguan pasokan energi global.

Sejumlah kecil kapal masih melintasi selat tersebut, dan Iran mengatakan bahwa jalur air itu secara teknis tetap terbuka, meskipun tidak bagi Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka.

Sekitar 20 kapal dilaporkan telah diserang sejak perang dimulai.

Dengan naiknya harga minyak, Trump mengatakan bahwa ia telah meminta sekitar enam negara untuk mengirimkan kapal perang guna memastikan kapal-kapal dapat melewati selat tersebut.

Trump juga menyatakan kemarahannya pada Selasa karena AS tidak mendapatkan dukungan yang cukup, meskipun menurutnya hampir setiap negara setuju dengan tindakan yang dilakukan AS dan bahwa Iran tidak boleh diizinkan memperoleh senjata nuklir.

Diplomat tertinggi Uni Eropa mengatakan bahwa blok yang terdiri dari 27 negara tersebut tidak ingin terseret ke dalam konflik dengan Iran.

"Ini bukan perang Eropa," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, kepada anggota parlemen Uni Eropa pada Selasa.

"Kami tidak dimintai pendapat."

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya juga menegaskan bahwa Prancis siap membantu mengamankan selat tersebut, tetapi hanya setelah pemboman besar-besaran berhenti.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved