Sabtu, 25 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Bagaimana China Melindungi Diri dari Krisis Minyak Iran

China mampu menghadapi krisis minyak global berkat cadangan strategis yang sangat besar dan perencanaan jangka panjang.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Tasnim News
FASILITAS MINYAK IRAN - Gambar yang dirilis Tasnim menampilkan Fase 12 Kompleks Gas South Pars-Assaluyeh. Serangan Israel dan Iran terhadap fasilitas energi memicu eskalasi konflik menjadi perang ekonomi yang berdampak global. 
Ringkasan Berita:
  • China mampu menghadapi krisis minyak global berkat cadangan strategis yang sangat besar dan perencanaan jangka panjang.
  • Negara tersebut juga mengurangi ketergantungan pada minyak melalui pengembangan energi terbarukan dan kendaraan listrik.
  • Strategi ini membuat China lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak dibanding banyak negara lain.

TRIBUNNEWS.COM - Konflik Iran, yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari, kini telah berlarut-larut selama tiga minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Akibatnya, harga minyak mengalami lonjakan tajam dan terus berfluktuasi naik setiap hari.

Mengutip The Daily Digest, setelah harga minyak mencapai 120 dolar AS per barel, puluhan negara terpaksa menggunakan cadangan minyak mentah mereka untuk mencoba menstabilkan pasar, meskipun upaya tersebut belum berhasil.

Bahkan negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA), koalisi yang terdiri dari 32 negara konsumen energi utama, telah melepaskan ratusan juta barel minyak dari cadangan strategis mereka, namun harga tetap meningkat.

Blokade Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas minyak di Teluk Persia oleh Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memperburuk krisis yang kini berdampak hampir ke seluruh dunia.

China, yang berperan di balik layar secara relatif senyap namun aktif sejak awal konflik, tampaknya memiliki cadangan minyak strategis yang melampaui banyak perkiraan.

Menurut DW, cadangan minyak China diperkirakan mencapai 1,3 miliar barel, meskipun tidak ada angka resmi.

Jumlah tersebut, dinilai mampu menopang perekonomian China selama hampir empat bulan.

KILANG MINYAK IRAN - Gambar yang dirilis Tasnim News Agency pada 21 Mei 2013, menampilkam fasilitas darat South Pars di dekat Asaluyeh (Tasnim News Agency)
KILANG MINYAK IRAN - Gambar yang dirilis Tasnim News Agency pada 21 Mei 2013, menampilkan fasilitas darat South Pars di dekat Asaluyeh (Tasnim News Agency) (Tasnim News Agency)

Sebagai perbandingan, total cadangan darurat publik negara-negara anggota IEA mencapai sekitar 1,2 miliar barel, yang berarti China memiliki cadangan lebih besar dibandingkan gabungan mereka.

Sementara itu, cadangan strategis Amerika Serikat diperkirakan sekitar 415 juta barel, ditambah sekitar 439 juta barel milik sektor swasta, yang secara keseluruhan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 40 hari.

Lalu, bagaimana China bisa memiliki cadangan sebesar itu?

Baca juga: 10 Negara Penghasil Minyak Terbanyak vs 10 Negara dengan Cadangan Minyak Terbanyak, Ini Perbedaannya

Jawabannya mungkin terletak pada perencanaan jangka panjang serta langkah antisipatif, terutama sejak awal 2026.

Menurut Reuters, China secara signifikan meningkatkan cadangan minyak mentahnya pada Januari dan Februari melalui peningkatan impor dan produksi domestik.

Impor minyak mentah China rata-rata mencapai 12 juta barel per hari, ditambah produksi domestik sebesar 4,42 juta barel per hari.

Sementara itu, kilang memproses sekitar 15,17 juta barel per hari pada dua bulan pertama 2026.

Artinya, terdapat surplus sekitar 1,24 juta barel per hari yang dialokasikan ke cadangan darurat, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1,13 juta barel per hari pada 2025.

Cadangan minyak strategis sendiri merupakan stok minyak mentah yang dikelola pemerintah untuk digunakan saat terjadi gangguan pasokan atau krisis pasar.

Konsep ini mulai berkembang sejak 1975, ketika Amerika Serikat merespons embargo minyak Arab yang memicu lonjakan harga hingga empat kali lipat dan kelangkaan energi di Barat.

Saat ini, banyak negara memiliki cadangan serupa, terutama anggota IEA, namun skala cadangan China tetap menjadi salah satu yang terbesar.

Kenaikan harga minyak saat ini telah berdampak luas terhadap harga berbagai produk global, meningkatkan risiko krisis ekonomi yang lebih besar.

Strategi Energi yang Berbeda

Selain membangun cadangan besar, China juga menjalankan strategi diversifikasi energi.

Menurut CNBC (mengutip data IEA), energi terbarukan (tidak termasuk nuklir dan tenaga air) menyumbang sekitar 1,2 persen dari total konsumsi energi China pada 2023, naik dari 0,2 persen dua dekade sebelumnya.

India dan Amerika Serikat mencatat angka sekitar 0,2 persen pada periode yang sama.

Meski porsinya masih kecil, tren peningkatan ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.

Dorongan China terhadap kendaraan listrik, khususnya truk, telah mengurangi kebutuhan minyak hingga lebih dari 1 juta barel per hari, menurut Rhodium Group (Juli 2025).

Angka tersebut, diperkirakan akan bertambah sekitar 600.000 barel per hari dalam 12 bulan berikutnya.

Lebih dari separuh kendaraan penumpang baru yang terjual di China kini merupakan kendaraan energi baru, yang lebih bergantung pada baterai dibandingkan bahan bakar fosil.

“Dengan permintaan bahan bakar transportasi yang mulai mencapai puncaknya dan kapasitas energi terbarukan yang terus berkembang, sensitivitas China terhadap fluktuasi harga minyak semakin menurun,” ujar analis OCBC.

“Dalam jangka panjang, elektrifikasi transportasi dan ekspansi energi terbarukan akan semakin melindungi perekonomian dari guncangan harga minyak.”

Saat ini, minyak dan gas hanya menyumbang sekitar 4 persen dari bauran energi China, jauh lebih rendah dibandingkan 40–50 persen di banyak negara Asia lainnya.

Sebaliknya, listrik, yang sebagian besar masih berasal dari batu bara namun semakin didukung energi terbarukan, menjadi komponen yang terus meningkat dalam konsumsi energi China, menurut lembaga think tank Ember.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved