Iran Vs Amerika Memanas
Trump Ancam Ambil Material Nuklir Iran Secara Paksa, Isyaratkan Serangan Bisa Dilanjutkan
Donald Trump melontarkan ancaman tegas kepada Iran terkait program nuklirnya, sembari membuka peluang aksi militer jika negosiasi gagal.
Ringkasan Berita:
- Trump mengancam akan mengambil material nuklir Iran secara paksa jika kesepakatan tidak tercapai.
- AS membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer setelah gencatan senjata berakhir.
- Tidak akan ada pungutan di Selat Hormuz meski situasi geopolitik memanas.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dalam isu program nuklir.
Dalam pernyataannya kepada wartawan saat perjalanan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Trump menegaskan bahwa AS siap mengambil material nuklir Iran, bahkan dengan cara paksa jika diperlukan.
Trump menyebut bahwa pihaknya menginginkan penyelesaian melalui kesepakatan, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Ia menegaskan bahwa jika jalur diplomasi gagal, maka langkah yang lebih keras akan ditempuh.
“Kami akan masuk ke Iran dan mengambilnya, lalu membawanya ke AS. Jika tidak, kami akan mendapatkannya dengan cara lain yang jauh lebih tidak bersahabat,” ujarnya, mengutip Anadolu Agency, Senin (20/4/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah berlangsungnya gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan.
Gencatan senjata itu dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat, dan Trump mengisyaratkan belum tentu akan memperpanjangnya.
Baca juga: AS Serang dan Sita Kapal Berbendera Iran, Disebut Coba Hindari Blokade di Dekat Selat Hormuz
Saat ditanya mengenai kelanjutan gencatan senjata, Trump menyatakan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap berlangsung, bahkan jika kesepakatan tidak tercapai.
Ia juga secara terbuka mengungkap kemungkinan dimulainya kembali serangan militer.
“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya. Blokade akan tetap ada, dan kami mungkin harus mulai menjatuhkan bom lagi,” katanya.
Di sisi lain, Trump menanggapi klaim Iran yang menyebut masih adanya perbedaan dalam proses negosiasi.
Menurutnya, pernyataan tersebut lebih ditujukan untuk konsumsi domestik Iran dibanding mencerminkan kondisi sebenarnya di meja perundingan.
“Mereka harus mengatakan sesuatu yang berbeda karena ada pihak dalam negeri yang harus mereka puaskan,” ujar Trump.
Meski retorika meningkat tajam, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberlakukan pungutan atau tarif terhadap jalur strategis di Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan salah satu rute penting bagi distribusi energi global.
“Tidak. Tidak mungkin. Tidak akan ada pungutan,” tegasnya.
Ketegangan antara AS dan Iran sendiri terus menjadi perhatian dunia, mengingat dampaknya yang luas terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.
(*)