Iran Vs Amerika Memanas
Trump Tolak Gencatan Senjata, Konflik AS-Israel vs Iran Kian Memanas
Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak mendukung gencatan senjata dengan Iran, di tengah eskalasi konflik.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump menolak gencatan senjata dan menargetkan kemenangan penuh dalam konflik.
- Iran menyalahkan AS atas perang dan membalas dengan serangan serta penutupan Selat Hormuz.
- Konflik AS-Israel vs Iran terus memanas dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta pasokan energi global.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah pilihan saat pihak lawan dianggap telah dilemahkan secara signifikan.
Ia juga mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki tujuan yang sejalan dalam konflik ini, yakni mencapai kemenangan penuh.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan meningkatnya korban akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 lalu.
Dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani, mengutip Anadolu Agency, Sabtu (21/3/2026).
Di sisi lain, Iran menolak upaya gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pecahnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Baca juga: Klaim Iran Kian Solid, Tuduh Musuh Salah Hitung Kekuatan Internal
Situasi semakin kompleks setelah Iran membatasi akses di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak global.
Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan militer, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Trump sendiri meremehkan dampak penutupan jalur tersebut bagi AS, dengan menyebut bahwa negara-negara lain seperti Eropa dan Asia justru lebih bergantung pada jalur tersebut.
Namun, seruannya agar negara lain ikut terlibat membuka kembali selat itu tidak mendapat banyak dukungan internasional.
Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari, konflik terus berkembang dengan aksi balasan dari Iran.
Yakni melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset terkait AS di kawasan.
Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi lebih luas di Timur Tengah.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TUJUAN-PERANG-TRUMP-DI-IRAN-03032026.jpg)