Iran Vs Amerika Memanas
Trump Ingin Damai dengan Iran tapi Teheran Pasang Syarat Berat, Israel Yakin Tak Tercapai
Presiden AS, Donald Trump dilaporkan ingin menjalin kesepakatan damai dengan Iran. Namun, Iran malah memasang syarat berat.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS, Donald Trump dilaporkan telah memberi sinyal untuk menjalin kesepakatan damai dengan Iran.
- Namun, sinyal Trump ini justru ditanggapi dengan keras oleh pihak Iran.
- Iran dikabarkan telah memperketat posisi tawar mereka dalam negosiasi, seiring dengan meningkatnya dominasi IRGC dalam menentukan kebijakan luar negeri negara tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dilaporkan tengah berupaya keras untuk menjalin kesepakatan damai dengan Iran.
Upaya perdamaian ini guna mengakhiri konflik panas di kawasan Timur Tengah.
Setelah kabar keinginan Trump untuk damai dengan Iran ini muncul, sikap keras malah ditunjukkan oleh Teheran.
Iran dikabarkan telah memperketat posisi tawar mereka dalam negosiasi, seiring dengan meningkatnya dominasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam menentukan kebijakan luar negeri negara tersebut.
Menurut laporan yang dihimpun dari sumber-sumber senior di Teheran, Iran tidak akan sekadar meminta gencatan senjata dalam pembicaraan mendatang dengan AS.
Mereka kini menyusun daftar tuntutan "satu paket" yang diperkirakan bakal membuat pemerintahan Donald Trump meradang.
Menurut laporan Reuters, ada beberapa poin krusial yang menjadi harga mati bagi Iran.
Di antaranya adalah jaminan keamanan mutlak, ganti rugi perang, kendali Selat Hormuz, dan soal program rudal balistik.
Mengerasnya sikap ini disebut-sebut sebagai refleksi dari pergeseran peta politik internal di Iran.
Pasca-serangan yang dilancarkan AS dan Israel bulan lalu, pengaruh faksi moderat semakin terpinggirkan oleh pengaruh IRGC yang kini memegang kendali penuh atas arah meja perundingan.
Mendengar permintaan Iran tersebut, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa situasi diplomatik saat ini masih sangat cair dan terus berkembang.
Baca juga: Pengamat Nilai AS Gegabah Perang Lawan Iran, Terlena dengan Kesuksesan di Venezuela
Leavitt meminta publik untuk tidak menelan mentah-mentah spekulasi yang beredar sebelum ada pernyataan resmi.
Ia menekankan bahwa diplomasi tingkat tinggi seperti ini membutuhkan kerahasiaan dan tidak bisa dilakukan secara terbuka melalui media massa.
"Ini adalah diskusi diplomatik yang sangat sensitif. Amerika Serikat tidak akan melakukan negosiasi melalui pers," tegas Leavitt dalam keterangannya, mengutip Al Arabiya.
"Situasinya sangat dinamis. Spekulasi mengenai pertemuan jangan dianggap final sampai Gedung Putih mengumumkannya secara resmi," lanjutnya.