CEO Perusahaan Teknologi Sebut Ada 2 Tipe Orang yang Sukses di Era AI
CEO Palantir Alex Karp menyebut hanya dua tipe orang yang akan sukses di era AI: mereka yang memiliki keterampilan teknis dan individu neurodivergen.
“Individu neurodivergen akan memainkan peran yang tidak proporsional dalam membentuk masa depan Amerika dan Barat,” demikian tertulis dalam deskripsi program tersebut.
“Mereka melihat melampaui ideologi yang bersifat performatif dan mampu menemukan keindahan di dunia yang dapat diungkapkan melalui teknologi dan seni.”
Pendekatan ini mencerminkan skeptisisme Karp terhadap jalur karier tradisional.
Meski memiliki tiga gelar, termasuk JD dari Stanford dan PhD filsafat dari Universitas Goethe di Jerman, Karp secara terbuka mengkritik keterbatasan pendidikan tinggi dalam ekonomi berbasis AI.
“AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora,” ujar Karp dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, awal tahun ini.
“Jika Anda belajar di sekolah elit dan mengambil filsafat, saya contohkan diri saya sendiri, sebaiknya Anda memiliki keterampilan lain yang lebih mudah dipasarkan.”
Palantir juga meluncurkan Program Beasiswa Meritokrasi yang ditujukan bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Di tengah menurunnya peluang kerja entry-level bagi Generasi Z, sebagian anak muda mulai meragukan bahwa gelar sarjana saja cukup untuk menjamin kesuksesan.
Namun, tidak semua pemimpin teknologi sepakat dengan pandangan tersebut.
Jaime Teevan, kepala ilmuwan Microsoft, menilai pendidikan tinggi, khususnya ilmu humaniora, justru tetap relevan di era AI.
Ia menekankan pentingnya keterampilan metakognitif seperti fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan keberanian menantang ide.
“Keterampilan ini membutuhkan proses yang tidak mudah dan pemikiran mendalam. Dalam hal ini, pendidikan humaniora tradisional tetap penting,” ujarnya kepada The Wall Street Journal.
Berbeda dengan Karp, Daniela Amodei, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan semakin penting di era AI.
“Hal-hal yang membuat kita manusia justru akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya,” katanya kepada ABC News.
Menurutnya, perusahaan kini mencari individu dengan kemampuan komunikasi yang baik, empati tinggi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk membantu orang lain.