CEO Perusahaan Teknologi Sebut Ada 2 Tipe Orang yang Sukses di Era AI
CEO Palantir Alex Karp menyebut hanya dua tipe orang yang akan sukses di era AI: mereka yang memiliki keterampilan teknis dan individu neurodivergen.
Mengutip advisory.com, dalam studi terbaru dari GovAI dan Brookings Institution, peneliti menganalisis lebih dari 350 jenis pekerjaan berdasarkan tingkat paparan terhadap AI dan kemampuan adaptasi pekerjanya.
Paparan AI merujuk pada sejauh mana tugas dalam suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien oleh AI.
Hasilnya, sekitar 37,1 juta pekerja di AS berada dalam kategori paparan AI tertinggi, termasuk penulis, layanan pelanggan, dan penerjemah.
Namun, sekitar 26,5 juta di antaranya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, sehingga berpeluang beralih ke pekerjaan lain jika terdampak.
Pekerja yang lebih mudah beradaptasi umumnya memiliki pendidikan lebih tinggi, pengalaman beragam, berusia di bawah 55 tahun, serta tinggal di wilayah dengan pasar kerja yang kuat.
Carol Chouinard dari Optum Advisory menilai bahwa pendidikan tinggi membantu individu lebih siap untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan baru.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak diatasi dengan kebijakan yang tepat.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pekerja administrasi dan perkantoran memiliki tingkat paparan AI tertinggi dengan kemampuan adaptasi terendah.
Sebanyak 86 persen dari kelompok ini adalah perempuan, yang berarti mereka berisiko terdampak secara tidak proporsional.
“Kelompok ini sangat rentan karena memiliki kontrol terbatas terhadap penggunaan AI dan peluang mobilitas kerja yang rendah,” kata profesor Universitas Virginia, Allison Elias.
Ia menekankan pentingnya pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) untuk menghadapi perubahan ini.
Di sektor kesehatan, sebagian besar pekerjaan masih relatif aman dari dampak AI.
Profesi seperti teknolog bedah, perawat, dokter, serta teknisi laboratorium memiliki risiko rendah.
Namun, beberapa peran seperti pekerja sosial kesehatan, teknisi farmasi, dan tenaga administrasi medis dinilai lebih rentan terhadap otomatisasi.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)