Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Jenderal Iran: Pasukan AS Ngumpet di Hotel Sipil, Kemunduran yang Memalukan

Iran klaim 17 pangkalan AS hancur dan pasukan AS kini berlindung di sipil, konflik memanas sejak serangan awal AS-Israel.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Eko Sutriyanto
media pemerintah Iran IRNA
JUBIR MILITER IRAN - Foto ini diambil dari media pemerintah Iran IRNA pada Jumat (13/6/2025) yang menampilkan juru bicara Angkatan Bersenjata, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi. Abolfazl Shekarchi mengatakan militer Iran memantau pasukan Amerika Serikat (AS) di seluruh wilayah tersebut. Ia juga mengatakan struktur militer AS di Asia Barat akan runtuh dalam waktu sesingkat mungkin. 

Ringkasan Berita:
  • Jubir militer Iran menyebut pasukan AS di Asia Barat melemah, bahkan berlindung di fasilitas sipil setelah pangkalan mereka diserang 
  • Ia mengklaim 17 pangkalan AS telah dihancurkan dan menilai itu bukti ketidakmampuan bertahan 
  • Konflik memanas sejak serangan AS-Israel ke Iran, disusul balasan beruntun hingga meluas ke Lebanon

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi mengatakan militer Iran memantau pasukan Amerika Serikat (AS) di seluruh wilayah tersebut.

Ia juga mengatakan struktur militer AS di Asia Barat akan runtuh dalam waktu sesingkat mungkin.

Dalam wawancara luas yang disiarkan di televisi nasional pada Kamis (26/3/2026) yang dikutip Press TV, ia mengkritik keras petualangan militer AS di wilayah itu.

Dia juga mengatakan personel militer AS kini terpaksa meninggalkan pangkalan militer tertentu dan berlindung di hotel-hotel sipil.

Ia pun mengecam langkah AS tersebut.

"Amerika, yang dulunya mengandalkan pangkalan militer mereka untuk membangun kehadiran, sekarang bersembunyi di hotel dan mengandalkan daerah sipil di wilayah kita sebagai perisai pelindung," kata Shekarchi dikutip dari Press TV Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Iran Merasa Proposal AS Bersifat Sepihak dan Tak Adil, Kini Tekankan Kedaulatannya atas Selat Hormuz

"Ini menandai kemunduran yang memalukan dan pengakuan atas ketidakmampuan mereka untuk membela diri," lanjut dia.

Dia juga mengatakan pasukan AS tidak lagi mampu mempertahankan kehadiran militer di beberapa wilayah Asia Barat karena telah hancurnya pangkalan-pangkalan utama AS.

"Kami telah membongkar 17 pangkalan AS di wilayah tersebut, dan mereka gagal melindungi pasukan atau instalasi mereka," kata Shekarchi.

Perang terbuka itu sebelumnya diawali serangan militer Amerika Serikat (AS) - Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan itu kemudian menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah jenderal top Iran.

Serangan militer AS di hari itu belakangan juga diduga kuat menewaskan ratusan orang di sebuah Sekolah Dasar (SD) perempuan di Minab.

Sebagian besar korban tewas dalam serangan yang diduga kuat menggunakan rudal Tomahawk itu siswi berusia 7 hingga 12 tahun di hari pertama serangan.

Sejak saat itu, Iran terus melakukan serangan militer balasan kepada pangkalan dan fasilitas militer AS di negara-negara sekitarnya serta wilayah pendudukan Israel.

Terkini, Iran menyatakan telah meluncurkan serangan balasan gelombang ke-83 pada Jumat (27/3/2026) dini hari.

Perang itu juga meluas hingga Lebanon di mana Hizbullah berperang dengan militer Israel.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved