Minggu, 26 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Minta Negara yang Terancam Krisis Segera Rebut Selat Hormuz

Trump minta negara yang terancam krisis segera merebut Selat Hormuz yang diblokade Iran, tegaskan AS tak akan bantu mereka jika mereka tak bantu AS.

Facebook The White House
PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada 31 Maret 2026. Trump minta negara yang terancam krisis segera merebut Selat Hormuz yang diblokade Iran, tegaskan AS tak akan bantu mereka jika mereka tak bantu AS. 
Ringkasan Berita:
  • Trump mendesak negara yang terdampak krisis energi untuk mengendalikan Selat Hormuz yang diblokade Iran.
  • Trump memperingatkan negara yang tak mendukung AS melawan Iran maka tidak akan dibantu dalam hal apa pun.
  • Konflik AS-Israel dengan Iran membuat ekspor minyak Teluk turun 36,4 persen, dengan kerugian mencapai lebih dari 50 miliar dolar AS.
  • Situasi ini disebut sebagai salah satu gangguan energi terparah dalam sejarah modern.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara-negara yang terkena dampak penutupan Selat Hormuz agar mengambil langkah untuk mengendalikan jalur air vital tersebut.

Jalur global yang dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas dunia itu ditutup oleh Iran sejak awal Maret lalu sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel di wilayahnya.

Iran menargetkan kapal-kapal terkait AS dan Israel serta pendukungnya yang berupaya melewati Selat Hormuz, mengancam tetap melakukan blokade selama AS dan Israel melanjutkan serangan di wilayahnya.

Akibat penutupan tersebut, berbagai negara terancam krisis energi.

Donald Trump menyerukan kepada negara-negara yang terkena dampak penutupan Selat Hormuz, terutama Inggris, untuk pergi ke jalur air itu dan mengambil kendali atas wilayah tersebut.

"Kepada semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris Raya, yang menolak terlibat dalam pemenggalan kepala Iran, saya punya saran untuk kalian: Nomor 1, belilah dari AS, kami punya banyak, dan Nomor 2, kumpulkan keberanian yang tertunda, pergilah ke Selat itu, dan REBUT saja," tulis Trump dalam unggahan Truth Social, Selasa (31/3/2026).

Presiden AS juga memperingatkan negara-negara yang menolak untuk membantu AS dalam menyerang Iran, serta menegaskan AS juga tidak akan membantu mereka.

"Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang sendiri, AS tidak akan ada lagi untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami," lanjutnya.

Trump mengulangi klaimnya bahwa serangan AS dan Israel telah menghancurkan Iran, dengan menambahkan, "Iran pada dasarnya telah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan dapatkan minyakmu sendiri!"

Baca juga: Landasan Ditutup, Italia Tegas Tolak Pesawat Pengebom AS Mendarat, Ogah Terseret Perang Iran

Peringatan untuk Prancis

Trump juga mengkritik Prancis dengan mengatakan dalam unggahan kedua di Truth Social.

Ia mengecam Prancis yang tidak mengizinkan Israel menggunakan wilayah udaranya untuk digunakan dalam serangan terhadap Iran.

"Negara Prancis tidak mengizinkan pesawat yang menuju Israel, yang sarat dengan perlengkapan militer, terbang di atas wilayah Prancis. Prancis SANGAT TIDAK MEMBANTU sehubungan dengan "Penjagal Iran," yang telah berhasil dilenyapkan! AS akan MENGINGATNYA!!!" tulis Trump, Selasa.

Hal ini terjadi setelah seorang pejabat Italia mengungkapkan bahwa negaranya menolak mengizinkan jet tempur Amerika mendarat di Sisilia.

Italia Melarang AS Menggunakan Pangkalan Militer di Sisilia

Surat kabar Corriere della Sera mengungkapkan bahwa tentara Italia menolak mengizinkan pesawat militer Amerika mendarat di pangkalan militer di Sisilia untuk keperluan perang melawan Iran.

Penolakan itu terjadi setelah Italia mengetahui dengan jelas bahwa tujuan pesawat AS tersebut bukanlah untuk hal yang bersifat logistik atau rutin.

Adapun hal di luar itu tidak termasuk dalam perjanjian antara negara-negara tersebut.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari antara Iran, Amerika, dan Israel, Trump berulang kali mengkritik negara-negara Eropa setelah sebagian besar dari mereka menolak untuk mengirim pasukan angkatan laut dan kapal untuk mengamankan Selat Hormuz.

Trump juga mengancam Iran lebih dari sekali dan memberi negara itu tenggat waktu hingga 6 April untuk membuka selat tersebut, yang kelumpuhan lalu lintasnya telah menyebabkan kenaikan harga energi global.

Namun demikian, para pejabat AS mengindikasikan bahwa presiden AS mungkin akan segera mengakhiri perang, bahkan tanpa membuka selat vital tersebut, menurut laporan Wall Street Journal sebelumnya.

Serangan AS dan Israel terhadap Iran terjadi hanya dua hari setelah tim AS dan Iran melanjutkan perundingan perjanjian pembatasan program nuklir di Jenewa.

AS dan Israel berulang kali menuduh Iran berupaya mengembangkan program nuklirnya untuk keperluan membuat senjata nuklir.

Pemerintah Iran membantah tuduhan AS dan Israel, seraya menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk keperluan energi bagi warga sipil.

Serangan AS dan Israel sejak 28 Februari telah memulai perang baru di Timur Tengah dan menewaskan lebih dari 1.900 orang di Iran, mendorong Iran keluar dari upaya perundingan dengan AS.

Sementara AS dan Israel menyerang wilayah Iran, militer Iran meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS dan Israel di kawasan.

Iran juga memblokade Selat Hormuz, jalur pengiriman energi global, termasuk menargetkan kapal terkait AS dan Israel.

Dampak Blokade Iran terhadap Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen transportasi minyak dunia, menekan ekonomi negara-negara Teluk dan memicu gangguan pasokan energi.

Berdasarkan laporan TESPAM, ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain turun 36,4 persen dalam periode 27 Februari–30 Maret, dari 12,323 juta menjadi 7,833 juta barel per hari.

Penurunan ini menyebabkan kerugian pendapatan minyak sekitar 15,2 miliar dolar AS, dan jika dihitung dengan sektor LNG serta lainnya, total kerugian melampaui 50 miliar dolar AS.

Presiden TESPAM, Oguzhan Akyener, menyebut kondisi ini sebagai salah satu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah modern.

Ia menambahkan, krisis ini tidak hanya menghantam ekspor energi, tetapi juga sektor lain seperti logistik, perdagangan, keuangan, hingga pariwisata di kawasan Teluk.

Akyener juga menegaskan bahwa pihak yang paling terdampak adalah negara eksportir Teluk, importir energi di Asia, serta sektor transportasi laut.

Ia memperingatkan, jika konflik berlanjut, tekanan terhadap energi, pangan, dan ekonomi global akan semakin dalam, meski sejumlah negara telah mencoba meredam dampaknya, termasuk dengan pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara anggota IEA, lapor Anadolu Agency.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved