Senin, 20 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

7 Cara Dunia Persiapkan Diri Atasi Krisis Energi Akibat Perang Iran, BBM Dijatah hingga WFH

Dunia sudah mulai mempersiapkan diri untuk mengatasi krisis energi akibat perang di Iran. Berikut tujuh cara dunia mengatasi hal tersebut.

|

Ringkasan Berita:
  • Perang yang terus berkobar di Iran membuat dunia mulai mempersiapkan diri untuk mengatasi krisis energi.
  • Bukan tanpa alasan, persiapan diri ini dilakukan setelah Iran menutup Selat Hormuz, tempat di mana 20 persen minyak dunia melewati jalur tersebut.
  • Jika Iran tetap nekat menutup jalur ini sebagai senjata perang, para pakar memprediksi kiamat energi bukan lagi sekadar isapan jempol.

TRIBUNNEWS.COM - Perang yang berkecamuk di Timur Tengah, khususnya di Iran, membuat dunia gigit jari.

Sebab, Iran secara resmi telah menutup Selat Hormuz, tempat di mana 20 persen minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.

Jika Iran tetap nekat menutup jalur ini sebagai senjata perang, para pakar memprediksi kiamat energi bukan lagi sekadar isapan jempol.

Badan Energi Internasional (IEA) sudah memberikan peringatan keras.

Gangguan sedikit saja di wilayah tersebut akan langsung memukul pasar global.

Harga minyak mentah dunia diproyeksikan bakal menembus angka psikologis yang bisa melumpuhkan daya beli masyarakat di berbagai belahan dunia.

Lantas, bagaimana dunia mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis energi ini?

Penjatahan BBM

lihat fotoSITUASI SPBU - Situasi antrean tiga SPBU di kawasan Kemanggisan, Kemandoran dan Kebon Jeruk masih normal di tengah isu kenaikan harga BBM yang mencapai hingga Rp 9.000 per liter, Senin (30/3/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani).
SITUASI SPBU - Situasi antrean tiga SPBU di kawasan Kemanggisan, Kemandoran dan Kebon Jeruk masih normal di tengah isu kenaikan harga BBM yang mencapai hingga Rp 9.000 per liter, Senin (30/3/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani).

Ada beberapa negara di dunia sudah mulai melakukan penjatahan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengatasi krisis energi akibat perang Iran.

Seperti Sri Lanka, di mana pengendara kendaraan pribadi hanya dapat memperoleh 15 liter bensin per minggu melalui sistem berbasis kode QR.

Mengutip DW, di tempat lain di Asia, sepertiga pompa bensin telah ditutup di Kamboja, dan Myanmar telah menerapkan sistem penjatahan "ganjil-genap" berdasarkan nomor registrasi kendaraan.

Baca juga: Ribuan Pasukan Elit AS Tiba di Timur Tengah, Sinyal Perang Besar ke Iran Makin Nyata

Ini berarti plat nomor ganjil dapat membeli bahan bakar pada satu hari, dan plat nomor genap pada hari berikutnya.

Sementara itu, di Selandia Baru, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memperkenalkan kembali "hari bebas mobil", di mana pengendara menentukan satu hari dalam seminggu di mana mereka tidak diizinkan untuk mengemudi.

China mengambil pendekatan yang sedikit berbeda, membatalkan rencana kenaikan harga bahan bakar setelah harga di SPBU naik 20 persen sejak awal perang.

Slovenia menjadi negara anggota Uni Eropa pertama yang memberlakukan penjatahan bahan bakar awal pekan lalu, dengan pengemudi pribadi dibatasi hingga 50 liter per minggu.

Sementara batasan 200 liter berlaku untuk bisnis dan petani.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved