Minggu, 12 April 2026

Imbas Krisis BBM, Warga Thailand Ramai Berhijrah Pakai Kendaraan Listrik

Sebagai salah satu negara paling terdampak oleh krisis BBM, Warga Thailand kini mulai ramai berhijrah menggunakan mobil listrik

Penulis: Bobby W
Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Lonjakan harga BBM domestik imbas konflik Timur Tengah memicu masyarakat Thailand untuk beralih ke kendaraan listrik (BEV), dengan proyeksi penjualan mencapai 120.000 unit pada tahun 2026
  • Didukung insentif pajak , berbagai instansi pemerintah dan perusahaan logistik di Thailand juga mulai beralih ke armada listrik
  • Merespons tren elektrifikasi dan harga minyak yang fluktuatif, BUMN energi Thailand, PTT OR, mengalihkan fokus bisnisnya untuk membangun jaringan SPKLU secara masif di seluruh Thailand

 

TRIBUNNEWS.COM - Di balik keresahan yang ditimbulkan oleh lonjakan harga minyak dunia, sejumlah sektor justru mendapatkan dampak yang menguntungkan akibat fenomena tersebut.

Hal ini bisa dilihat dari dampak signifikan yang mendorong industri mobil listrik untuk menjadi primadona baru bagi warga di Thailand.

Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang paling terdampak oleh krisis Bahan Bakar Minyak (BBM), pasar kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) di Negeri Gajah Putih justru diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat pada tahun 2026 ini.

Hal ini dikarenakan besarnya potensi warga di Thailand untuk "berhijrah" sebagai antisipasi beban biaya bahan bakar yang kian mencekik, 

Melansir Bangkok Post, Asosiasi Kendaraan Listrik Thailand (EVAT) bahkan memproyeksikan penjualan mobil listrik dapat menembus angka 120.000 unit. 

Optimisme ini muncul menyusul meroketnya harga BBM domestik secara terus-menerus di Thailand sebagai imbas dari meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.

Bahkan, kenaikan tersebut membuat harga eceran untuk solar dan bensin di Thailand mencapai rekor tertinggi sepanjang masa Senin larut malam (30/3/2026).

Presiden EVAT, Suroj Sangsanit, membenarkan bahwa harga bahan bakar domestik yang tidak menentu menjadi katalis utama pergeseran tren ini.

"Mobil penumpang BEV dan kendaraan komersial listrik seperti truk, van, dan pikap akan menjadi pendorong utama pertumbuhan tahun ini," ungkap Suroj pada Rabu (1/4/2026).

Peningkatan minat masyarakat ini tengah dipantau secara langsung oleh EVAT pada ajang Bangkok International Motor Show ke-47.

Antusiasme tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu, di mana Federasi Industri Thailand mencatat lonjakan penjualan BEV domestik sebesar 80 persen menjadi 120.301 unit.

Baca juga: DPR Ingatkan Pemerintah Perketat Pengawasan Cegah Praktik Penimbunan BBM

Namun demikian, CEO Mercedes-Benz Thailand, Christian Schell, memberikan pandangan yang lebih berhati-hati.

Menurutnya, meskipun harga minyak naik, peralihan ke BEV mungkin tidak akan terjadi secara instan.

Konsumen Thailand masih memiliki alternatif seperti kendaraan hybrid dan plug-in hybrid yang masih membutuhkan bensin.

ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Kementerian Energi Thailand menyatakan pada hari Minggu (1/3/2026) negara mereka hanya memiliki cadangan minyak untuk dua bulan.
ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Kementerian Energi Thailand menyatakan pada hari Minggu (1/3/2026) negara mereka hanya memiliki cadangan minyak untuk dua bulan. (CH7HD NEWS)

Thailand Galakkan Kendaraan Mobil Listrik untuk Instansi Pemerintah

Pasar kendaraan listrik Thailand kini menjadi magnet bagi produsen asal Tiongkok.

Ekspansi agresif mereka didorong oleh insentif menggiurkan dari pemerintah Thailand melalui skema EV 3.0 dan EV 3.5, yang menawarkan pemotongan pajak dan subsidi bagi pabrikan.

EVAT meyakini tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi BEV komersial.

Berbagai perusahaan logistik, operator transportasi, hingga instansi pemerintah Thailand pun mulai melirik armada listrik untuk menekan ongkos operasional.

Bahkan, industri berat seperti produsen semen mulai menjajaki transisi dari armada diesel ke armada listrik.

Salah satu pemain baru di segmen ini adalah China Trucks (Thailand) Co, distributor merek Dongfeng.

CEO perusahaan, Chen Bing, secara resmi meluncurkan Tractor Head KL6x4, menandai masuknya Dongfeng ke pasar kendaraan listrik komersial Thailand.

Dongfeng menargetkan penjualan 100 unit tahun ini dan meningkat menjadi 300 unit tahun depan.

"Thailand adalah pasar utama bagi BEV Tiongkok di Asia Tenggara, didukung oleh kebijakan netralitas karbon pemerintah. Faktor-faktor ini membuat Thailand sangat menarik bagi investor baru yang ingin mengembangkan bisnis mereka," tegas Chen Bing.

Thailand Ekspansi SPKLU Besar-besaran

Tren elektrifikasi kendaraan ini juga direspons serius oleh raksasa energi Thailand, PTT Oil and Retail Business Plc (OR).

Di tengah keluhan para pengendara terkait harga minyak global yang fluktuatif, BUMN Energi milik Thailand ini mulai mengalihkan fokus dan dana ke layanan mobilitas listrik.

Salah satu fokus PTT OR saat ini adalah memperluas jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) diseluruh Thailand.

CEO PTT OR, ML Peekthong Thongyai, mengakui bahwa sulit memprediksi seberapa cepat peralihan ini terjadi.

"Berapa banyak orang yang akan beralih ke EV tidak dapat disimpulkan pada saat ini, karena harga minyak tetap fluktuatif," ujarnya pada Selasa (31/3/2026).

Langkah strategis ini diambil saat Thailand merasakan dampak tidak langsung dari konflik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak mentah dan olahan.

Diperparah dengan menipisnya cadangan Dana Bahan Bakar Minyak, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM domestik, di mana harga solar melonjak menjadi 40,74 baht (sekitar Rp 17.700) per liter pada 31 Maret.

"Subsidi dari dana tersebut dapat meningkat, dan pemerintah mungkin perlu meminjam uang untuk mendukungnya," tambah ML Peekthong, mengindikasikan bahwa situasi krisis ini dapat mendorong lebih banyak masyarakat membeli mobil listrik.

Menghadapi perubahan lanskap energi ini, PTT OR telah menyiapkan anggaran investasi sebesar 58 miliar baht (sekitar Rp 25,2 triliun) untuk periode 2026-2030, di mana 38 miliar baht (sekitar Rp 16,5 triliun) di antaranya akan dialokasikan untuk operasional minyak dan penambahan SPKLU.

"Kami ingin fokus pada pengembangan infrastruktur, transportasi minyak dan pengisian daya EV," kata ML Peekthong.

Melalui ekspansi SPKLU ini, perusahaan menargetkan peningkatan jumlah pengguna layanan pengisian daya menjadi 7.000 pengendara dengan rata-rata waktu pengisian 7 jam per hari pada 2030.

Angka ini menunjukkan peningkatan tajam dari 1.600 pengguna dengan rata-rata 4 jam per hari pada 2023.

"Layanan pengisian daya EV berkembang sangat cepat, mencerminkan bahwa listrik menjadi bahan bakar utama," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Bobby)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved