Iran Vs Amerika Memanas
Iran Terancam Dibom AS, Trump Ngotot Harus Ada Kesepakatan Selasa Malam: Seluruh Negara Bisa Hancur
Trump berjanji untuk memberlakukan tenggat waktu Selasa malam bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata.
Ringkasan Berita:
- Trump berjanji untuk memberlakukan tenggat waktu Selasa malam bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata.
- Trump menuntut Iran untuk meninggalkan senjata nuklir dan membuka kembali jalur transit minyak Selat Hormuz.
- Para kritikus mengatakan Trump akan melakukan kejahatan perang jika AS menyerang pembangkit listrik sipil, sebuah poin yang dibantah Trump pada hari Senin.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran dapat dikalahkan dalam satu malam, "dan malam itu mungkin besok malam".
Donald Trump memperingatkan Iran bahwa mereka harus membuat kesepakatan pada Selasa (7/4/2026) malam waktu setempat atau menghadapi serangan bom yang lebih luas.
Trump telah berjanji untuk memberlakukan tenggat waktu Selasa malam bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata atau menghadapi serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya.
Trump menuntut Iran untuk meninggalkan senjata nuklir dan membuka kembali jalur transit minyak Selat Hormuz.
“Seluruh negara bisa hancur dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump dalam konferensi pers Gedung Putih, Senin (6/4/2026), dilansir Al Arabiya.
“Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” lanjut Trump.
Para kritikus mengatakan Trump akan melakukan kejahatan perang jika AS menyerang pembangkit listrik sipil, sebuah poin yang dibantah Trump pada hari Senin.
“Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir,” kata Trump sebelumnya pada hari Senin saat acara pembagian telur Paskah untuk anak-anak di halaman selatan Gedung Putih.
Penolakan Iran
AS telah mengatakan kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz yang sangat penting bagi semua lalu lintas pelayaran atau melihat pembangkit listrik dan jembatan dihancurkan, yang memicu peringatan tentang kemungkinan kejahatan perang.
Israel meningkatkan tekanan dengan menyerang pabrik petrokimia besar dan membunuh kepala intelijen Garda Revolusi paramiliter.
Teheran dengan penolakannya menyampaikan rencana 10 poinnya sendiri untuk mengakhiri pertempuran melalui Pakistan, mediator kunci, kata kantor berita IRNA milik negara Iran.
“Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” kata Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada Associated Press.
Baca juga: 6 Poin Pernyataan Terbaru Trump soal Perang Iran: Mengelak Saat Ditanya Kejahatan Perang
Ia mengatakan Iran tidak lagi mempercayai pemerintahan Trump setelah AS membom Republik Islam dua kali selama putaran pembicaraan sebelumnya.
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam perundingan mengatakan upaya tersebut belum gagal.