Iran Vs Amerika Memanas
Harga Bahan Bakar Pesawat Melonjak, Perang Iran Picu Krisis Penerbangan Global
Harga bahan bakar jet melonjak akibat konflik Iran, tiket pesawat naik, ribuan penerbangan dibatalkan. Krisis penerbangan global kian terasa.
Ringkasan Berita:
- Harga bahan bakar jet naik hampir 95 persen, dari USD 2,50 menjadi USD 4,88 per galon akibat konflik Iran dan gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Maskapai global menaikkan harga tiket, mengurangi jadwal, hingga membatalkan rute untuk menekan biaya operasional yang melonjak drastis.
- Sekitar 7 persen penerbangan dunia dibatalkan dalam sehari, mencerminkan tekanan besar industri penerbangan akibat krisis energi dan lonjakan biaya bahan bakar.
TRIBUNNEWS.COM - Krisis global di sektor penerbangan semakin terasa seiring melonjaknya harga bahan bakar jet akibat konflik di Iran.
Kelangkaan pasokan bahan bakar jet di pasar global menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya operasional maskapai.
Para analis memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memburuk dalam beberapa minggu kedepan, mengingat konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda serta tekanan terhadap rantai pasok energi dunia yang semakin kuat.
Data terbaru dari indeks bahan bakar jet di Amerika Serikat menunjukkan lonjakan signifikan.
Dimana harga bahan bakar jet dan pesawat tercatat naik hampir dua kali lipat, dari 2,50 dolar AS per galon pada akhir Februari menjadi 4,88 dolar AS per galon pada awal April.
Kenaikan ini setara dengan harga sekitar 205 dolar AS per barel, level yang memberikan tekanan besar terhadap industri penerbangan global.
Harga Tiket Pesawat Ikut Naik
Mengutip dari The Hill lonjakan terjadi karena dipicu oleh terganggunya pasokan energi global akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Ketidakpastian pasokan serta meningkatnya risiko geopolitik lantas mendorong harga bahan bakar melonjak dalam waktu singkat.
Kondisi ini langsung berdampak pada industri penerbangan. Maskapai harus menanggung beban biaya operasional yang meningkat drastis, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar.
Akibatnya, sejumlah maskapai mulai menaikkan harga tiket, mengurangi frekuensi penerbangan, hingga membatalkan rute tertentu untuk menekan kerugian.
Di kawasan Asia-Pasifik, maskapai seperti Cathay Pacific secara resmi menaikkan biaya tambahan bahan bakar sejak Maret 2026.
Baca juga: Dubes Boroujerdi Ungkap Kondisi WNI di Iran Saat Serangan AS-Israel: Sebagian Menolak Dievakuasi
Kenaikan ini bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat untuk beberapa rute, terutama penerbangan jarak jauh, seiring harga bahan bakar jet yang melonjak drastis.
Langkah serupa juga diambil oleh Air India yang menambah biaya tiket secara bertahap. Maskapai ini menaikkan biaya tambahan mulai dari rute domestik hingga internasional, termasuk kenaikan hingga 25–33 persen untuk penerbangan jarak jauh ke Eropa dan Amerika Utara.
Di Australia, Qantas turut menyesuaikan tarif penerbangan internasional dengan kenaikan sekitar 5 persen, menyusul lonjakan harga bahan bakar jet yang dilaporkan meningkat hingga 150 persen dalam waktu singkat.
Sementara itu di Eropa, grup maskapai Air France-KLM mengumumkan kenaikan harga tiket jarak jauh sekitar 50 euro per perjalanan pulang-pergi sebagai dampak langsung dari kenaikan biaya bahan bakar.