Iran Vs Amerika Memanas
Di Balik Gencatan Senjata AS-Iran, Peran Kunci Mojtaba Khamenei Membuat Keputusan Akhir
Iran dan AS mencapai kesepakatan gencatan senjata dua minggu di menit-menit akhir dengan peran kunci Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Ringkasan Berita:
- Iran dan AS mencapai kesepakatan gencatan senjata dua minggu di menit-menit akhir dengan peran kunci Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
- Negosiasi berlangsung intens di tengah ancaman militer, dengan mediator internasional turut membantu hingga tercapai kesepakatan.
- Meski gencatan senjata disepakati, konflik di Lebanon tetap berlanjut karena tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada jam-jam terakhir sebelum batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra dari mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara di awal perang pada 28 Februari lalu, menjadi sosok yang mendorong para negosiatornya bergerak menuju kesepakatan, seperti dilaporkan Axios.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian gencatan senjata dua minggu tersebut, lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz yang vital, jalur yang dilalui seperlima minyak dan gas global, akan dijamin.
"Transit tersebut akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," tulis Araghchi di X.
Pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memuji gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat.
"Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan timnya terlibat dalam negosiasi sulit yang kini membuka peluang bagi solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang," katanya.
Euforia tersebut mendorong pasar saham melonjak, seiring harapan bahwa krisis yang telah mengguncang ekonomi global selama lebih dari sebulan akan segera berakhir.
Di Balik Layar
Saat Trump secara terbuka mengancam akan melakukan penghancuran massal terhadap warga Iran, tanda-tanda momentum diplomatik sebenarnya muncul di balik layar.
Pasukan AS di Timur Tengah dan para pejabat Pentagon menghabiskan jam-jam terakhir untuk bersiap melancarkan serangan pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur Iran, sembari menunggu arah keputusan Trump.
Sekutu di kawasan itu pun bersiap menghadapi potensi pembalasan Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelumnya pada Senin, saat Trump menyapa kerumunan dalam perayaan Paskah di Gedung Putih, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, yang disebut “sangat marah”, tengah sibuk melakukan panggilan telepon, menurut laporan Axios.
Baca juga: Trump Sesumbar Kemenangan Total atas Iran, Gencatan Senjata 2 Pekan Jadi Sorotan
Usulan balasan 10 poin dari Iran yang baru diterima AS dinilai sebagai bencana, kata Witkoff kepada para mediator.
Hari itu pun diwarnai dengan perubahan yang kacau, menurut laporan tersebut.
Mediator dari Pakistan kemudian mengesahkan draf baru antara Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Sementara itu, menteri luar negeri Mesir dan Turki berupaya menjembatani perbedaan.