Minggu, 12 April 2026

Donald Trump Pimpin Amerika Serikat

Trump Ancam Keluar dari NATO, Rutte Bergerak Redakan Ketegangan

Trump mengancam keluar dari NATO setelah sekutu dianggap tidak membantu membuka Selat Hormuz selama konflik dengan Iran.

Editor: Tiara Shelavie
YouTube DRM News
NATO DAN AS - Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte (kiri) di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026). Trump mengancam keluar dari NATO setelah sekutu dianggap tidak membantu membuka Selat Hormuz selama konflik dengan Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Trump mengancam keluar dari NATO setelah sekutu dianggap tidak membantu membuka Selat Hormuz selama konflik dengan Iran.
  • Pertemuan dengan Mark Rutte bertujuan meredakan ketegangan di tengah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
  • Hubungan NATO dan AS semakin tegang akibat perbedaan kepentingan militer dan energi di kawasan Timur Tengah.

 

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dijadwalkan bertemu dengan Presiden Donald Trump pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat untuk meredakan kemarahan Trump terhadap aliansi militer tersebut terkait perang Iran.

Dilansir AP, Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin mempertimbangkan keluar dari NATO setelah negara-negara anggota tidak menanggapi seruannya untuk membantu membuka kembali Strait of Hormuz, jalur pelayaran penting yang sempat ditutup oleh Iran dan menyebabkan lonjakan harga gas.

Pertemuan ini terjadi setelah AS dan Iran pada Selasa malam menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang mencakup pembukaan kembali selat tersebut.

Kesepakatan ini tercapai setelah Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran, dengan peringatan bahwa “sebuah peradaban bisa hancur malam ini.”

Rencana pembukaan kembali selat tersebut masih belum jelas dan diperkirakan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan tertutup antara Trump dan Rutte.

Pada 2023, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang melarang presiden keluar dari NATO tanpa persetujuan legislatif. Trump sendiri telah lama mengkritik NATO dan pada masa jabatan pertamanya menyatakan memiliki kewenangan untuk keluar dari aliansi tersebut secara sepihak.

Baca juga: Di Balik Gencatan Senjata AS–Iran: Tarik Ulur Kekuatan NATO dan SCO

NATO, yang didirikan pada 1949 untuk menghadapi ancaman Soviet Union selama Perang Dingin, memiliki prinsip pertahanan bersama, di mana serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua. Prinsip ini hanya pernah diaktifkan sekali, yaitu setelah serangan September 11 attacks di AS.

Meski demikian, Trump mengeluhkan bahwa NATO tidak menunjukkan dukungan yang cukup kepada AS dalam konflik dengan Iran.

Menjelang pertemuan tersebut, Senator Mitch McConnell menyatakan dukungannya terhadap NATO, mengingatkan bahwa setelah serangan 11 September, sekutu NATO mengirim pasukan mereka untuk berperang bersama AS di Afghanistan dan Irak. Ia juga mendesak Trump untuk bersikap konsisten dan tidak memperburuk hubungan dengan sekutu.

Jika pertemuan ini tidak meredakan ketegangan, belum jelas apakah pemerintahan Trump akan menantang undang-undang yang melarang penarikan diri dari NATO. Menariknya, undang-undang tersebut dulu didukung oleh Menteri Luar Negeri saat ini, Marco Rubio, saat masih menjadi senator.

Aliansi ini telah mengalami ketegangan selama setahun terakhir, terutama setelah Trump kembali berkuasa, mengurangi dukungan militer AS untuk Ukraine dalam perang melawan Russia, serta mengancam akan mengambil alih Greenland dari sekutu Denmark.

Ketegangan meningkat setelah perang Iran dimulai pada akhir Februari, ketika Trump menegaskan bahwa pengamanan Selat Hormuz bukan tanggung jawab AS, melainkan negara-negara yang bergantung pada jalur minyak tersebut.

Trump juga marah ketika sekutu NATO seperti Spain dan France membatasi penggunaan wilayah udara atau fasilitas militer mereka oleh AS selama konflik. Namun, negara-negara tersebut setuju membantu membuka kembali Selat Hormuz melalui koalisi internasional setelah konflik berakhir.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan melakukan perjalanan ke kawasan Teluk untuk mendukung gencatan senjata dan merancang rencana keamanan pascakonflik untuk selat tersebut, yang terletak antara Iran dan Oman dan menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump sebelumnya juga kerap mengancam akan keluar dari NATO dan menyatakan akan meninggalkan sekutu yang tidak memenuhi target anggaran pertahanan mereka. Mantan Sekjen NATO Jens Stoltenberg bahkan mengungkap dalam memoarnya bahwa ia pernah khawatir Trump akan benar-benar keluar dari NATO pada 2018.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved