Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.506: AS Abaikan Laporan Zelenskyy soal Putin Bantu Iran
Zelenskyy menyebut AS mengabaikan laporan Ukraina bahwa Rusia membantu Iran dalam serangannya terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.506, Zelenskyy menuding AS mengabaikan bukti keterlibatan Rusia membantu Iran menargetkan pangkalan AS.
- Zelenskyy menilai AS terlalu mempercayai Vladimir Putin, bahkan saat tekanan diberikan agar Ukraina menyerahkan Donbas.
- Sementara itu, laporan investigasi menyebut Menlu Hongaria Péter Szijjártó berkoordinasi dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov untuk menghambat langkah Ukraina ke Uni Eropa.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.506 pada Kamis (9/4/2026).
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan Amerika Serikat (AS) telah mengabaikan bukti kuat bahwa Rusia telah membantu Iran menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah karena AS mempercayai Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam sebuah wawancara dengan Alastair Campbell di podcast The Rest is Politics, Zelenskyy mengatakan ia telah mencoba menarik perhatian Gedung Putih terhadap kolaborasi erat antara Rusia dan Iran.
Dia mengatakan satelit militer Rusia telah memotret objek infrastruktur energi penting di negara-negara Teluk dan di Israel, serta lokasi pangkalan militer AS di seluruh wilayah tersebut.
Zelenskyy mengatakan Kremlin menyampaikan detail dan gambar tersebut kepada rezim Iran untuk memfasilitasi serangannya.
“Saya sudah mengatakan ini secara terbuka. Apakah kita mendengar reaksi dari AS terhadap Rusia bahwa mereka harus menghentikannya?” tanya Zelenskyy secara retoris.
“Masalahnya adalah mereka mempercayai Putin. Dan itu sangat disayangkan," tambahnya.
Zelenskyy mengatakan tim Donald Trump gagal untuk benar-benar memahami detail apa yang diinginkan Rusia.
Ketika ditanya mengapa demikian, dia mengatakan dua negosiator Trump – Steve Witkoff dan Jared Kushner – telah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan Putin dan para pejabat seniornya.
Keduanya melakukan perjalanan ke Moskow lima kali tahun lalu dan belum mengunjungi Kyiv.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.505, SBU Ungkap Rusia Pakai Router Wi-Fi untuk Spionase
Pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanan pada Ukraina untuk menyerahkan wilayah Donbas timur, tempat terjadinya pertempuran sengit, kepada Rusia.
Putin telah mengisyaratkan bahwa ia akan menyetujui gencatan senjata jika Ukraina menyerahkan wilayah tersebut.
Zelenskyy mengatakan bahwa ia memiliki pemahaman yang lebih baik tentang psikologi dan tujuan perang sebenarnya dari pemimpin Rusia daripada Gedung Putih.
Presiden Ukraina mengatakan Putin tidak akan berhenti jika ia mendapatkan Donbas, dan selanjutnya akan mencoba merebut ibu kota regional Dnipro dan Kharkiv.
“Kita harus mengakui bahwa sebagian warga Amerika merasa bahwa (Donbas) bukanlah apa-apa bagi kita,” kata Zelenskyy.
“Mereka tidak mau mengakui bahwa Putin akan berbohong kepada mereka dan bahwa dia dapat melanjutkan pendudukan bahkan setelah langkah-langkah tersebut. Amerika yakin bahwa mereka dapat mempercayai Putin," lanjutnya.
Zelenskyy menggambarkan kunjungan wakil presiden AS, JD Vance, ke Budapest pada hari Selasa dan Rabu untuk berkampanye bagi presiden Hungaria, Viktor Orbán, sebagai tindakan yang tidak membantu.
Namun, ia mengatakan tidak berniat untuk ikut campur dalam pemilihan hari Minggu, dan menyatakan terserah kepada rakyat Hungaria untuk memutuskan partai mana yang akan didukung.
Zelenskyy juga menyarankan Eropa perlu memaksimalkan kekuatannya pada saat AS mengancam untuk menarik diri dari NATO.
"Uni Eropa perlu bergabung dengan Ukraina, Inggris, Turki, dan Norwegia," katanya, menegaskan kelompok tersebut dapat menciptakan blok militer yang cukup besar untuk mencegah Rusia.
“Tanpa Ukraina dan Turki, Eropa tidak akan memiliki kekuatan militer serupa dengan yang dimiliki Rusia. Dengan Ukraina, Turki, Norwegia, dan Inggris, Anda akan mengendalikan keamanan di laut, bukan hanya satu laut,” katanya, seraya menambahkan ia yakin Kyiv suatu hari nanti akan bergabung dengan Uni Eropa.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi besar-besaran. Namun, konflik ini sebenarnya berakar jauh sebelumnya, dipicu oleh semakin dekatnya Ukraina dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat yang dianggap mengancam posisi Rusia.
Ketegangan mulai memuncak sejak Revolusi Maidan di Kyiv pada 2014, yang mendorong Ukraina semakin condong ke Barat. Sebagai respons, Rusia mencaplok Krimea dan konflik bersenjata pun terjadi di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia.
Situasi mencapai puncaknya ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada 2022. Rusia mengklaim langkah ini untuk melindungi warga berbahasa Rusia serta mencegah ekspansi NATO, namun tindakan tersebut menuai kecaman luas dari dunia internasional.
Sebagai balasan, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan memberikan dukungan militer serta finansial kepada Ukraina. Hingga kini, perang masih berlangsung, membawa dampak besar bagi ekonomi global dan stabilitas dunia, sementara upaya perdamaian terus diupayakan meski belum membuahkan hasil.
Di tengah perang Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung, berikut ini perkembangan yang dirangkum dari berbagai sumber:
-
Rusia Ancam Negara-negara Baltik
Rusia mengancam negara-negara Baltik jika mereka membiarkan Ukraina melakukan serangan terhadap pelabuhan Baltik Rusia.
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, berbicara setelah serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap pelabuhan Baltik Rusia di Primorsk dan Ust-Luga, yang telah mengganggu ekspor minyaknya.
“Jika negara-negara ketiga telah menyediakan atau sedang menyediakan wilayah mereka untuk diterbangi pesawat tak berawak musuh, mereka harus sepenuhnya memahami – dan kami yakin mereka memahaminya, karena telah dijelaskan kepada mereka – risiko yang mereka hadapi,” kata Maria Zakharova, Rabu (8/4/2026).
-
Drone Rusia Rusak Gardu Listrik di Odesa
Drone Rusia merusak gardu listrik di wilayah Odesa selatan Ukraina pada hari Rabu, menurut laporan pejabat Ukraina.
Gubernur wilayah Zaporizhzhia di tenggara, Ivan Fedorov, mengatakan serangan bom luncur Rusia semalam menewaskan seorang pria di sebuah desa di luar kota utama wilayah tersebut, yang juga bernama Zaporizhzhia.
Gubernur wilayah Dnipropetrovsk yang berdekatan, Oleksandr Ganzha, mengatakan drone dan artileri Rusia menyerang sejumlah kota hampir 40 kali sepanjang hari dan setidaknya tiga orang terluka.
Para pejabat juga melaporkan adanya korban luka akibat serangan pesawat tak berawak di Sloviansk, dekat garis depan di wilayah Donetsk timur, dan di wilayah Kherson di selatan serta wilayah Sumy di perbatasan dengan Rusia.
Puing-puing dari pesawat tak berawak yang ditembak jatuh di wilayah Krasnodar Krai selatan Rusia menewaskan seorang pria, kata gubernur wilayah tersebut pada hari Kamis, seperti diberitakan The Guardian.
Sementara itu, komandan drone Ukraina mengumumkan pada hari Rabu bahwa drone Ukraina meledakkan terminal minyak di Feodosia di Krimea yang diduduki Rusia.
Robert “Magyar” Brovdi juga menyebutkan serangan terhadap sistem rudal Buk-M3 dan radar anti-artileri Zoopark di wilayah Zaporizhzhia, serta sistem rudal Tor di wilayah Donetsk.
Proyek jurnalisme investigatif Eropa VSquare telah menerbitkan laporan baru yang merinci bagaimana Menteri Luar Negeri Hongaria Péter Szijjártó berkoordinasi dengan Rusia dalam menghalangi jalan Ukraina menuju keanggotaan Uni Eropa dan langkah-langkah serupa lainnya.
Laporan investigasi VSquare mengungkap adanya dugaan koordinasi antara Menteri Luar Negeri Hungaria, Péter Szijjártó, dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, terkait penggunaan hak veto Uni Eropa pada periode 2023–2025.
Dalam rekaman yang telah diverifikasi sejumlah lembaga jurnalisme investigatif, Szijjártó disebut membagikan informasi strategis Uni Eropa kepada Rusia serta melobi pencabutan sanksi terhadap kerabat oligarki Alisher Usmanov.
“Jelas sekali, orang Hongaria telah menipu Uni Eropa,” ujar seorang pejabat tinggi UE, merujuk pada komunikasi intens tersebut.
Bahkan, saat kunjungan Viktor Orbán ke Kyiv dan rencana ke Moskow, Szijjártó dilaporkan langsung berkoordinasi dengan Lavrov, termasuk menyampaikan isi pembicaraan dengan Volodymyr Zelenskyy, yang memicu kritik keras karena dianggap menyimpang dari garis kebijakan Uni Eropa, seperti diberitakan Pravda.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/z3l3nsky-345435tyrtufghf.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.