Senin, 18 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Melonjak! Blokade Selat Hormuz Picu Kepanikan Global

Harga minyak melonjak 97 dolar AS usai Iran tutup Selat Hormuz. Bursa Asia melemah, dunia waspada krisis energi ditengah ketidakpastian diplomasi.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Harga minyak dunia melonjak tajam hingga di atas 97 dolar AS per barel setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
  • Ketegangan geopolitik membuat pasar keuangan bergejolak, dengan bursa Asia melemah karena investor bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian dan risiko konflik yang meluas.
  • Upaya diplomasi terus dilakukan, AS mengirim JD Vance untuk negosiasi di Pakistan, namun gencatan senjata dinilai rapuh dan berpotensi gagal.

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam menembus level tertinggi buntut meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz.

Kenaikan harga tercatat pada perdagangan terbaru, di mana minyak mentah Brent naik sebesar 2,4 persen hingga mencapai 97,02 dolar AS per barel, Kamis (9/4/2026).

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat juga mengalami lonjakan lebih tinggi, yakni 3,3 persen menjadi 97,50 dolar AS per barel.

Pergerakan harga ini menunjukkan perubahan sentimen pasar yang cukup cepat. 

Para investor kini kembali diliputi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama setelah munculnya ketidakpastian terkait stabilitas keamanan di kawasan penghasil minyak utama dunia.

Adapun lonjakan harga minyak terjadi usai Iran menutup selat tersebut disebut sebagai respons atas serangan militer Israel di Lebanon yang menyasar wilayah sipil dan kawasan komersial di Beirut, termasuk area yang menjadi basis Hezbollah, hingga menewaskan ratusan orang.

Data media lokal Lebanon menyebutkan sedikitnya 182 korban jiwa dalam satu hari, sementara sejumlah laporan internasional lainnya memperkirakan angka tersebut bisa mencapai lebih dari 250 orang, dengan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka.

Teheran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati bersama Amerika Serikat.

Iran juga menegaskan Lebanon merupakan bagian dari satu front konflik yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika regional.

Oleh karena itu, serangan Israel yang terus berlanjut dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen damai yang telah disepakati bersama.

Alasan ini yang mendorong Iran untuk memperketat kontrol Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel.

Bursa Asia Melemah, Investor Waspada

Namun kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap kelancaran distribusi energi global. 

Meski Amerika Serikat telah berulang kali mendesak agar jalur tersebut dibuka kembali, akses pelayaran hingga kini masih terbatas, memperbesar ketidakpastian di pasar energi.

Baca juga: Profil JD Vance, Wapres yang Akan Pimpin Delegasi AS dalam Perundingan Perdamaian Iran di Pakistan

Tekanan tersebut memicu gejolak pasar keuangan di kawasan Asia. Bahkan sejumlah indeks saham utama di Asia tercatat melemah pada perdagangan terbaru, mencerminkan sikap hati-hati para investor terhadap risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global.

Mengutip dari ABC News, Indeks Nikkei di Jepang turun 0,9 persen, sementara indeks Kospi Korea Selatan merosot lebih dalam hingga 1,6 persen.

Di wilayah lain, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,4 persen, dan indeks Shanghai terkoreksi 0,7 persen. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung menahan langkah di tengah situasi yang belum menentu.

Sebelumnya, sentimen pasar sempat membaik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.

Kabar tersebut sempat mendorong penguatan signifikan di Wall Street, dengan indeks S&P 500 naik 2,5 persen, Dow Jones melonjak 2,9 persen, dan Nasdaq menguat 2,8 persen.

Namun, optimisme itu tidak berlangsung lama. Munculnya kembali serangkaian serangan di Lebanon serta keputusan Iran untuk menutup kembali Selat Hormuz membuat pasar kembali diliputi ketidakpastian.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang diharapkan menjadi jalan menuju stabilitas justru berada dalam posisi yang rapuh dan berpotensi gagal.

Diplomasi Digenjot! AS Kirim JD Vance ke Meja Negosiasi

Di tengah meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian situasi geopolitik, upaya diplomasi untuk meredakan konflik masih terus berlangsung.

Sejumlah pihak kini berupaya mendorong dialog lanjutan guna mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen antara Iran dan Amerika Serikat.

Perundingan lanjutan direncanakan akan digelar di Pakistan, yang disebut berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi tersebut.

Pertemuan yang akan digelar pada Jumat (10/4/2026) diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali komitmen gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati, namun kini mulai dipertanyakan akibat berbagai insiden pelanggaran di lapangan.

Dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance disebut akan memimpin langsung tim negosiasi. 

Keterlibatan pejabat tinggi ini menunjukkan bahwa Washington menaruh perhatian serius terhadap upaya penyelesaian konflik secara diplomatik.

Meski demikian, para pengamat menilai proses perundingan tidak akan berjalan mudah. Perbedaan kepentingan, tudingan pelanggaran, serta eskalasi militer yang masih terjadi di kawasan menjadi tantangan besar dalam mencapai kesepakatan damai yang benar-benar stabil dan berkelanjutan.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved