Iran Vs Amerika Memanas
Hari ke-41 Perang Iran Memanas: 254 Tewas di Lebanon, Gencatan Senjata Diperdebatkan Keras
Serangan Israel tewaskan 254 orang di Lebanon saat gencatan senjata AS-Iran diperdebatkan, memicu krisis regional makin dalam.
Ringkasan Berita:
- Lebanon berduka setelah 254 orang tewas dalam serangan Israel di tengah polemik gencatan senjata AS-Iran.
- Perbedaan klaim antara Washington, Teheran, dan mediator Pakistan memicu kebingungan global.
- Eskalasi meluas ke Teluk, sementara tekanan internasional untuk menghentikan perang kian meningkat.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-41 dengan eskalasi tajam di Lebanon dan kawasan Teluk, Kamis (9/4/2026).
Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 254 orang dalam satu hari di Lebanon.
Lebih dari 1.165 orang dilaporkan terluka akibat gelombang serangan tersebut.
Al Jazeera melaporkan pemerintah Lebanon langsung menetapkan hari berkabung nasional.
Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut pemerintah mengerahkan seluruh kekuatan diplomatik untuk menghentikan serangan.
Klaim Gencatan Senjata Saling Bertentangan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan tidak ada komitmen untuk menghentikan serangan di Lebanon.
Baca juga: Istana Belum Terima Hasil Penyelidikan PBB Soal Ledakan yang Tewaskan 3 Prajurit TNI di Lebanon
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kesepakatan mencakup penghentian pertempuran di wilayah tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan syarat itu jelas dalam perundingan.
Ia memperingatkan Washington tidak bisa mengklaim perdamaian sambil membiarkan serangan terus berlangsung.
Seorang pejabat AS menyatakan rencana 10 poin Iran bukan bagian dari kesepakatan resmi.
Pernyataan itu mempertegas kebingungan global soal isi gencatan senjata.
Tekanan Internasional Menguat
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam keras serangan di Lebanon.
Komisaris HAM PBB Volker Turk menyebut skala pembunuhan sebagai hal yang mengerikan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata.
Ia menilai langkah itu penting untuk meredakan konflik kawasan.
Oman dan Qatar turut mengutuk serangan sebagai pelanggaran hukum internasional.
Serangan Meluas ke Kawasan Teluk
Ketegangan juga merembet ke negara-negara Teluk.
Kuwait melaporkan kerusakan besar pada fasilitas minyak dan pembangkit listrik.
Uni Emirat Arab menghentikan sementara operasi gas di Abu Dhabi setelah kebakaran.
Baca juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS-Israel Langgar Gencatan Senjata usai Gempur Lebanon
Qatar menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone dari Iran.
Arab Saudi dan Bahrain turut melaporkan adanya serangan proyektil.
Kondisi ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional yang lebih luas.
AS dan Israel Tegaskan Sikap
Di Washington, kebingungan muncul terkait detail kesepakatan gencatan senjata.
Gedung Putih menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian.
Sementara itu, Netanyahu menyatakan Israel siap kembali berperang kapan saja.
Ia menegaskan target militer Israel belum sepenuhnya tercapai.
Dampak di Lebanon dan Irak
Serangan ini menjadi salah satu hari paling mematikan di Lebanon dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah menutup lembaga publik dan menurunkan bendera sebagai bentuk duka nasional.
Pemimpin Irak dan Prancis mengutuk keras serangan tersebut.
Baca juga: Dunia Soroti Serangan Brutal Israel Sasar Lebanon di Tengah Gencatan Senjata Iran
Mereka menekankan pentingnya menghentikan kekerasan demi melindungi warga sipil.
Di Irak, otoritas menangkap pelaku serangan drone di Erbil.
Serangan itu menewaskan seorang perwira militer Prancis yang tergabung dalam koalisi internasional.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.