Kamis, 21 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Hadapi Tekanan Ekonomi dan Geopolitik yang Makin Keos: Konsekuensi Akibat Agresi ke Iran?

Penasihat Pemimpin Revolusi Iran, Ali Akbar Velayati, menilai Amerika Serikat kini menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik makin besar.

Tayang:
Tribunnews.com/Generated by AI/Grok
ILUSTRASI - Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran yang dibuat menggunakan Grok AI. 
Ringkasan Berita:
  • Iran menilai agresi AS gagal memaksa Teheran tunduk meski disertai perang dan sanksi berkepanjangan.
  • Ali Akbar Velayati menyebut Donald Trump terjebak antara ancaman terhadap Iran dan tekanan ekonomi domestik AS.
  • Ketegangan di kawasan Teluk dan Selat Hormuz disebut terus mengguncang pasar energi serta memicu inflasi global.

TRIBUNNEWS.COM - Perekonomian serta geopolitik Amerika Serikat (AS) disebut dalam posisi sulit, disebut-sebut lantaran konsekuensi agresinya terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Ali Akbar Velayati, penasihat politik Pemimpin Revolusi dan Republik Iran, di tengah berlanjutnya ketegangan kawasan dan perang ekonomi yang melibatkan Washington dan Tel Aviv.

Dalam pernyataannya di platform X pada Rabu (20/5/2026), Velayati mengatakan Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema besar antara melanjutkan ancaman terhadap Iran dan menghadapi kemarahan publik AS akibat kenaikan harga bahan bakar serta inflasi.

“Trump terjebak dalam paradoks ancaman harian terhadap Iran dan pelanggan pompa bensin Amerika yang marah,” tulis Velayati melalui akun X-nya.

Ia menambahkan pemerintah AS membutuhkan stabilitas pasar dan harga energi yang rendah untuk menahan inflasi domestik.

Namun kebijakan eskalasi militer justru memperburuk kondisi tersebut, mengutip Al Mayadeen, Kamis (21/5/2026).

Dampak Konflik AS-Iran Meluas

AS-IRAN - Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan setelah 21 jam bernegosiasi di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam kedua belah pihak melakukan pembicaraan, Minggu (12/4/2026).
AS-IRAN - Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan setelah 21 jam bernegosiasi di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam kedua belah pihak melakukan pembicaraan, Minggu (12/4/2026). (Tribunnews.com/Kolase foto)

Pernyataan itu muncul ketika dampak perang AS-Israel terhadap Iran terus meluas.

Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan ribuan orang, termasuk warga sipil, merusak infrastruktur penting, serta memicu gangguan terhadap pasar energi global.

Teheran juga menilai berbulan-bulan serangan, sanksi, dan operasi yang menargetkan kepemimpinan Iran tidak berhasil memaksakan hasil strategis yang diinginkan Washington maupun Israel terhadap Republik Islam.

Pejabat Iran lainnya, Ebrahim Azizi, yang memimpin Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, turut menyampaikan kritik keras terhadap AS.

Dalam unggahannya di X, Azizi menyatakan “era mempercayai diplomasi AS telah berakhir.”

Azizi menegaskan Iran siap menghadapi berbagai kemungkinan ke depan. Ia juga memperingatkan bahwa AS telah merasakan kekuatan luar biasa Iran.

Azizi juga menyebut AS belum siap menghadapi dampak lanjutan dari konfrontasi tersebut.

Iran selama ini berulang kali menyatakan bahwa konflik di kawasan Asia Barat memperlihatkan batas kekuatan AS, terutama karena ketidakstabilan di sekitar Selat Hormuz dan kawasan Teluk terus memengaruhi harga energi dunia serta memperburuk inflasi global.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved