Minggu, 12 April 2026

5 Populer Internasional: Gencatan Senjata AS-Iran - Daftar 37 Pesawat AS yang Hancur Selama Perang

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran rapuh karena serangan Israel ke Lebanon memicu balasan rudal dari Iran.

Ringkasan Berita:
  • Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran rapuh karena serangan Israel ke Lebanon memicu balasan rudal dari Iran
  • Konflik selama 39 hari membuat militer AS kehilangan 37 pesawat dengan kerugian sekitar Rp28 triliun. 
  • Donald Trump mengancam tarif 50 persen bagi negara yang memasok senjata ke Iran, sementara situasi di Selat Hormuz masih penuh ketidakpastian.

TRIBUNNEWS.COM - Gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi isu utama di kanal Internasional Tribunnews.

Langkah Donald Trump selanjutnya kini menjadi sorotan, apakah melanjutkan perang atau memilih jalur diplomasi.

Di sisi lain, militer AS juga mengalami banyak kerugian dalam perang yang berlangsung lebih dari 40 hari ini.

Selengkapnya, berikut rangkuman berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.

1. Gencatan Senjata Kacau, Israel Serang Lebanon, Iran Membalas, Apa Langkah Trump Selanjutnya?

Serangan Israel di Lebanon pada Rabu (8/4/2026), berupa rentetan sekitar 100 rudal yang menewaskan 254 orang, terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran.

Mengutip NDTV, situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump dihadapkan pada tiga pilihan: melanjutkan perang, mendorong diplomasi, atau menekan PM Israel Benjamin Netanyahu untuk mundur.

Iran menembakkan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk sebagai respons atas serangan Israel, sekaligus melanjutkan blokade Selat Hormuz, jalur yang menangani seperlima perdagangan minyak mentah dunia melalui laut.

Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan harus mencakup Lebanon, tetapi AS dan Israel tidak sependapat.

Trump mengatakan kepada stasiun televisi Amerika, PBS News, pada Rabu (8/4/2026) pagi waktu setempat, bahwa ia memandang setiap serangan terhadap Beirut sebagai konflik kecil yang terpisah.

Ia menambahkan bahwa Lebanon dikecualikan dari gencatan senjata karena keberadaan Hizbullah.

Israel juga tegas menyatakan apa yang diklaimnya sebagai ancaman eksistensial.

Para pejabat menekankan tujuan Netanyahu untuk melemahkan sepenuhnya kemampuan nuklir dan rudal Iran, serta menargetkan Lebanon hingga Hizbullah dilumpuhkan.

Akibatnya, Trump juga harus menghadapi kemarahan dan ketidakpercayaan di dalam Iran.

Kelompok garis keras melihat tindakan Israel sebagai “pengkhianatan” terhadap upaya perdamaian jangka panjang.

Mereka merujuk pada serangan Juni 2025 dan Februari 2026 yang terjadi saat pembicaraan kesepakatan nuklir dan rudal baru, yang kemudian dicap sebagai negosiasi tidak jujur.

Berikut 3 opsi yang dimiliki Trump.

1. Melanjutkan Perang

Menurut NDTV, melanjutkan perang akan memicu kemarahan dari Iran dan sangat mempersulit proses perdamaian.

Serangan militer AS juga berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah dan Asia Barat, memperburuk krisis energi, serta memicu bencana ekonomi global.

Langkah ini pun berisiko secara politik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang, terutama saat tingkat persetujuan publik terhadap Trump sedang tertekan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Perang Iran Bikin Trump Babak Belur, Ini Daftar 37 Pesawat AS yang Hancur hingga Rugi Rp28 T

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran selama 39 hari sejak Februari 2026 meninggalkan kerugian besar bagi militer AS.

Sedikitnya 37 pesawat dilaporkan hancur dan rusak dalam berbagai insiden tempur, dengan total kerugian yang ditanggung pemerintahan Donald Trump diperkirakan mencapai 1,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp28 triliun (Kurs Rp 17.063).

Gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat yang diharapkan menjadi awal meredanya konflik justru diwarnai tudingan pelanggaran dari kedua pihak.

Situasi ini membuat ketegangan di kawasan kembali meningkat, bahkan hanya sehari setelah kesepakatan diumumkan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa terdapat tiga pelanggaran utama yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dan sekutunya.

Pelanggaran pertama, menurut Iran, adalah masih berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon. 

Teheran menilai bahwa konflik di Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata, sehingga setiap serangan yang terjadi dianggap sebagai pelanggaran langsung.

Kedua, Iran menyoroti adanya dugaan aktivitas drone Amerika Serikat yang memasuki wilayah udara Iran setelah kesepakatan diumumkan. Tindakan ini dinilai melanggar klausul yang melarang segala bentuk agresi militer selama masa gencatan senjata.

Ketiga, Iran menuding Amerika Serikat masih menolak hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium. Padahal, isu tersebut menjadi salah satu poin penting dalam proposal damai yang diajukan Iran.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, maka gencatan senjata yang telah disepakati berpotensi runtuh dan upaya negosiasi damai menjadi sulit untuk dilanjutkan.

Kerugian Besar: 37 Pesawat AS Hancur dan Rusak

Situasi ini tidak hanya memperburuk kondisi keamanan kawasan, tetapi juga berdampak langsung pada kerugian besar yang dialami militer Amerika Serikat.

Dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat dilaporkan kehilangan puluhan aset udara selama konflik berlangsung.

Sedikitnya 37 pesawat disebut hancur maupun mengalami kerusakan dalam berbagai insiden, mulai dari serangan langsung hingga kecelakaan operasional.

Kerugian tersebut mencakup berbagai jenis armada, mulai dari jet tempur, drone, pesawat pengintai, hingga pesawat tanker.

Beberapa di antaranya hancur akibat serangan sistem pertahanan Iran, sementara lainnya rusak akibat serangan rudal, drone, maupun insiden kesalahan teknis di lapangan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Trump Ngamuk! Negara yang Pasok Senjata ke Iran Siap Dikenai Sanksi Tarif 50 Persen

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman baru berupa tarif impor sebesar 50 persen terhadap negara-negara yang memasok senjata militer ke Iran.

Kebijakan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran pada Rabu (8/4/2026).

Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa semua negara yang terbukti memasok senjata ke Iran akan langsung dikenakan tarif tinggi tanpa pengecualian.

“Negara yang memasok senjata militer ke Iran akan dikenakan tarif 50 persen untuk semua barang yang masuk ke Amerika Serikat. Berlaku segera, tanpa pengecualian,” tulis Trump, dikutip dari Al Jazeera.

Rencananya kebijakan ini mencakup seluruh jenis barang impor dari negara terkait, bukan hanya produk militer, sehingga berpotensi berdampak luas pada perdagangan internasional.

Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal keras Washington untuk menekan dukungan militer terhadap Teheran di tengah situasi geopolitik yang masih memanas.

China dan Rusia Jadi Sorotan

Ancaman tarif 50 persen yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap negara pemasok senjata ke Iran turut menyeret perhatian pada dua kekuatan besar dunia, yakni China dan Rusia.

Meskipun tidak menyebutkan nama negara secara langsung, sejumlah analis menilai bahwa kebijakan tersebut secara implisit mengarah pada Beijing dan Moskow.

Keduanya selama ini kerap dituduh oleh Washington memiliki peran dalam memperkuat kapasitas militer Iran di tengah tekanan geopolitik kawasan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Israel Klaim Membunuh Keponakan dan Sekretaris Pribadi Pemimpin Hizbullah Naim Qassem

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah membunuh keponakan sekaligus sekretaris pribadi pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam serangan pada Rabu (8/4/2026) di Beirut, Lebanon.

Mengutip The Guardian, dalam unggahan di media sosial pada Kamis (9/4/2026), IDF menyatakan:

“Kemarin (Rabu), IDF menyerang wilayah Beirut dan menewaskan Ali Yusuf Harshi, sekretaris pribadi sekaligus keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem.”

Harshi disebut sebagai rekan dekat dan penasihat pribadi Qassem yang berperan penting dalam mengelola serta mengamankan aktivitas kantornya.

Hingga kini, Hizbullah belum memberikan komentar atas klaim tersebut.

Israel Gempur Lebanon

Sebelumnya, kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, mengaku telah menembakkan roket ke arah Israel sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata AS-Iran.

Hizbullah menyatakan memiliki hak untuk membalas serangan Israel di wilayah Lebanon.

“Sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh, kami menargetkan kibbutz Israel di Manara dekat perbatasan Lebanon dengan rentetan roket pada Kamis pagi,” ujar Hizbullah dalam sebuah pernyataan, dikutip dari NDTV.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata antara AS dan Iran.

Namun, Pakistan sebagai mediator memiliki pandangan berbeda.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut juga mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. 2 Kapal Tanker China Bergabung dalam Antrean untuk Menguji Jalur Keluar Selat Hormuz

Dua kapal tanker minyak milik China yang bermuatan penuh tengah menunggu di dekat Selat Hormuz, menempatkan mereka pada posisi untuk menjadi kapal pertama yang meninggalkan Teluk Persia di bawah gencatan senjata AS-Iran yang baru berlaku sehari.

Dilansir Bloomberg, Cospearl Lake, kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) yang terkait dengan perusahaan pelayaran milik negara China, Cosco Shipping Corp., dan He Rong Hai, yang dimiliki entitas lebih kecil, terlihat berlayar ke timur pada Kamis (9/4/2026) pagi dengan kecepatan tinggi berdasarkan data pelacakan kapal, sebelum akhirnya berhenti.

Kedua kapal tersebut menunjukkan identitas kepemilikan China dalam sistem pelacakan mereka, langkah yang biasanya dilakukan untuk alasan keselamatan selama transit yang disetujui Iran.

Kapal-kapal ini merupakan bagian dari armada yang semakin besar yang berkumpul di pintu masuk selat, di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Sebuah VLCC berbendera Arab Saudi, Jaham, juga bergerak ke timur menuju area penampungan di lepas pantai Dubai.

Mereka bergabung dengan dua kapal tanker super berbendera India yang telah berada di kawasan tersebut sejak akhir Maret, yakni Desh Vibhor di lepas pantai Ras Al Khaimah dan Desh Vaibhav di dekat Dubai.

Iran dan AS sebenarnya telah sepakat menghentikan pertempuran sementara sebagai imbalan atas pembukaan selat, tetapi detail implementasinya masih belum jelas.

Serangan yang terus berlanjut, terutama oleh Israel di Lebanon, menimbulkan keraguan terhadap efektivitas gencatan senjata.

Sejak pengumuman gencatan senjata dan rencana pembukaan selat sehari sebelumnya, lalu lintas kapal masih hampir tidak berubah.

Pergerakan kapal-kapal China dan Saudi di sepanjang Teluk menunjukkan niat untuk melintasi selat setelah terjebak selama berminggu-minggu, tetapi kelanjutan perjalanan mereka masih belum pasti.

Para pemilik kapal mengatakan pada Kamis bahwa mereka masih menunggu kejelasan mengenai prosedur pelayaran yang aman.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved