Kamis, 16 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pengamat Nilai Gencatan Senjata AS–Iran Rapuh, Singgung Sikap Trump Jelang Pemilu Sela

Pengamat nilai gencatan senjata AS–Israel–Iran rapuh dan hanya jeda singkat, dipengaruhi kepentingan politik domestik AS.

Ringkasan Berita:
  • Pengamat militer Anton Aliabbas menilai gencatan senjata AS–Israel–Iran yang diinisiasi Donald Trump sangat rapuh dan hanya bersifat jeda sementara. 
  • Durasi dua minggu dinilai tidak realistis untuk konflik kompleks. Ia juga menyoroti dugaan kepentingan politik domestik AS di balik kesepakatan tersebut.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas menilai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang diinisiasi Donald Trump bersifat sangat rapuh. 

Anton memandang bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah gencatan senjata permanen (ceasefire), melainkan hanya sebuah jeda singkat atau pause di tengah ketegangan yang masih membara. 

Anton menyebut hal ini didasari pada durasi kesepakatan yang hanya dipatok selama dua minggu, waktu yang dianggap sangat mustahil untuk menyelesaikan konflik sedalam itu. 

Hal itu disampaikan Anton saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews, Jumat (10/4/2026). 

"Amerika dulu bicara soal nuklir saja butuh waktu 19 bulan untuk berunding. Sekarang, masalah nuklir dan perang regional dikasih deadline dua minggu. Ini kayaknya bisa gagal lagi," ujar Anton. 

Ia membeberkan bahwa Trump awalnya mengusulkan 15 poin kesepakatan pada 23 September, namun Iran merespons dengan 5 poin hingga akhirnya berkembang menjadi 10 poin yang alot diperdebatkan. 

Anton mencium adanya motif politik domestik Amerika Serikat di balik langkah agresif Trump dalam menginisiasi perundingan singkat ini. 

Menurutnya, Trump tengah berupaya mengambil hati para donatur besar yang berafiliasi dengan Israel demi menyongsong Pemilu Sela Amerika Serikat pada November mendatang. 

"Trump menghadapi Pemilu Sela pada November dan itu membutuhkan pendanaan kampanye yang besar. Siapa salah satu donaturnya? Adalah link-nya Israel," ungkap Anton. 

Maka dari itu, Trump dianggap memiliki kepentingan mutual dengan Israel; Israel butuh backup militer AS, sementara Trump butuh dukungan finansial dari lobi-lobi pro-Israel. 

Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran Buat Ukraina Galau, Kunjungan Utusan Trump ke Kyiv Menggantung

Dinamika ini membuat perundingan menjadi tidak murni untuk perdamaian dunia, melainkan sarat dengan kepentingan kekuasaan di Washington. 

"Jadi pertempuran ini tidak lepas dari urusan domestik Amerika. Dinamika ini yang membuat posisi perundingan di Islamabad nanti menjadi sangat kompleks," pungkasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved