Iran Vs Amerika Memanas
Analis: Guncangan Energi Bakal Lebih Berat, Terlihat dari Tren Harga Minyak Terbaru
Harga minyak melonjak, tapi analis nilai krisis energi global jauh lebih parah dari yang tercermin di pasar saat ini.
Ringkasan Berita:
- Analis memperingatkan krisis pasokan saat ini jauh lebih dalam.
- Pada Minggu (12/4/2026), harga minyak acuan dunia naik lebih dari 8 persen hingga menembus 103 dolar AS per barel.
- Selisih tajam ini menunjukkan adanya defisit pasokan riil yang kian memburuk.
TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak global melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir, dipicu gangguan pasokan dan eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Analis menilai kenaikan ini belum mencerminkan krisis sebenarnya, karena kelangkaan pasokan fisik jauh lebih dalam dari yang terlihat di pasar.
Dalam enam minggu sejak konflik Amerika Serikat dan Iran memanas, harga minyak melonjak tajam dan menekan biaya energi global.
Pada Minggu (12/4/2026), harga minyak acuan dunia naik lebih dari 8 persen hingga menembus 103 dolar AS per barel setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan rencana blokade Iran, menurut Al Jazeera.
Namun, pergerakan harga tersebut hanya mencerminkan sebagian dari tekanan yang terjadi di lapangan.
Baca juga: Gencatan Senjata Tak Mampu Redam Gejolak, Harga Minyak Meledak, Saham Asia dan Global Ikut Tertekan
Harga minyak fisik (spot) melonjak jauh lebih tinggi dibanding harga kontrak berjangka (futures), menandakan pasokan langsung semakin langka.
Patokan Dated Brent bahkan sempat menembus 144 dolar AS per barel, sekitar 35 dolar lebih tinggi dibanding harga futures.
Selisih tajam ini menunjukkan adanya defisit pasokan riil yang kian memburuk.
“Pembeli bersedia membayar premi tinggi untuk minyak yang tersedia segera,” kata analis Raymond James, Pavel Molchanov, seperti dikutip Al Jazeera.
Tekanan utama berasal dari terganggunya distribusi di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal anjlok dari sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik menjadi hanya belasan kapal.
Kondisi ini menciptakan kekurangan pasokan global hingga jutaan barel per hari, meski jalur alternatif mulai digunakan.
Analis menilai pasar berjangka masih menahan kenaikan karena spekulasi krisis akan mereda dalam waktu dekat.
Namun di sisi lain, kondisi riil menunjukkan tekanan pasokan yang terus meningkat.
Adi Imsirovic dari Universitas Oxford menilai banyak pemerintah belum sepenuhnya menyadari skala guncangan energi ini.